Oleh Heni Ummu Faiz
Ibu Pemerhati Umat
Masalah kemiskinan di Indonesia menjadi salah satu penyebab banyaknya pembullyan. Hidup dalam kekurangan selalu menjadi sorotan untuk dijadikan bahan olok-olokan. Akibatnya yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Hal ini seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, seorang anak merasa malu dan putus asa akibat mendapatkan olokan dari temannya hanya gegara tidak memiliki alat tulis (newsdetik.com, 03/02/2026).
Berdasarkan hasil data KPAI tercatat 26 kasus bunuh diri yang melakukan bunuh diri (popularitas.com, 05/02/2026)
Fakta ini semakin membukakan mata kita bahwa generasi di Indonesia kian terancam. Mulai dari hal yang sepele ternyata bisa menjadi bom waktu kehancuran bangsa ini. Hal ini jika terus-menerus terjadi akan berakibat fatal di masa depan. Gegara perlengkapan tulis bukanlah akar masalah utama tetapi karena kemiskinan yang mendera. Abainya negara jadi faktor utama masifnya kasus bunuh diri pada anak.
Karena pada hari ini angka kemiskinan terus meningkat dan anak harus menanggung beban hidup akibat buah kemiskinan. Sekolah hadir hanya sekadar layanan administratif semata tak mampu secara keseluruhan melahirkan generasi yang kuat, tangguh, berakhlak mulia serta cerdas dalam segala bidang.
Merespons tragedi ini, KPAI menggelar case conference bersama Kemendikdasmen untuk mendalami faktor ekonomi, pola asuh, hingga dugaan perundungan di lingkungan sekolah. Data KPAI menunjukkan bahwa jumlah anak mengakhiri hidup di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Komisioner KPAI Diyah Puspitarini pun meminta pemerintah dan masyarakat tidak meremehkan kasus anak mengakhiri hidup seperti ini karena setiap tahunnya selalu ada kasus serupa.
Negara Mati Menjaga Generasi
Jika ditelisik permasalahan kemiskinan yang berdampak terhadap dunia pendidikan Indonesia sebenarnya adalah karena cengkeraman kapitalisme. Berbagai kebijakan yang diterapkan oleh penguasa baik pusat maupun daerah lebih berdasarkan pada materi semata. Pendidikan yang gratis tidak serta merta sarana dan prasarana diberikan secara gratis serta lengkap. Faktanya justru dibebankan kepada orang tua. Lagi dan lagi rakyat senantiasa jadi korban kebijakan yang tidak pro rakyat. Sedangkan para penguasanya seperti DPR diberikan gaji fantastis. Hal tersebut berbeda jauh dengan kondisi kehidupan penduduk NTT terutama di wilayah korban yang sangat jauh dari kata layak. Seharusnya kondisi anak bunuh diri mampu membukakan mata hati para pemangku kebijakan untuk lebih peka terhadap rakyatnya.
Namun sayangnya, penguasa dalam cengkeraman kapitalisme tidak memiliki kepekaan terhadap rakyat, hanya sifat serakah yang membuncah.
Sumber daya alam NTT terus dieksploitasi tetapi tidak mampu menyejahterakan rakyat.
Islam Menyelamatkan Generasi
Jika kita telaah solusi masalah manusia adalah mengembalikan segala sesuatunya kepada Islam. Karena Islam mampu menyelesaikan hingga ke akarnya. Islam hadir menyelamatkan generasi agar kelak memberi warna kehidupa dan peradaban dengan prestasi yang gemilang.
Hal tersebut karena dipahami bahwa anak adalah amanah yang akan terus dijaga, dididik dengan sentuhan kasih sayang Islam. Sehingga lahir generasi yang kuat. Sebagaimana dalam surat An-Nisa: 9 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Sungguh sebuah kezaliman ketika anak hanya dijadikan beban dan dieksploitasi untuk diambil manfaatnya.
Disinilah penguasa memiliki peran untuk meriayah rakyatnya. Ketika penguasa abai dan zalim maka diharamkan masuk surga.
“Ya Allah, barang siapa memimpin umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia. Barang siapa memimpin umatku, lalu dia bersikap lemah lembut terhadap mereka, maka bersikaplah lemah-lembut terhadapnya.” (HR Muslim).
Hal ini tentu sangat berbeda dengan sistem Islam yang akan bertanggung jawab kepada rakyatnya. Pendidikan menjadi sebuah kebutuhan pokok manusia. Oleh karena itu, penguasa dalam sistem Islam (Khalifah) akan mengutamakan pendidikan rakyatnya secara gratis dengan fasilitas yang lengkap. Tak ada perbedaan antara di kota dan desa semua fasilitas pendidikan sangat lengkap. Semua fasilitas didapat dari baitulmal, yang pemasukkannya dari kekayaan alam yang dikelola oleh negara. Pemasukan harta tersebut antara lain fai, kharaj, tambang dan migas, usyur, jizyah dan lain-lain. Sistem Islam(Khilafah) akan memberikan kebutuhan utama seperti pendidikan, kesehatan, keamanan dan transportasi umum akan diberikan secara gratis.
Hal ini karena kepemimpinan dalam Islam sebagai pelindung bukan pemeras rakyat seperti di dalam sistem demokrasi kapitalis. Khalifah sebagai penguasa hadir sebagai pribadi yang beriman dan bertakwa. Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menyebutkan bahwa seorang penguasa hendaklah memiliki ketakwaan yang tertancap dalam dirinya dan dalam kepemimpinan melayani umat. Hal ini tercantum didalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah (Kepribadian Islam) Jilid II Bab Tanggung Jawab Umum.
Berikut beberapa hal yang dilakukan oleh untuk mengatasi masalah kemiskinan dan tanggung jawab yang terjadi di keluarga.
1. Saat keluarga tidak memiliki pekerjaan maka negara wajib menyiapkan lapangan pekerjaan.Jika keluarga tersebut tidak memiliki orang yang mencari nafkah dalam hal ini ayah maka diwajibkan kerabat terdekat yang memiliki hubungan waris untuk membantu secara utuh.
2. Adapun jika keluarga tidak memiliki sanak saudara maka negara akan memberikan santunan yang diambil dari baitulmal.
3. Saat pos baitulmal tidak mencukupi maka negara bisa mengambil dari pos lain yang memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.
4. Ketika pun pos baitulmal kosong maka negara boleh memungut pajak dari orang-orang kaya yang disalurkan ke fakir miskin. Namun perlu dipahami bahwa pungutan pajak ini bersifat temporer.
Alhasil, Islam sudah memberikan solusi terbaik buat umatnya dalam penyelamatan generasi. Pendidikan merupakan hak warga negara yang seharusnya didapatkan secara gratis dan Islam telah membuktikan 14 abad yang lalu. Lantas masihkah ragu dengan syariat Islam yang menjamin kebutuhan rakyatnya.
Wallahualam bissawab.
