Oleh Rukmini
Aktivis Muslimah
Wacana pelucutan senjata kembali mengemuka. Dilansir AFP pada 31/7/2026, Donald Trump mengumumkan bahwa pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lain di Gaza adalah langkah "monumental" menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng. Setelah itu, tentara zionis Israel akan diminta mundur dari Gaza dan digantikan oleh Pasukan Stabilitas Internasional yang bekerja sama dengan polisi Palestina yang baru.
Narasi ini terdengar indah. Perdamaian, keamanan, dan pemerintahan baru. Namun faktanya, serangan zionis Israel tetap berlanjut meskipun Hamas telah menyatakan kesediaan untuk berunding terkait pelucutan senjata.
Jika tujuannya benar-benar perdamaian, mengapa kekerasan tidak dihentikan terlebih dahulu? Jika tujuannya keamanan, mengapa yang ditarget pertama kali adalah senjata perlawanan, bukan penjajah?
Fakta: Pelucutan Senjata di Tengah Genosida
Berdasarkan pernyataan resmi, skema yang ditawarkan adalah: Hamas dan seluruh kelompok bersenjata di Gaza menyerahkan senjatanya. Setelah itu, zionis Israel akan menarik pasukannya. Selanjutnya, Pasukan Stabilitas Internasional akan masuk bersama dengan aparat keamanan Palestina yang baru untuk mengambil alih tanggung jawab atas Gaza. idntimes.com, Minggu (02/08/2026)
Namun di lapangan, narasi itu tidak sejalan dengan realita. Serangan militer zionis Israel tidak berhenti. Pemboman, perampasan tanah, dan genosida terus berjalan. Bahkan bersamaan dengan itu, proyek "New Gaza" terus digencarkan dengan menggunakan aktor-aktor lokal agar lebih mudah diterima oleh penduduk. Propagandanya pun dibungkus dengan kalimat "demi penyelamatan penduduk Gaza".
Pertanyaannya: mengapa "penyelamatan" ini baru dilakukan sekarang, di saat puluhan ribu warga sipil telah menjadi korban? Mengapa tidak dari awal penjajahan? Jawabannya jelas. Ini bukan tentang kemanusiaan, ini tentang bagaimana melanggengkan penjajahan dengan wajah baru.
Analisis: Pelucutan Senjata Adalah Strategi Melemahkan
Pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata di Gaza sejatinya bukan jalan menuju perdamaian. Ia adalah siasat politik AS dan zionis Israel melalui kerangka Board of Peace / BoP untuk melemahkan perjuangan rakyat Palestina.
Tujuan utamanya sangat sederhana: melucuti pihak yang masih melawan, sementara penjajah tetap bersenjata lengkap dan tetap berada di tanah Palestina. Ini ibarat menyuruh domba menyerahkan tanduknya, sementara serigala tetap membawa cakar dan taringnya.
Pemikiran untuk menolak BoP hari ini mulai memudar di tengah umat. Padahal bergabung dengan BoP sama artinya dengan menyerahkan Gaza ke dalam mulut harimau. AS dan zionis Israel yang menjadi arsitek BoP tidak pernah memiliki agenda membebaskan Palestina. Mereka hanya ingin menciptakan pemerintahan lokal yang jinak, yang mau bekerja sama mengelola Gaza di bawah pengawasan mereka, sementara kedaulatan tetap berada di tangan penjajah.
Pelucutan senjata juga bukan jaminan keamanan. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap kali perlawanan dilemahkan, penjajahan justru semakin brutal. Perampasan tanah di Tepi Barat, blokade di Gaza, dan pembunuhan warga sipil tidak pernah berhenti meskipun ada perjanjian damai. Karena bagi zionis Israel, tujuannya bukan damai, tetapi menguasai seluruh tanah Palestina dari sungai sampai ke laut.
Kehadiran Pasukan Stabilitas Internasional pun tidak bisa diharapkan untuk membebaskan Palestina. Pasukan ini tidak dibentuk untuk melawan penjajah. Mereka dibentuk untuk menjaga "stabilitas" versi penjajah. Artinya menjaga agar tidak ada lagi perlawanan, menjaga agar proyek "New Gaza" berjalan lancar, dan menjaga agar narasi penjajahan diterima oleh dunia.
