![]() |
| Oleh Atik Komalasari (Aktivis Muslimah) |
Sungguh miris dan menyesakkan dada, di saat kita berharap balita tumbuh sehat ceria sebagai generasi penerus, justru 62 ribu balita harus terbaring sesak napas karena kabut asap karhutla yang pekat. Bayi-bayi yang paru-parunya masih mungil itu kini harus menghirup racun setiap hari.
Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026 mencatat ada 62.400 balita usia 0-5 tahun menderita ISPA akibat karhutla, dari total 311.363 kasus ISPA di 65 kabupaten/kota di 7 provinsi. Data ini naik 30% dibanding tahun lalu. Reuters pada 15 Oktober 2026 juga melaporkan kabut asap Indonesia telah melintas negara sampai ke Malaysia dan Singapura, mencoreng nama Indonesia di dunia internasional.
Yang lebih memilukan, fasilitas kesehatan tidak siap. Dari 1.691 puskesmas di wilayah terdampak, hanya 827 yang memiliki nebulizer, hanya 45% yang punya tabung oksigen. Tenaga medis pun kewalahan. Para ibu hanya bisa pasrah, hanya disuruh pakai masker yang tidak efektif untuk balita.
Karhutla Mengapa Terus Berulang?
Jika kasus ISPA balita terus berulang setiap tahun meski pemerintah sudah bagi masker dan imbauan, maka kita patut bertanya, apa yang sebenarnya menjadi akar masalah? Mengapa negara seolah membiarkan?
Inilah karakteristik sistem sekuler kapitalisme yang menjadi biang keladinya:
1. Orientasi Keuntungan Korporasi: Dalam kapitalisme, hutan yang seharusnya menjadi paru-paru dunia dan kepemilikan umum, malah dilegalkan dikuasai korporasi sawit dan tambang. Demi keuntungan jutaan dolar, hutan sengaja dibakar. Negara abai karena dapat pajak dari korporasi.
2. Negara Abai dan Terganjal Anggaran: Anggaran negara berbasis utang ribawi dan pajak, bukan dari pengelolaan SDA yang benar. Ketika bencana terjadi, negara terganjal anggaran dan birokrasi. Pemerintah pusat bahkan menyatakan "masih sanggup" dan enggan menetapkan sebagai bencana nasional, padahal 62 ribu balita sudah menjadi korban. Ini bukti negara bukan pelindung rakyat.
3. Krisis Ketakwaan dan Keserakahan: Individu jauh dari aturan agama, sehingga berani merusak bumi demi harta. Padahal Allah SWT telah berfirman dengan jelas: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya" (QS. Al-A'raf: 56).
Islam Kaffah Solusi Karhutla
Islam memiliki solusi yang tuntas dan menyeluruh, bukan tambal sulam.
Dalam Islam, hutan, tambang, dan sumber daya alam yang melimpah adalah kepemilikan umum yang haram dimiliki dan dikuasai oleh korporasi swasta, apalagi asing. Negara Khilafah sebagai junnah (pelindung) dan raa'in (pengelola urusan rakyat) akan menjaga hutan dengan tegas, melarang pembakaran, dan menghukum pelaku dengan sanksi yang menjerakan.
Sistem keuangan Islam melalui Baitul Mal yang bersumber dari fai', ghanimah, zakat, jizyah, dan pengelolaan SDA akan mampu menyediakan ribuan nebulizer, tabung oksigen, dan tenaga medis terbaik tanpa terganjal anggaran sepeserpun.
Pemimpin dalam Islam wajib memiliki sifat ar-rifq bi ar-ra'iyyah_ (lembut dan peduli kepada rakyat) dan sadar bahwa setiap balita yang sesak napas akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah: Imam adalah raa'in dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi balita-balita kita, putra-putri kita dari bahaya asap karhutla yang beracun ini, dan semoga sistem Islam kaffah dalam naungan Khilafah segera tegak agar generasi penerus dapat tumbuh sehat, cerdas, dan bertakwa. Aamiin ya Rabbal Aalamiin. Wallahu a'lam bish-shawab
