Oleh Eni Purwasih, M.Psi.,
Psikolog
Gen Z atau sering dikenal sebagai digital native merupakan generasi yang lahir antara tahun 1997 dan 2012. Mereka tumbuh dan berkembang di era di mana internet, media sosial, dan perangkat teknologi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Generasi Z juga sering disebut sebagai generasi yang paling rentan mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan generasi-generasi lainnya.
Dilansir dari Data GoodStats.id (24 Juni 2026) menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan kelompok usia yang paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan kesehatan mental. Hal ini dikarenakan Generasi Z menghadapi banyak tekanan dari berbagai arah, seperti kekhawatiran terhadap masa depan terkait karier, stabilitas ekonomi, dan tekanan finansial. Di sisi lain, Generasi Z dituntut untuk selalu produktif, sukses, dan mampu memenuhi standar kehidupan yang terus meningkat. Akibatnya, tidak sedikit yang merasa gagal, kehilangan arah, dan mempertanyakan masa depannya.
Kapitalisme Sekuler Akar Masalahnya
Sistem kapitalis sekuler turut memperkuat kondisi ini. Konsep memisahkan agama dari kehidupan yang berorientasi pada materi dan keuntungan membuat banyak Generasi Z bersaing tanpa memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh secara sehat. Akibatnya, nilai-nilai spiritual mulai kehilangan perannya sebagai pedoman dalam menyelesaikan persoalan hidup. Serangan budaya konsumtif, individualisme, dan pencarian validasi melalui media sosial terus digulirkan. Generasi Z akhirnya disibukkan dengan pencapaian finansial, popularitas, atau pengakuan publik demi membangun citra diri. Alih-alih meningkatkan potensi besar para Generasi Z, yang ada malah melemah karena diarahkan untuk memenuhi kepentingan pasar, bukan untuk memberikan kontribusi bagi peradaban.
Di sisi lain, sebagian Generasi Z mulai berani menyuarakan keadilan dan peduli terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan. Sikap kritis tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak sepenuhnya apatis terhadap keadaan. Justru keresahan yang mereka rasakan dapat menjadi titik awal munculnya kesadaran untuk mencari perubahan yang lebih mendasar. Namun lagi-lagi negara belum sepenuhnya menjalankan fungsi pembinaan dan perlindungan terhadap Generasi Z.
Sistem Islam Solusinya
Islam memiliki paradigma yang berbeda dalam memandang berbagai persoalan yang melanda dunia saat ini, khususnya Generasi Z. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh karena secara komprehensif mampu mengatur kehidupan manusia. Ajaran Islam tidak hanya membimbing hubungan manusia dengan Allah Swt., tetapi juga mengatur hubungan antarsesama manusia, sistem ekonomi, pendidikan, pemerintahan, hingga kehidupan sosial.
Ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah, kehidupan akan dibangun di atas prinsip keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan. Inilah makna Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yang menghadirkan ketenteraman dan keselamatan bagi seluruh manusia. Allah Swt. berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati tidak berasal dari materi, popularitas, ataupun pengakuan manusia, melainkan dari kedekatan kepada Allah Swt.
Lahirnya generasi muda yang memiliki karakter luar biasa telah menjadi bukti sejarah peradaban Islam. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Al-Fatih dan Mus’ab bin Umair menunjukkan bahwa Islam mampu membentuk pribadi yang kuat secara akidah, unggul dalam ilmu, visioner, serta berkontribusi besar bagi peradaban. Sebab, generasi muda adalah agen perubahan. Mereka bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki peran penting dalam membangun peradaban. Oleh karena itu, generasi muda perlu menyadari potensi besar yang dimiliki dan mengarahkannya untuk kemaslahatan umat.
Sikap kritis dan keresahan yang dimiliki generasi muda hendaknya diarahkan kepada upaya membangun perubahan yang lebih mendasar, bukan sekadar mencari pelarian sementara. Islam memberikan arah perjuangan tersebut melalui pembentukan kepribadian Islam, penguasaan ilmu pengetahuan, serta keterlibatan aktif dalam memperjuangkan kehidupan yang diatur berdasarkan syariat Allah Swt.
Ketika Generasi Z memahami Islam sebagai sebuah mabda’ (ideologi kehidupan) dan mengembannya sebagai pedoman dalam berpikir serta bertindak, maka kecemasan tidak lagi menjadi akhir dari perjalanan mereka. Sebaliknya, kegelisahan itu akan berubah menjadi energi perjuangan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil, bermartabat, dan penuh keberkahan. Dari depresi menuju resistensi, dan dari resistensi menuju kebangkitan peradaban Islam yang akan membawa perubahan bagi umat.
Selanjutnya, negara berfungsi sebagai ra’in (pengurus) dan pelindung rakyat. Negara tidak sekadar menjadi regulator, tetapi menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang memadai, keamanan, serta menciptakan iklim sosial yang mendukung perkembangan generasi muda. Dengan demikian, generasi muda tidak dibiarkan menghadapi tekanan hidup sendirian, melainkan memperoleh dukungan sistem yang memungkinkan mereka berkembang secara optimal.
Wallahualam bissawab.