Dengan kata lain, pelucutan senjata adalah prasyarat agar penjajahan bisa dilanjutkan tanpa ada gangguan.
Akar Persoalan: Ketika Pemimpin Muslim Bersekutu dengan Penjajah
Persoalan Palestina tidak akan selesai hanya dengan mengutuk zionis Israel. Akar masalahnya juga terletak pada pengkhianatan para penguasa negeri-negeri muslim. Banyak dari mereka yang memilih bersekutu dengan AS, menerima skema BoP, dan menekan kelompok perlawanan agar melucuti senjata.
Mereka lebih takut kepada tekanan internasional daripada kepada Allah SWT. Mereka lebih memilih menjaga kursi kekuasaan daripada menjaga kehormatan umat. Akibatnya, perjuangan Palestina dikhianati dari dalam oleh tangan-tangan yang mengaku saudara.
Selama para penguasa ini masih berkuasa dan masih menjadi antek kepentingan Barat, maka setiap solusi yang ditawarkan akan selalu menguntungkan penjajah.
Solusi Islam: Perlawanan, Kesadaran, dan Penyatuan di Bawah Sistem Islam
Islam memandang bahwa masalah Palestina adalah masalah akidah dan masalah penjajahan. Karena itu solusinya harus tuntas, bukan tambal sulam.
Umat harus disadarkan kembali akan bahaya AS dan zionis Israel. Mereka tidak pernah berhenti membuat siasat baru untuk melanggengkan penjajahan. Hari ini namanya BoP, besok bisa nama lain. Tujuannya tetap sama: melucuti perlawanan, melemahkan umat, dan mengokohkan penjajahan. Kesadaran ini harus terus digaungkan agar umat tidak tertipu oleh narasi "perdamaian" yang palsu.
Selain itu, umat harus didorong untuk terus melakukan kritik dan koreksi terhadap para pemimpin negeri-negeri muslim yang bersekutu dengan AS dan menerima skema BoP. Diam terhadap pengkhianatan sama dengan membenarkannya. Umat harus berani menyuarakan bahwa jalan para penguasa ini adalah jalan pengkhianatan terhadap Al-Aqsha dan darah para syuhada.
Lebih dari itu, umat harus didorong untuk berjuang menyatukan barisan umat Islam di seluruh dunia di bawah satu kepemimpinan. Perpecahan antar negeri muslim hanya menguntungkan musuh. Persatuan adalah syarat agar umat memiliki kekuatan politik dan militer yang disegani.
Dan keyakinan yang harus tertanam kuat di benak setiap muslim adalah: Palestina tidak akan bebas hanya dengan perundingan, bantuan kemanusiaan, atau pasukan stabilitas. Palestina baru akan benar-benar bebas ketika tentara kaum muslimin bergerak di bawah komando satu kepemimpinan, yaitu sistem Islam. Hanya sistem Islam yang memiliki kewenangan, kekuatan, dan keberanian untuk mengerahkan pasukan guna memerangi zionis Israel dan membebaskan seluruh tanah Palestina. Tanpa adanya kekuatan negara yang menerapkan Islam secara kaffah, maka Gaza akan terus menjadi korban, dan Al-Aqsha akan terus dinodai.
Wacana pelucutan senjata Hamas adalah jebakan. Ia bukan jalan damai, melainkan jalan untuk melucuti kehormatan umat. Di baliknya ada skema BoP yang dirancang AS dan zionis Israel untuk memastikan penjajahan terus berjalan dengan wajah yang lebih "manusiawi".
Umat tidak boleh terjebak. Umat harus menolak segala bentuk solusi yang meletakkan senjata perlawanan di satu sisi, sementara membiarkan senjata penjajah di sisi lain.
Jalan pembebasan Palestina hanya satu: kesadaran umat, perlawanan terhadap pengkhianatan penguasa, dan penyatuan kekuatan di bawah sistem Islam yang akan mengusir penjajah dari tanah Palestina.
Wallahu a'lam bishowab.
.jpeg)