Karhutla: Rakyat Sengsara, Bisnis Penguasa Menggurita

Marlina
Oleh Marlina
(Pegiat Literasi) 


Tersangka kebakaran hutan (karhutla) telah ditetapkan sebanyak 72 orang. Tersangka bertanggung jawab atas karhutla Kalimantan, Sumatera Selatan (SumSel) hingga Provinsi Riau. Kuat dugaan bahwa kebakaran tersebut dilakukan secara sengaja oleh para tersangka. Dugaan ini diperkuat dengan sejumlah barang bukti yang diamankan petugas, di antaranya 35 buah korek api, sebuah botol plastik berisi bahan bakar solar, serta dua jerigen berkapasitas masing-masing 10 liter. Temuan tersebut mengarah pada dugaan bahwa pembakaran dilakukan sebagai bagian dari upaya pembukaan lahan. Praktik semacam ini bukan lagi hal yang asing, mengingat lahan yang telah terbakar kerap kemudian dimanfaatkan untuk penanaman kelapa sawit. (news.detik.com)

Di sisi lain, sepanjang Januari hingga Agustus 2026 luas lahan yang terbakar di Provinsi Riau mencapai 16.277,50 hektare. Dalam periode yang sama, titik panas terdeteksi sebanyak 10.514 dengan 521 titik diantaranya telah terkonfirmasi sebagai titik api. (presiden.go.id)

Selain itu, kebakaran hutan tidak hanya terjadi di Provinsi Kalimantan dan sekitarnya. Namun terjadi juga di Provinsi Papua. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga 23 Agustus 2026 mencapai 2.890 titik panas. Papua Selatan mengalami titik panas terbanyak yaitu mencapai 1.225.

Kondisi sejumlah wilayah yang mengalami karhutla memicu mulainya kabut asap hingga lintas negara yang memperburuk kualitas udara. Terhitung sampai tanggal 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar tercatat 48.8889,69 hektar. Operasi satgas darat ditekankan sebagai ujung tombak utama penanganan karhutla yang didukung helikopter bombing. Indikasi pembakaran ini sengaja dilakukan untuk membuka lahan perkebunan baru.

Hutan Komoditas Kapitalisme

Karhutla tidak hanya disebabkan oleh musim kemarau yang berlangsung relatif panjang. Berdasarkan berbagai motif dan indikasi yang ditemukan, terdapat dugaan bahwa kebakaran hutan dan lahan juga berkaitan dengan kepentingan pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Luasnya hutan Kalimantan menjadi pesona para kapitalis untuk memanfaatkannya, yakni menjadikan hutan Kalimantan beralih fungsi menjadi kawasan hutan berpenghasilan alias berubah menjadi lahan bisnis.

Di sisi lain, sebuah akun media sosial mengunggah video yang memperlihatkan sejumlah orang membawa bibit kelapa sawit di tengah area yang dipenuhi kayu yang hangus terbakar. Kondisi tersebut semestinya mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah cepat dan serius dalam menangani kebakaran yang terus meluas. Masyarakat dan relawan seharusnya tidak dibiarkan berjuang memadamkan api hanya dengan peralatan seadanya. Jika pemerintah benar-benar berkomitmen dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penambahan armada serta dukungan peralatan bagi satuan tugas penanggulangan kebakaran tentu dapat dilakukan untuk mempercepat proses pemadaman..

Hal ini menunjukkan bahwa karhutla bukan semata-mata persoalan alam yang terjadi secara berulang, tetapi juga berkaitan erat dengan bagaimana sumber daya alam dikelola. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga perlu melihat sistem dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang diterapkan. Dalam sistem kapitalisme, sumber daya alam cenderung dipandang sebagai komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa selalu mempertimbangkan dampak ekologis maupun kehidupan masyarakat di sekitarnya. Orientasi yang lebih menitikberatkan pada aspek ekonomi membuat luas lahan dan besarnya produksi menjadi ukuran utama untuk meningkatkan keuntungan, sementara kerusakan lingkungan dan dampaknya terhadap masyarakat seringkali terabaikan.

