Oleh Susi Ummu Aidam
Aktivis Muslimah
Maulid nabi Muhammad saw. bukan hanya momentum ritual penuh lantunan shalawat dan doa semata, tetapi juga merupakan kesempatan reflektif untuk menggali hikmah agung dari kelahiran Rasulullah saw. Salah satu hikmah terbesar yang jarang di sorot adalah bahwa kelahiran beliau menandai awal perubahan besar dalam peradaban manusia, dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat Islam yang mulia. Namun, muncul pertanyaan, apakah kita siap meneladani metode beliau dalam melakukan perubahan politik hari ini? ataukah kita tetap memercayai metode sekuler seperti demokrasi yang telah terbukti berkali-kali hanya memberikan janji kemakmuran, kesejahteraan, keadilan yang tidak pernah terbukti sama sekali? ataukah kita merasa yakin dengan people power (gerakan masa) yang sering kali di bumbui anarkisme (kekerasan) yang tak jarang memakan korban?
Saat Rasulullah saw. lahir, cahaya memancar hingga menerangi istana Romawi di Syam. Pilar istana Kisra di Madain retak, sepuluh menara runtuh, api sembahan Persia padam, danau sawah mengering., wadi samawah tiba-tiba mengalirkan air. Ini adalah isyarat politik bahwa kelahiran nabi Muhammad saw. adalah ancaman langsung bagi imperium Persia dan Romawi saat itu. Beliau lahir sebagai pemimpin perubahan politik global yang akan meruntuhkan tatanan kufur dunia dan membangun peradaban baru.
Seruan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. itu bukan hanya dakwah tauhid, tetapi juga merupakan deklarasi visi politik bahwa perubahan sejati berawal dari pengakuan terhadap kedaulatan Allah SWT. Sejarah kemudian mencatat bahwa nubuat itu nyata terjadi pada masa kekhilafahan Umar bin al-Khathtab ra., yang mana saat itu, dua negara adidaya yakni Persia dan Romawi, benar-benar di tundukkan di bawah kekuasaan Islam.
Pada masa ini, banyak masyarakat berharap perubahan politik pada people power (gerakan massa). Akan tetapi, apakah secara politik negara ini benar-benar berubah? Tentu tidak! Yang terjadi justru korupsi makin menggila. Oligarki makin kokoh, sumber daya alam dikeruk asing, rakyat dijerat pajak, pengangguran makin banyak, sedangkan para pejabat makin kaya. Hal ini terjadi karena yang jatuh hanya rezimnya, bukan sistem politiknya. Sistem demokrasi sekuler tetap di pertahankan, padahal sistem inilah yang menjadi akar kerusakan yang membelit negeri ini.
Ini karena dalam sistem demokrasi, kedaulatan (hak membuat hukum) ada di tangan manusia, dengan segala hawa nafsu yang dimilikinya. Padahal Allah sudah tegas menyatakan dalam QS. Yusuf ayat 40 bahwa otoritas membuat hukum itu ada pada Allah SWT. Maka dari itu, perubahan ke arah yang lebih baik tidak akan dihasilkan hanya dengan pergantian rezim, tetapi harus dengan perubahan sistem politik secara menyeluruh, yaitu menuju sistem politik Islam.
Rasulullah saw. sebagai suri tauladan, tidak pernah menyerukan revolusi massa untuk menggulingkan rezim Quraisy. beliau menempuh dakwah yang terarah melalui tiga tahap, yaitu Tatsqif (pembinaan), dimana beliau saw. membina para sahabat dengan fikrah agar keimanan mereka kokoh dan siap berjuang untuk perubahan. Kemudian tafa'ul ma'a al ummah (interaksi dengan masyarakat), di mana Nabi saw. mendakwahkan Islam secara terang-terangan di tengah-tengah masyarakat sekaligus membongkar kebusukan sistem kufur sehingga opini umum berpihak pada Islam. Terakhir, thalab an-Nushrah (menggalang dukungan), beliau menggalang dukungan dari ahlul quwwah (para pemilik kekuasaan) untuk menegakkan sistem politik dan pemerintahan Islam.
Dengan metode ini, perubahan politik yang lahir bukan sekadar jatuhnya penguasa, melainkan tumbangnya seluruh sistem jahiliyah di ganti dengan sistem Islam. Hasilnya adalah peradaban Islam yang bertahan berabad-abad lamanya.
Peringatan maulid Nabi saw. seharusnya diarahkan untuk memotivasi umat agar sungguh-sungguh melakukan perubahan politik kearah Islam sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah saw., bukan dengan tetap mempertahankan sistem sekuler seperti saat ini. Hanya dengan itu peringatan maulid Nabi saw. akan jauh lebih bermakna.
Wallahualam bissawab.
