Oleh Ummu Nizam
Aktivis Muslimah
Kejadian tragis terjadi di Bali
Jumat dini hari, 24 Juli 2026, seorang pria berinisial KD tewas di tangan massa. Insiden naas itu terjadi Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Warga mengeroyok KD karena diduga mencuri ayam aduan (Kompas.com, 27 Juli 2026). Kini KD meninggalkan seorang anak yang harus hidup tanpa sosok ayah.
Desakan dari Komnas HAM
Komnas HAM meminta agar kasus ini diusut sampai ke akar-akarnya. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, saat dihubungi pada Senin 27 Juli 2026 mengatakan, "Seharusnya warga tidak main hakim sendiri. Dalam hukum kita mengenal asas praduga tidak bersalah."
Setiap orang wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Karena itu aksi main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan, apalagi sampai merenggut nyawa orang lain.
Mari kita pikir bersama. Seberapa murahkah nilai seorang manusia saat ini? Atau jangan-jangan, ada yang keliru dengan cara kita hidup di lingkungan sosial, sampai-sampai orang kelaparan harus mempertaruhkan nyawanya di tangan amarah orang-orang yang juga sama-sama tertekan oleh keadaan?
Kalau kita bedah tragedi yang bikin hati remuk ini dengan perspektif Islam, kita akan sadar masalahnya jauh lebih dalam dari sekadar "maling" dan "main hakim sendiri."
Dalam Islam, kemiskinan dan kejahatan tidak dilihat sebagai kesalahan pribadi saja. Ini persoalan sistem. Ada dua cermin besar yang memantulkan wajah realitas kita:
Pertama: Kewajiban negara dalam urusan ekonomi
Negara punya tanggung jawab memastikan tiap warga tercukupi kebutuhan dasarnya: makan, pakaian, tempat tinggal. Jika ada seorang ayah yang mencuri seekor ayam karena anaknya menangis kelaparan, Islam tidak akan langsung menjatuhkan hukuman potong tangan.
Kenapa? Karena kondisi lapar itu termasuk syubhat — keadaan darurat yang bisa menggugurkan hukuman. Sebelum menghukum orang lapar, negara lah yang harus lebih dulu diadili.
Kedua: Sistem sanksi dan larangan main hakim sendiri
Tindakan main hakim sendiri adalah kezaliman besar dalam Islam. Orang-orang yang merenggut nyawa bapak itu, kelak harus diadili dengan hukum qishash dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Melihat isak tangis bocah di Bali yang kehilangan ayahnya, kita tidak sedang menyaksikan duka satu keluarga saja. Kita sedang melihat wajah kelam dari sebuah sistem yang gagal menghargai kemanusiaan. Dalam sistem kapitalis hari ini, orang kaya terus menumpuk harta, sementara orang miskin bisa kehilangan nyawa hanya demi sepotong ayam untuk mengisi perut.
Kita butuh sistem yang benar-benar rahmatan lil ‘alamin. Sistem yang mengisi perut yang kosong, mendidik masyarakat agar tidak brutal, dan punya aparat hukum yang adil sehingga tidak ada lagi warga yang merasa berhak menghakimi dan membunuh sesamanya. Sistem itu adalah sistem Islam di bawah naungan khilafah.
Semoga negeri ini segera tersadar. Sistem yang mengabaikan keadilan dan mengabaikan perut rakyat, cepat atau lambat pasti akan melahirkan tragedi-tragedi baru lagi.