Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Aktivis Muslimah
SURABAYA, Ahad 9 Agustus 2026, Di bawah langit yang teduh, jalanan kota tak lagi sekadar dilalui kendaraan. Ia menjadi saksi. Saksi dari langkah-langkah yang digerakkan oleh cinta. Bukan cinta yang membutakan, tapi cinta yang menjaga.
Ribuan insan tumpah ruah. Ada ayah yang menggandeng anaknya. Ada ibu yang menuntun putrinya. Ada para pemuda yang mengibarkan bendera tauhid tinggi-tinggi. Mereka datang bukan untuk membenci, tapi untuk menyayangi. Menyayangi negeri ini. Menyayangi generasi yang sedang bertumbuh.
Inilah "Aksi Peduli Generasi: Bebaskan Indonesia dari Ancaman dan Kejahatan LGBT" yang digagas Aliansi Umat Peduli Generasi.
Tangis Jalanan, Harap di Panggung
Spanduk terbentang. Poster diangkat tinggi.
"CINTAI SESAMA MANUSIA, TAPI BUKAN SESAMA JENISMU"
"AREK-AREK SUROBOYO MENOLAK LGBT"
"SELAMATKAN INDONESIA"
Tak ada teriakan kebencian. Yang ada hanya gema takbir, "Allahu Akbar", yang memecah pagi, mengingatkan bahwa ada Tuhan yang Maha Melihat dan Maha Mengatur.
Dari atas panggung, suara para ulama dan tokoh umat menggema, lembut namun tegas "Wahai umat... setiap jiwa mulia. Jangan zalimi, jangan hina. Tapi ingat, sayang itu bukan berarti membiarkan. Sayang itu mengingatkan."
Mereka mengutip firman Allah sebagai pengingat:
"Dan Kami telah mengutus Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: Mengapa kamu melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di alam ini? Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas." (QS. Al-A'raf: 80-81)
"Ini bukan tentang individu. Ini tentang fitrah. Tentang bagaimana Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Tentang bagaimana sebuah peradaban dijaga dari kehancuran."
Seruan dari Hati Seorang Ibu dan Ayah
Aksi ini lahir dari keresahan. Keresahan orang tua yang takut anaknya kehilangan arah. Keresahan guru yang takut muridnya salah jalan. Keresahan masyarakat yang ingin negerinya tetap berpegang pada adab, norma, dan agama.
Tuntutannya sederhana, tetapi dalam:
1. Tolak segala bentuk penyimpangan dan jangan pernah dinormalkan.
2. Tegakkan hukum yang melindungi keluarga dan moral bangsa.
3. Kembalikan umat pada syariah sebagai jalan selamat dunia dan akhirat.
Karena Allah juga berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (QS. At-Tahrim: 6)
Surabaya, 9 Agustus 2026 Sebuah Catatan Cinta
Aksi berakhir dengan doa. Tangan-tangan terangkat, memohon pada Sang Pemilik Hati agar Indonesia dijaga. Agar generasi ini tidak tersesat.
Hari itu, Surabaya tidak sedang berkonflik. Surabaya sedang "menjaga". Menjaga dengan cara yang paling beradab, berjalan bersama, bersuara bersama, dan berdoa bersama.
Karena menyelamatkan generasi adalah ibadah yang paling panjang.
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104)
Wallahu'alam bi showab