Dengan begitu, jika keuntungan menjadi prioritas maka aspek ekologis juga keselamatan masyarakat akan terabaikan. Membuka lahan dengan membakarnya tentu menjadi pilihan mudah dan murah. Sementara keuntungan yang didapat akan dinikmati oleh kelompok tertentu. Dampak kerusakan ditanggung masyarakat. Kerusakan hutan ini tidak bisa diselesaikan cukup dengan memadamkan api, tetapi harus sampai pada akar masalahnya, yakni pengelolaan hutan sebagai sumber daya alam dimanfaatkan dengan baik.

Kondisi sekarang sulit menemukan pemimpin yang amanah dalam mengelola alam dengan baik. Karena sistem kepemimpinannya tegak dalam sistem sekuler yang jauh dari nilai ruhiyyah. Jabatan kekuasan digunakan untuk keserakahan bukan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Hutan dalam Syariat Islam

Hutan dalam pandangan Islam adalah kepemilikan umum, sehingga tidak boleh seseorang atau kelompok menguasainya. Negara berperan sebagai pengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya, kemudian manfaatnya diberikan kepada masyarakat. Sebagai kepemilikan umum tentu tidak boleh menjadi komoditas bisnis. Bahkan, negara secara tegas akan menindak siapapun yang merusak. Negara akan mencegah eksploitasi alam yang bisa menimbulkan mudarat. Pemanfaatan hutan akan dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan kerusakan.

Pemimpin dalam Islam akan menjalankan fungsi sebagai pelayan rakyat. Amanahnya adalah mengurusi urusan masyarakat dan melindungi mereka. Kekuasaan bagi mereka bukan mengejar keuntungan dunia melainkan bentuk amanah yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Swt.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ"

“Setiap kalian adalah pemimpin (raa'in), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Alhasil, negara tidak cukup memadamkan api saja, namun harus mencegah penyebab kerusakan sejak dini, merawat sumber daya alam, memberikan sanksi tegas bagi pelaku, serta memberikan perlindungan untuk rakyat. Karhutla seharusnya menjadi momentum evaluasi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya alam. Jika paradigma pemimpin tidak berubah, maka hutan akan dipandang komoditas bisnis. Namun, hal ini berubah jika pandangan terhadap hutan adalah sebagai sumber daya alam untuk kemaslahatan masyarakat. Karhutla akan tuntas sampai ke akarnya, tatkala Islam dijadikan sistem untuk mengatur kehidupan. Wallahu’alam bishawab.[]

 

 

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,96,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,2,Depok,1,Dharmasraya,43,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,256,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,215,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,207,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,818,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,4,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,5,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,658,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Karhutla: Rakyat Sengsara, Bisnis Penguasa Menggurita
Karhutla: Rakyat Sengsara, Bisnis Penguasa Menggurita
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz7wkX9JMwLYNeyOlYlKhy-V3qknazj_l7ILi6JfyzZnsksYVziqXCO0Wb1gwW-GcIlaUvtVR2Y9bAO4bq0s1Z4O_PfxnbKMosfUmwbZGSM_x4811XQUYSkmYXxjgn6tTaHbApEE2hkC6_XH0lCMf-dhftBykkCsCbVsAX4LS34bJB4hLxMxRzz3ew6p53/w640-h360/1000754174.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz7wkX9JMwLYNeyOlYlKhy-V3qknazj_l7ILi6JfyzZnsksYVziqXCO0Wb1gwW-GcIlaUvtVR2Y9bAO4bq0s1Z4O_PfxnbKMosfUmwbZGSM_x4811XQUYSkmYXxjgn6tTaHbApEE2hkC6_XH0lCMf-dhftBykkCsCbVsAX4LS34bJB4hLxMxRzz3ew6p53/s72-w640-c-h360/1000754174.jpg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/09/karhutla-rakyat-sengsara-bisnis.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/09/karhutla-rakyat-sengsara-bisnis.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content