Oleh Antarita Sari
Aktivis Muslimah
Bencana adalah hal yang tidak bisa kita hindari. Sebab bencana, tidak pernah bertanya siapa yang kaya atau miskin, apa agamanya, atau bagaimana latar belakang seseorang. Ketika banjir bandang datang, semua bisa menjadi korban.
Itulah yang terjadi di Nepal pada 26 Agustus 2026. Banjir besar menerjang wilayah utara Nepal setelah terjadi runtuhan es dan batu di kawasan Himalaya. Air bercampur lumpur dan material longsoran menerjang permukiman, jalan, jembatan hingga berbagai fasilitas penting. Hingga awal September, korban jiwa telah mencapai lebih dari 1.200 orang, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang. Sekitar 20.000 rumah juga dilaporkan rusak atau tidak lagi layak dihuni. (apnews.com, Kamis 03/09/2026)
Bisa dibayangkan bagaimana kondisi masyarakat yang selamat. Ada yang kehilangan rumah, harta benda, pekerjaan, bahkan anggota keluarganya. Di tengah kondisi seperti ini, rasa kemanusiaan seharusnya mengalahkan perbedaan.
Muslim Nepal juga pernah mengalami ketegangan
Nepal memang dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk Hindu. Di sisi lain, terdapat komunitas Muslim yang hidup terutama di wilayah selatan Nepal.
Pada akhir 2025, terjadi ketegangan di Birgunj setelah sebuah masjid dirusak. Aksi protes kemudian muncul dari kelompok Muslim dan Hindu sehingga aparat memberlakukan jam malam untuk menjaga situasi tetap terkendali.
Fakta-fakta tersebut tentu menyisakan luka bagi masyarakat Muslim Nepal. Namun, apakah luka itu membuat umat Islam harus berhenti peduli ketika warga Nepal terkena bencana? Tentu tidak.
Islam mengajarkan kepedulian, bukan dendam
Justru di sinilah kemuliaan ajaran Islam terlihat. Ketika orang lain mengalami kesulitan, seorang Muslim tidak diajarkan untuk berkata, “Itu bukan urusan kita.” Apalagi mengatakan, “Biarkan saja, mereka pernah menzalimi umat Islam.” Tidak demikian.
Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Dalam hadist riwayat Ahmad, ath-Thabrani dan ad-Daruquthni, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Karena itu, ketika banjir menghantam Nepal, umat Muslim juga ikut memberikan kepedulian.
Salah satunya melalui Islamic Relief, lembaga kemanusiaan Muslim yang telah bekerja di Nepal selama lebih dari satu dekade. Setelah banjir terjadi, Islamic Relief mengirimkan bantuan darurat kepada masyarakat terdampak di Rasuwa dan Nuwakot. Bantuan yang disiapkan antara lain tempat perlindungan darurat, selimut, kasur dan kebutuhan dasar lainnya. (islamic-relief.org.uk, Kamis 27/08/2026)
Pada 2 September 2026, Islamic Relief mulai mendistribusikan 1.000 paket perlengkapan tempat tinggal darurat kepada korban banjir. Paket tersebut berisi terpal, selimut, bantal dan kasur busa untuk membantu keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Faktanya, kepedulian umat muslim terhadap komunitas lain telah ada sejak zaman dahulu. Pada 1847, saat Irlandia dilanda kelaparan besar, Sultan Abdulmejid I dari Kesultanan Utsmaniyah memberikan bantuan £1.000 untuk meringankan penderitaan rakyat Irlandia, meski berbeda agama dan jauh dari wilayah kekuasaannya. Kisah ini menjadi teladan kepedulian Islam terhadap sesama manusia.
Tidak membalas keburukan dengan keburukan
Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah sebelumnya ada bentrokan antara Hindu dan Muslim di Nepal? Mengapa umat Islam masih mau membantu?” Jawabannya sederhana:
Karena Islam tidak mengajarkan kita menjadi zalim hanya karena pernah dizalimi. Allah SWT berfirman:
ŁَŁَŲ§ ŁَŲ¬ْŲ±ِŁ َŁَّŁُŁ ْ Ų“َŁَŲ¢Łُ ŁَŁْŁ ٍ Ų¹َŁَŁٰ Ų£َŁَّŲ§ ŲŖَŲ¹ْŲÆِŁُŁŲ§ ۚ Ų§Ų¹ْŲÆِŁُŁŲ§ ŁُŁَ Ų£َŁْŲ±َŲØُ ŁِŁŲŖَّŁْŁَŁٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 8)
Ayat ini sangat jelas.
Kalaupun ada individu atau kelompok yang melakukan kekerasan terhadap Muslim, maka kezaliman tersebut harus ditolak dan pelakunya harus diproses secara adil. Tetapi tidak boleh kemudian seluruh umat Hindu Nepal dianggap sebagai pelaku kezaliman. Begitu pula ketika terjadi bencana, penderitaan warga Nepal tidak boleh dijadikan bahan untuk melampiaskan kebencian.
Penting untuk dipahami, membantu korban bencana bukan berarti membenarkan kekerasan terhadap umat Islam. Dua perkara ini harus dibedakan. Jika ada Muslim yang dizalimi, kita tetap wajib membela dan memperjuangkan keadilan. Jika ada warga Nepal yang tertimpa bencana, kita juga boleh bahkan dianjurkan membantu mereka. Keduanya tidak bertentangan.
Saatnya menunjukkan akhlak Islam
Bencana Nepal semestinya menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa umat Islam bukan umat yang mudah menyimpan dendam. Ketika ada yang membutuhkan pertolongan, kita membantu. Ketika ada yang dizalimi, kita membela. Ketika ada kezaliman, kita menuntut keadilan. Dan ketika ada bencana, kita hadir untuk meringankan penderitaan.
Sebab Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seorang Muslim bukan hanya terlihat ketika ia membela dirinya sendiri, tetapi juga ketika ia mampu berbuat baik kepada orang lain meskipun berbeda agama dan latar belakang.
Wallahu a'lam bishowab.
