Oleh Bunda Annisa
Muslimah Peduli Umat
Gen Z saat ini berada pada persimpangan yang sangat melelahkan. Mereka yang hidup di era digital dipaksa untuk berkembang dan mandiri secara finansial lebih cepat dibanding sebelumnya. Namun, keadaan ekonomi saat ini justru makin menjauhkan rasa aman finansial itu.
Delloitte Global gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Artinya hampir satu dari dua oang Gen Z hidup dalam kecemasan keuangan, pekerjaan, dan masa depan. (harianjurnal.com 19/8/2026)
Namun, ironi justru muncul di tengah kekalutan finansial Gen Z dengan menjamurnya lipstick effect. Lipstick effect merupakan salah satu teori populer di awal tahun 2000an di mana orang-orang melakukan belanja pada barang-barang konsumtif kecil tapi mewah saat terjadi krisis ekonomi, sementara pembelian besar dan bersifat investasi justru ditunda.
Di tengah tekanan finansial global saat ini justru Gen Z masih mengalokasikan pembelanjaan keuangan untuk kegiatan konsumtif seperti membeli gadget terbaru, skincare, bahkan liburan hanya untuk memberi makan ego dan feed media sosialnya. Aktivitas ini dilakukan dengan tameng self reward, mental healing, bahkan sekedar FOMO, atau fears of missing out.
Fenomena ini tentunya dilatarbelakangi oleh akar-akar permasalahan yang terjadi sekarang. Pertama, akar masalahnya ada di sistem kapitalis yang menghimpit. Sistem ini menjadikan negara lepas tangan dari tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Layanan pendidikan terbaik, layanan kesehatan terpadu, bahkan kepemilikan rumah menjadi hal yang mahal. Padahal ini merupakan kebutuhan dasar setiap masyarakat yang wajib dipenuhi oleh negara.
Bahkan pekerjaan dengan upah layakpun tidak mampu diberikan oleh negara. Akibatnya, pemikiran kritis dan kreatif Gen Z hanya berakhir dengan karir yang bergaji rendah tanpa tunjangan, status kerja yang tidak pasti, dan beban kerja yang berlebihan. Masalah finansial generasi ini terjadi memang secara sistemik!
Akar masalah berikutnya adalah pelarian. Di tengah kekosongan peran negara inilah, algoritma media sosial mengambil alih. Gen Z dicekoki dengan tren-tren kapitalis yang menggagas bahwa kebahagiaan hanya berpusat pada kemampuan finansial, kecantikan fisik, dan popularitas. Hal ini mendorong rasa impulsif pada diri Gen Z yang berakibat pada buruknya tata kelola keuangan mereka. Kegiatan self reward, healing, dan hedonisme digaungkan sebagai solusi masalah kesehatan mental.
Padahal kebahagiaan semu ini hanya membuat Gen Z berputar di siklus yang sama, yaitu stres. Stres bekerja membuat mereka merasa berhak untuk self reward yang akan menghabiskan gaji, kemudian saat uang habis mereka akan kembali stres.
Disinilah nampak krisis yang sesungguhnya: Gen Z tengah kehilangan tujuan hidup. Kapitalisme berhasil menggiring mereka pada tujuan hidup yang bersifat semu. Mereka hanya fokus mengejar kenikmatan sesaat, bukan pada akhir bahagia yang kekal.
Islam menghadirkan sistem terbaik yang bersumber dari Maha Pencipta langsung. Bukan hanya sekadar imbauan menabung seperti yang digaungkan kapitalisme. Negara Islam akan mampu menjamin kebutuhan dasar seluruh masyarakat melalui kebijakan-kebijakan yang berlandaskan syariat. Perumahan yang terjangkau, ketersediaan lapangan kerja dengan upah yang layak, pengelolaan SDA hingga stabilnya layanan kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
Islam akan meningkatkan literasi finansial yang jauh lebih baik dan stabil. Menjauhkan Gen Z dari praktik hedonisme dan riba. Menjadikan mereka tidak perlu lagi kesulitan dan berjuang sendirian. Selain itu juga Islam akan melakukan peningkatan literasi digital dengan menyaring konten yang bisa dilihat masyarakat. Hal ini akan menjauhkan Gen Z dari paparan konten merusak seperti yang dilakukan sekuler-kapitalis.
Terutama Islam mampu membangun paradigma yang sempurna tentang hakikat hidup manusia. Seperti disebutkan dalam QS. Adz-Dzariyat Ayat 56 bahwa tujuan penciptaan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Akidah ini akan menjadi landasan hidup setiap individu dan membawa generasi yang memiliki visi yang sama yaitu membangun kembali peradaban Islam di dunia.
Wallahu a’lam.
