Oleh Feni Rosfiani
Aktivis Dakwah
Berita tentang melonjaknya penderita
HIV di Sidoarjo sontak membuat geger seluruh masyarakat. Terlebih lagi data
yang cukup fantastis itu adalah data penderita HIV dengan kisaran umur anak
PAUD sampai SMA. Seperti dilansir dari Kumparan.com (24/7/26) menunjukkan data
dari dinas kesehatan Sidoarjo dari tahun 2001 hingga tahun 2026 tercatat ada
sebanyak 7.230 orang yang terpapar penyakit Human Immunodeficiency Virus
(HIV) dan diantaranya sebanyak 522 orang yaitu pelajar PAUD hingga jenjang SMA.
Kasus peningkatan jumlah Orang Dengan Penyakit HIV (ODHIV) ini diketahui bukan
dikarenakan dampak penularan yang seakin meluas, tetapi justru karena semakin
luasnya layanan deteksi dini pada pengidap HIV. Sehingga dapat dilakukan terapi
lebih awal pada para penderita tersebut. Meskipun hingga saat ini belum ada obat yang bisa
menyembuhkan HIV, tetapi setidaknya dengan rutin mengikuti terapi
antiretroviral (ARV) bisa mengendalikan virus yang ada pada tubuh penderita.
Penyakit HIV memang salah satu penyakit yang dianggap tabu oleh masyarakat umum. Sehingga seringkali membuat para pengidap merasa malu,takut, bahkan menghilangkan rasa percaya dirinya. Bahkan efek yang paling parah adalah diskriminasi sosial. Padahal ODHIV di seluruh kalangan pelajar itu memang dari penularan ibu ke anaknya atau dinamakan juga penularan vertikal. Upaya-upaya pemerintahan dalam pencegahan penularan memang telah dilakukan seperti program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), terapi antiretroviral (ARV) dan obat yang diminum secara rutin. Namun, ternyata program-program tersebut tetap saja tidak dapat menekan angka ODHIV di negeri ini. Fakta ini menunjukkan bahwa negara telah gagal memberikan keamanan dan kesehatan pada rakyatnya. Pemerintah hanya fokus pada solusi yaitu pemberian edukasi sex sejak dini yang hanya disampaikan akibat medisnya saja dari sex bebas tersebut dan pencegahan kehamilan tak diinginkan saja. Bukan dipahamkan kepada para pelajar bahwa sex bebas itu melanggar syariat agama dan salah satu perbuatan yang Allah larang. Ini juga salah satu bentuk nyata dari gagalnya sistem kapitalis yang diemban oleh negeri ini. Standar perbuatan tidak lagi berdasarkan halal atau haram tetapi berdasarkan manfaat dan materi saja. Para pelajar dijauhkan dari tsaqafah islam yang sesungguhnya.Sehingga gagal paham juga dalam melihat fenomena kasus HIV pelajarpun hanya dinilai dari satu sisi saja dan menganggap bahwa ini diakibatkan oleh peningkatan deteksi awal ODHIV. Padahal kenyataanya, justru dikarenakan semakin merajalela sex bebas dikalangan remaja maupun orang dewasa yang mengakibatkan semakin banyak pula ODHIV baru bertebaran. Seperti inilah kenyataan yang harus dihadapi jika kehidupan dijauhkan dari syariat Islam. Semakin carut-marut dan jauh dari Allah Swt.
Berbeda jika Sistem Islam yang diemban oleh seluruh negeri, seluruh aspek kehidupan senantiasa diatur sesuai Al-Quran dan As-Sunah. Bahkan sistem pergaulan dalam islam itu akan dibahas, diantaranya tentang Batasan aurat laki-laki dan perempuan, cara berpakaian yang sesuai syariat, tentang cara menjaga pandangan, cara menjauhi zina, hukuman/uqubat atau sanksi bagi orang yang melanggar aturan Allah dan aturan yang mewajibkan setiap orang agar senantiasa menjaga Kesehatan reproduksinya agar terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya. Sehingga apabila seluruh aturan hidup yang telah Allah perintahkan dijalani dan juga menjauhi seluruh larangan-Nya, akan tertanam dalam hati dan ruh mereka bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak. Maka untuk melakukan sex bebas saja mereka takut kepada Allah, tidak akan ada lagi yang terjangkit penyakit-penyakit menular seperti HIV. Semua keniscayaan ini hanya akan terwujud dengan diiringi oleh peran serta keluarga, lingkungan masyarakat/sekolah dan juga negara dalam naungan sistem Islam.
Wallahualam bishawab.
