![]() |
| Oleh Rismawati Aisyacheng (Pegiat Literasi) |
Penderitaan yang dialami oleh Warga Palestina sejak beberapa tahun terakhir ini ternyata belum usai. Bahkan terdengar dan terlihat di berbagai media sosial milik warga Palestina penderitaan yang mereka alami atas kekejaman Zionis Israel semakin brutal. Selain itu, saat ini terdengar bahwa Warga Palestina di Gaza terancam akan terusir karena saat ini petinggi Zionis Israel sedang merencanakan pengusiran besar-besaran kepada Warga Palestina di jalur Gaza.
Sebagaimana yang di lansir oleh metrotvnews.com, (04/09/2026) bahwa Menteri Keamanan Nasional Israel, sekaligus pemimpin partai sayap kanan Jewish Power, Itamar Ben-Gvir, telah mengungkapkan rencana untuk mengeluarkan sebanyak 1,86 juta jiwa warga Palestina di jalur Gaza dengan dalih “migrasi sukarela”. Selain itu, ia juga kembali menerobos masuk ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Kemudian menyerukan untuk dilakukan pembangunan kuil Yahudi di lokasi tersebut.
Adapun rencana Itamar Ben-Gvir tersebut ternyata sejalan dengan kebijakan pemerintahan Israel saat ini. Karena Menteri Pertahanan Israel, Katz, juga telah mengungkapkan bahwa pemerintahnya telah menyiapkan rencana pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza, tetapi masih menunggu persetujuan Amerika Serikat. Ia memang telah mengatakan tidak ada lagi solusi untuk Gaza saat ini jika warga Palestina dari wilayah tersebut tidak di pindahkan. Bahkan sampai pemerintahan Israel itu sendiri mengatakan bahwa pemerintahannya itu terorganisir dan kapan saja siap untuk mengeluarkan orang-orang Palestina di jalur Gaza dengan berbagai cara yaitu lewat laut, dan udara dengan segala cara yang memungkinkan untuk mereka lakukan. (news.detik.com, 03/09/2026).
Fakta-fakta tersebut menjadi konsekuensi logis dalam sistem negara-bangsa (nation-state) dan absennya otoritas kepemimpinan sistem politik Islam dalam menyatukan kekuatan besar seluruh kaum Muslimin untuk mengusir para penjajah Zionis. Oleh karena itu, kaum muslim di seluruh penjuru dunia kekuatannya melemah, dan dunia saat ini telah di kuasai oleh politik kapitalis milik negeri-negeri penjajah yang juga menyandang status sebagai negara adidaya. Sehingga mereka seolah berkuasa atas nasib baik buruknya manusia, sebagaimana yang mereka lakukan pada Warga Palestina selama beberapa dekade.
Selain itu, hukum internasional modern milik negara-negara imperialis Barat justru menormalisasi tindakan penjajahan melalui istilah-istilah halus seperti “migrasi sukarela”. Seolah ingin bersembunyi dibalik buruknya perilaku mereka dan bersembunyi di balik dukungan mereka terhadap para penjajah. Sehingga dengan manisnya mengeluarkan kata bahwa Warga Gaza akan melakukan migrasi sukarela, padahal mereka sedang merencanakan pengusiran paksa terhadap Warga Palestina di Jalur Gaza untuk melakukan pembangunan Kuil Yahudi di daerah tersebut.
Adapun dari fakta bahwa Israel menunggu persetujuan Amerika Serikat untuk melakukan pengusiran tersebut, menggambarkan fakta bahwa pihak Israel sangat bergantung pada negara AS dalam melakukan keputusan. Oleh karena itu, dilihat dari ketergantungannya Israel pada persetujuan AS menunjukkan bahwa negara Israel sebenarnya adalah proyek kolonial yang disponsori kekuatan besar, bukan entitas berdaulat independen. Maka tanpa dukungan kuat dari negara Barat atau Amerika Serikat, Israel sebenarnya bukanlah apa-apa dan tak punya kekuatan apa pun dimata dunia atau dimata kaum Muslimin.
Oleh karena itu, solusi mendasar atas persoalan Palestina saat ini adalah pembentukan kembali Politik Islam dalam sistem Islam yang di naungi oleh institusi besar yaitu Daulah Islam atau Khilafah sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi setiap jiwa dan setiap jengkal tanah kaum Muslimin. Sebab, dalam Politik Islam, pemimpin itu adalah perisai yang wajib melindungi siapa saja yang bernaung dibelakannya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan bahwa:
“Sesungguhnya imam itu adalah perisai; orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka dari itu, dalam perspektif politik Islam, adanya sebuah negara bukan sekadar mengatur administrasi saja atau sekedar memerintah seenaknya saja. Tetapi negara itu bertanggung jawab menjaga keamanan, kehormatan, dan kepentingan untuk rakyat serta melindungi kaum Muslimin dari bahaya musuh yang per individu maupun musuh dari suatu negara besar.
Selain itu, dalam sistem Islam dikenal juga sebuah metode (thariqah) yaitu Jihad sebagai metode baku politik luar negeri pada negara Islam untuk membebaskan tanah yang dijajah dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia. Adapun, pelaksanaannya berada di bawah kewenangan negara melalui institusi militer resmi, bukan hanya sekedar tindakan perseorangan saja atau melalui kelompok-kelompok tanpa otoritas. Dengan demikian, maka pembebasan Warga Palestina akan menjadi hal urgen dilakukan, sebagai tanggung jawab negara Islam dalam melindungi kaum Muslimin.
Namun bagaimanapun, kekuatan politik tidak akan kokoh tanpa kemandirian dalam penanganan ekonomi. Karena negara yang hanya bergantung pada bantuan dan terikat oleh tekanan kekuatan besar akan sulit menjalankan politik secara independen. Sehingga negara membutuhkan pengelolaan mandiri pada sumber daya alam yang mereka miliki seperti kepemilikan umum di antaranya ada minyak dan gas, jika dikelola untuk kemaslahatan umat, maka kekayaan itu akan menjadi salah satu basis kemandirian ekonomi dan pertahanan untuk sebuah negara.
Oleh karena itu, jika ingin mencapai perubahan besar untuk menolong Palestina hari ini, umat wajib mengambil bagian dalam perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Daulah Islam yang sesuai dengan metode perjuangan Rasulullah ﷺ. Karena hanya dengan mengikuti metode atau jejak manusia mulia itu umat akan memiliki politik yang terarah yang mampu menjadi perisai seluruh kaum Muslimin khususnya di Palestina. Sehingga mereka tak perlu merasakan penderitaan, ketakutan dan pengusiran dari tanah mereka sendiri. Wallahu a’lam bissawwab[]
