Oleh Opi Sopiyah
Aktivis Muslimah
Tepi Barat hari ini dibakar dengan teror pemukim ilegal dan penghancuran puluhan masjid. Sementara Gaza dijual lewat proyek rekonstruksi "New Gaza" milik Amerika. Inilah dua sisi mata uang penjajahan Zionis: merampas tanah di satu sisi, merampas ekonomi di sisi lain. Ini menunjukkan bahwa penjajahan Israel tidak pernah berhenti. Ia hanya berganti wajah.
Berdasarkan laporan Kompas TV, 27 Juli 2025, kekerasan pemukim di Tepi Barat meningkat dan disebut "dikoordinasi otoritas Israel". Di saat yang sama, proyek "New Gaza" melalui skema BoP - Business of Peace makin masif digaungkan. Gaza yang diratakan bom, kini ditawarkan sebagai proyek properti dan investasi triliunan dolar. Dua hal ini adalah satu paket: penghancuran di satu sisi, perampokan di sisi lain.
Semua kutukan dan resolusi PBB tidak ada artinya. Karena tujuan Zionis membangun "Israel Raya" sangat serius. Kemerdekaan Palestina justru bertentangan dengan itu. Karena itu solusi dua negara mustahil. Logika penjajahan itu sederhana: selama tidak ada kekuatan yang menghentikan, maka 2.300 rumah hari ini akan jadi 23.000 tahun depan. Ironisnya, di tengah darah yang belum kering, Amerika dan sekutunya menawarkan "rekonstruksi". Melalui proyek "New Gaza" dan BoP, Gaza yang hancur akan diubah menjadi pelabuhan, kawasan bisnis, dan real estate. Ini bukan rekonstruksi. Ini perampokan. Dulu merampas dengan tank. Sekarang merampas dengan kontrak investasi. Dulu mengusir dengan peluru. Sekarang mengusir dengan sertifikat tanah. Topeng ini harus dibongkar. Karena jika penguasa muslim ikut dalam BoP, itu pengkhianatan terhadap darah syuhada.
Lalu apa yang harus dilakukan umat Islam?
Berharap kemerdekaan dari Israel, PBB, atau solusi dua negara adalah omong kosong. 77 tahun sudah membuktikan. Berdamai dengan entitas Zionis hukumnya haram. Membebaskan Palestina dengan jihad adalah fardhu kifayah atas seluruh umat Islam.
Kendalanya: tidak ada institusi yang bisa menggerakkan jihad secara kolektif. Ketiadaan khilafah membuat umat lumpuh. Tidak ada panglima, tidak ada politik luar negeri Islam. Sebagian penguasa muslim sibuk normalisasi. Sebagian menutup perbatasan. Padahal yang dibutuhkan Gaza bukan donasi, tapi pasukan pembebas. Karena itu umat harus fokus pada perjuangan pokok: mengembalikan Khilafah. Daulah yang akan menyatukan 50 negara umat Islam menjadi satu kekuatan.
Sejarah mencatat. Di bawah Khilafah Utsmani selama 400 tahun, Palestina aman. Tidak ada tembok, tidak ada pemukim. Karena ada satu komando, satu perisai. Tepi Barat hari ini adalah Gaza esok hari. "New Gaza" adalah cetak biru merampas Palestina lewat ekonomi. Tembok, pemukiman, dan BoP adalah tiga wajah penjajahan yang sama.
Cukup sudah diplomasi. Saatnya umat bangkit menuntut penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah. Hanya dengan itulah aneksasi dihentikan dan Al-Aqsa dibebaskan.
Wallahu a'lam bish shawab
