Oleh Opi Ummu Shofwan
Aktivis Muslimah
Israel kembali menunjukkan watak aslinya sebagai penjajah. Berdasarkan laporan Associated Press, Selasa (21/7/2026), Tel Aviv diam-diam telah membangun tembok tanah raksasa sepanjang 23 km yang membelah lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Citra satelit mengonfirmasi proyek ini dikerjakan dalam beberapa bulan terakhir. Tembok tersebut melintasi permukiman Palestina yang sudah rata dengan tanah akibat bombardir, di wilayah yang masih dihuni lebih dari dua juta penduduk. Pembangunan ini bukan soal keamanan. Ini soal aneksasi. Israel sedang mematok batas permanen, memisahkan Gaza secara fisik, dan mengubur harapan kemerdekaan Palestina lebih dalam lagi.
Logika penjajahan itu sederhana: siapa yang membangun tembok di tanah orang, berarti ia berniat menguasainya selamanya.
Tembok 23 km ini menegaskan ambisi Zionis untuk menguasai Gaza hingga tak bersisa. Ia memotong akses, memisahkan keluarga, dan mengubah Gaza menjadi kantong-kantong penjara yang terisolasi. Selama 77 tahun Israel sudah membuktikan: ia tidak akan pernah memberikan kemerdekaan kepada Palestina, berapapun resolusi PBB dan berapapun kecaman dunia. Ironisnya, di saat Israel membangun tembok, narasi "Board of Peace" dan "New Gaza" terus digaungkan. Proyek rekonstruksi, investasi, normalisasi.
Tapi semua itu omong kosong. Itu propaganda untuk menipu dunia agar menerima "Gaza versi Israel": tanpa kedaulatan, tanpa tentara, tanpa hak menentukan nasib sendiri. Berharap kemerdekaan dan pengakuan negara Palestina datang dari Israel adalah ilusi. Penjajah tidak akan pernah memberikan kunci rumah yang ia rampas.
Lalu apa yang harus dilakukan umat Islam?
Pertama, berhenti tertipu. Umat tidak boleh lagi percaya pada solusi dari negara kafir penjajah. Baik itu "proses damai", "dua negara", maupun "New Gaza".
Kedua, tegaskan hukumnya. Berdamai dengan entitas Zionis Israel hukumnya haram. Sementara membebaskan Palestina dengan jihad hukumnya fardhu kifayah atas seluruh umat Islam.
Kendalanya satu: hari ini tidak ada institusi yang bisa menggerakkan jihad secara kolektif. Ketiadaan khilafah membuat umat Islam lumpuh. Tidak ada panglima, tidak ada tentara, tidak ada politik luar negeri Islam.
Ketiga, bongkar pengkhianatan penguasa muslim. Sebagian sibuk normalisasi. Sebagian menutup perbatasan. Padahal yang Gaza butuhkan bukan hanya bantuan, tapi pasukan pembebas.
Karena itu umat harus fokus pada perjuangan pokok: mengembalikan khilafah. Khilafah yang akan menjadi junnah - perisai - bagi Palestina dan seluruh umat Islam.
Keempat, persatuan di bawah khilafah adalah Kunci
Sejarah mencatat. Selama 400 tahun di bawah Khilafah Utsmani, Palestina aman. Tidak ada tembok, tidak ada pemukim liar. Karena ada satu negara, satu komando. Israel berani membangun tembok hari ini karena ia tahu umat Islam terpecah dalam puluhan negara.
Maka solusinya jelas: persatukan kembali umat di bawah kepemimpinan khilafah. Hanya dengan itulah tembok-tembok penjajahan akan dirobohkan, Gaza merdeka, dan Al-Aqsa bebas. Tembok 23 km ini seharusnya jadi tamparan. Cukup sudah diplomasi. Saatnya umat bangkit menuntut penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah.
Wallahu a'lam bish shawab
