Oleh Rahmawati Ayu Kartini
Pemerhati Sosial
Masuk Board of Peace (BoP), katanya biar 'mewarnai dari dalam'. Siapa tahu bisa pengaruhi Donald Trump...!? Namun, faktanya kelakuan Amerika dan Israel menjadi-jadi. Katanya perdamaian, tapi warga Gaza tetap dibunuhi menggenapi 601 orang gugur akibat pelanggaran gencatan senjata.
Jangan merasa bangga dengan masuknya Indonesia dalam BoP. Ini sebenarnya pengkhianatan atas politik luar negeri bebas aktif. Amerika yang menyuplai senjata untuk Israel kini berlagak pahlawan, dan Indonesia ikut-ikutan. Seolah bertujuan mulia, tidak sadar diplomasi Indonesia berada dalam bahaya. Apa saja bahayanya?
Bahaya BoP dan ISF
Tidak hanya bergabung dalam BoP, Indonesia bahkan dipercaya sebagai wakil ketua komandan Internasional Stabilization Force (ISF), dalam pertemuan pemimpin negara BoP di Washington pada 19 Februari 2026. Apa itu ISF? Ia adalah pasukan asing yang bertugas mengawasi stabilitas wilayah Gaza. Bahkan tugas utamanya adalah melucuti senjata para pejuang Gaza.
Kendali utama atas ISF ternyata bukan pada negara anggota, tapi tetap di tangan Amerika dan Israel. Pusat komandonya bahkan berada di Israel. Pengamat politik dunia Islam, Pizzaro Ghozali Idrus memaparkan beberapa tanda bahaya BoP dan ISF yang perlu diperhatikan. Pertama, keterlibatan dalam BoP dan ISF berpotensi sebagai jebakan diplomatik bagi Indonesia.
Alih-alih berkontribusi dan berpihak pada Palestina, Indonesia malah terjebak dalam skenario penjajah. Skenario ini akan menguntungkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam menjajah Palestina, bukan demi kepentingan rakyat Palestina sendiri. Akibatnya Indonesia berpotensi kehilangan suara dan integritasnya dalam perjuangan keadilan internasional. Alih-alih menjadi pejuang keadilan, Indonesia malah menjadi antek-antek penjajahan!
Kedua, pembagian wilayah Gaza dilakukan secara sepihak oleh BoP. Gaza mereka bagi menjadi lima zona yaitu Gaza Utara, Gaza City, Deir Balah, Khan Younis, dan Rafah. Tentu saja ini tanpa persetujuan warga Gaza. Mereka telah mencederai kedaulatan rakyat Palestina.
Ketiga, peta 'Gaza Baru' yang diperkenalkan menantu Donald Trump, Jared Kushner, jelas mirip proyek kolonial modern daripada solusi nyata. Wilayah Gaza diubah menjadi kawasan industri dan hiburan!
Banyak pemukiman warga dan sejarah penting di Gaza dihapus dari peta. Seolah-olah identitas dan situs sejarah rakyat Gaza tidak penting, atas nama investasi.
Keempat, ancaman Donald Trump untuk melucuti senjata para pejuang Gaza (Hamas) menunjukkan maksud sesungguhnya dari BoP dan ISF. Jamak diketahui bahwa Hamas sangat sulit ditundukkan oleh Amerika dan Israel. Bahkan mereka sudah dibantu puluhan negara lainnya, masih belum berhasil menangkap seorangpun pejuang Hamas!
Jelas sekali bahwa tujuan utama mereka bukanlah menciptakan perdamaian di Palestina, tapi hendak memadamkan perlawanan rakyat Palestina.
Anehnya, Palestina yang sudah hancur lebur karena penjajahan Israel dituntut untuk melucuti senjatanya. Sementara tidak ada tuntutan serupa terhadap Israel untuk melucuti senjata. Padahal genosida di Gaza terjadi akibat bom-bom dan persenjataan Israel yang disuplai oleh Amerika Serikat.
Ironisnya, fakta-fakta ini diabaikan begitu saja. Padahal 1 nyawa manusia begitu sangat besar nilainya bagi perdamaian.
Kelima, dari berbagai catatan di atas, Palestina seolah-olah ditempatkan sebagai sumber masalah dari ini semua. Mereka dikenai sanksi, tuntutan, desakan bermacam-macam, tapi hal itu tidak terjadi pada Israel.
Padahal masalah utamanya adalah pendudukan Israel atas wilayah Palestina. Ini yang mestinya dihentikan.
Estafet Pembebasan Palestina
Indonesia sebagai negara muslim terbesar, mestinya berada di pihak warga Gaza. Karena muslim itu bersaudara. Bukannya bekerja sama dengan musuh yang telah nyata membunuh saudaranya di Palestina. Karena itu, tak mungkin masalah Palestina akan selesai dengan BoP. Indonesia harus segera keluar dari BoP dan ISF.
Mengusir Israel dari Palestina bukan hanya kewajiban penduduk disana, tapi ini adalah kewajiban bersama seluruh umat Islam sedunia. Karena Palestina adalah tanah suci umat Islam, tanah para Nabi, dan terdapat masjid suci ketiga yang dianjurkan untuk diziarahi yaitu Masjidil Aqsha tempat Rasulullah saw. melakukan Mi'raj. Hal ini ditegaskan langsung oleh Allah SWT:
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Isra': 1)
Ketika dahulu Kekhilafahan Islam Turki Utsmani masih tegak, Israel tidak berani datang ke Palestina. Karena Palestina dilindungi oleh khalifah. Bahkan khalifah saat itu rela mati demi menjaga Palestina. Sebagaimana perkataan Sultan Abdul Hamid II ketika ditawari uang begitu banyak oleh perwakilan Israel Theodore Hertzl, agar kaum Yahudi dapat menyewa tanah di Palestina:
"Nasihati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad dan menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silahkan menyimpan harta mereka. Jika Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi selama aku masih hidup, aku lebih suka menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islam..." (Sultan Abdul Hamid II, 1902)
Demikianlah, tidak ada solusi selain jihad fisabilillah untuk membebaskan Palestina. Sejarah mencatat bahwa umat Islam telah berusaha membebaskan Syam (Palestina) sejak Rasulullah masih hidup diawali dengan Perang Mu'tah. Tongkat estafet pembebasan Palestina terus berlanjut hingga pada masa Khalifah Umar bin Khattab di tahun 636 M, Syam resmi menjadi milik Khilafah Islam.
Namun, kaum Kristen Eropa berusaha merebut kembali wilayah tersebut pada perang salib, tapi akhirnya Sultan Sholahuddin Al Ayyubi berhasil membebaskan kembali Palestina di tahun 1187 M.
Sayangnya karena Kekhilafahan Islam dibubarkan Barat pada tahun 1924, maka dengan mudahnya Palestina kembali dikuasai musuh. Dengan bantuan Inggris, Zionis Israel mendirikan negara 'Israel' di wilayah Palestina sejak tahun 1948. Oleh karena itu, estafet pembebasan Palestina harus terus berlanjut dengan menghidupkan kembali jihad fisabilillah yang dipimpin oleh khalifah umat Islam. Saatnya umat Islam bersatu untuk menegakkan kembali institusi khilafah Islam yang akan membebaskan Palestina.
Wallahualam bissawab
