Oleh Rahmawati Ayu Kartini
Pemerhati Sosial
Keputusan mendadak mundurnya Ketua Komite Jajaran Kerja Pemerintah (Government Action Review Committee) di Jalur Gaza serta pembubaran Komite Darurat, merupakan manuver politik dan administratif strategis Hamas yang melompat jauh ke depan. Ini sebuah upaya nyata untuk mendobrak kebuntuan tata kelola pemerintahan di tengah jalinan negosiasi internal dan regional yang super rumit. (cnbcindonesia.com, 9/07/2026)
Dunia diuji komitmennya
Langkah berani Hamas ini menunjukkan sebuah skenario transisi yang telah dihitung matang; peralihan dari fase komitmen di atas kertas menuju fase eksekusi riil di lapangan. Analis politik terkemuka, Wisam Afifa, menilai langkah mundur kolektif ini sebagai titik balik fundamental dalam arah kebijakan domestik di Gaza. Menurutnya, pengunduran diri tersebut mengirimkan pesan yang sangat benderang kepada dunia luar. “Ini bukan sekadar kocok ulang (reshuffle) posisi, melainkan sinyal tegas bahwa otoritas di Gaza (Hamas) bersikeras menyudahi fase perdebatan dan langsung menyeberang ke fase eksekusi,” ujar Afifa.
Afifa menambahkan bahwa dengan pembubaran ini, faksi perlawanan di Gaza secara cerdas telah “melempar bola panas” ke halaman bermain para aktor luar, mulai dari negara-negara mediator, pihak penjamin regional, hingga administrasi Washington. Mereka kini ditantang untuk membuktikan komitmen internasional yang selama ini kerap mereka gaungkan dalam berbagai forum meja bundar.
Di balik penyerahan senjata Hamas
Sebuah draf diperoleh kantor berita Al Jazeera, menyebutkan dalam 14 hari kedepan Hamas dan Faksi Palestina lainnya akan serahkan senjata ke Komite Nasional Gaza. Draf itu menyebutkan bahwa Komite Nasional Gaza (NCAG/ Bentukan BOP) adalah satu-satunya lembaga yang berhak menyimpan, menahan, atau mengendalikan senjata di Gaza. Tak ada senjata yang boleh dipindahkan ke pihak non Palestina. Draf juga menetapkan, proses inventarisasi senjata berat, terowongan, gudang senjata dan pabriknya harus segera dilakukan dalam 14 hari. "Industri senjata pejuang," nyatanya tak pernah ada. Karena senjata mereka buatan rumahan, senapan rakitan biasa dan mungkin tersisa hanya sedikit saja sekarang.
Aneka ranjau pejuang pun nyatanya adalah daur ulang dari roket musuh, atau rakitan dari panci dan tabung gas. Jadi, apa yang harus diserahkan..??
Mereka bermakar, Allah sebaik-baik pembuat makar
Sekilas, draf ini terkesan merugikan pejuang dalam hal penyerahan senjata. Tapi Hamas mampu menekan egonya dan mengutamakan adanya "Negara Gaza," bukan lagi "Negara Hamas." Karena ada keuntungan dibalik draf ini:
Pertama, tadinya Hamas dianggap organisasi teroris. Tapi dengan diserahkannya senjata baik milik Hamas, Fatah, Jihad Islam, sampai Front Populer ke NCAG, memberikan peluang dibentuknya tentara nasional Palestina oleh NCAG yang pada akhirnya tetap dikendalikan oleh faksi-faksi yang ada di Palestina terutama Hamas.
Dengan dibentuknya tentara nasional Palestina di bawah NCAG, perlawanan justru legal dan setara dengan tentara negara lainnya.
Kedua, posisi Komite Nasional Gaza (NCAG) bisa lebih kuat daripada otoritas Palestina itu sendiri yang sebelumnya dikendalikan oleh Hamas. Karena NCAG mempunyai legitimasi internasional (bentukan BOP) serta memiliki tentara dan tidak dikuasai satu faksi seperti Hamas atau Fatah saja.
Musuh-musuh Islam bermakar membentuk Board of Peace (BOP) dengan tujuan mengendalikan Gaza, karena selama ini Gaza sangat sulit ditundukkan. Namun dengan izin Allah, justru dengan perantara BOP ini Gaza malah bertambah kuat dan makin solid. Demikianlah jika Allah menghendaki.
Peristiwa seperti ini mirip dengan Perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dengan kafir Quraisy. Seolah-olah umat Islam dirugikan karena perjanjian tersebut, kenyataannya justru dibaliknya terdapat strategi dan kejeniusan Rasulullah Saw hingga umat Islam mendapat keuntungan besar. Allah berfirman tentang hal ini dalam Surat Ali Imran ayat 54:
,(وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ
وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَࣖ). Artinya: "Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (pencipta rencana)".
Demikianlah, para pejuang Hamas sudah melawan Israel selama 40 tahun, pejuang Fatah sudah 66 tahun. Mereka sangat berpengalaman hadapi perjanjian yang terkesan merugikan. Tapi selama itu, nyatanya perlawanan selalu menemukan celah untuk melawan.
Wallahu a'lam bishowab.
