Beban Berlapis Generasi Z: Antara Tekanan Ekonomi dan Ilusi Hedonisme



Oleh Tinie Andriyani 

Aktivis Muslimah


Generasi Z tumbuh di era yang bergerak dengan kecepatan tinggi dan menuntut adaptasi tanpa henti. Lahir di tengah ekosistem digital, mereka dikenal akrab dengan teknologi, kreatif, serta memiliki fleksibilitas tinggi. Akan tetapi, di balik ketangkasan tersebut, tersimpan kelelahan kronis yang jarang terekspos. Banyak di antara mereka yang telah memasuki dunia kerja, tetapi tetap dihantui oleh rasa tidak aman. Sebagian besar tampak cerah di linimasa media sosial, tapi diam diam memendam kecemasan akut dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Hari ini, Gen Z seolah terhimpit oleh tiga masalah krusial sekaligus, yaitu tekanan ekonomi yang kian menekan, tawaran budaya hedonis yang menjanjikan pelarian instan, serta kekosongan makna hidup yang membuat segala pencapaian terasa hampa. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa solusi mendasar, kerugiannya bukan hanya ditanggung oleh satu kelompok usia, melainkan masa depan peradaban bangsa secara keseluruhan, sebab kualitas suatu bangsa sangat bergantung pada ketahanan generasi mudanya.

Potret Gen Z hari ini tidak dapat dipisahkan dari realitas ekonomi yang kian ketat. Data dari berbagai survei finansial mutakhir menunjukkan bahwa hampir separuh populasi Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Kecemasan ini beralasan, mengingat biaya hidup terus meroket tajam, sementara upah riil dan kepastian kerja tidak bergerak seimbang dengan kebutuhan dasar. Banyak anak muda yang sudah bekerja keras dari pagi hingga petang, namun tetap merasa tertinggal dan kesulitan menjangkau kebutuhan primer seperti kepemilikan hunian. Beban finansial ini menuntut mereka untuk bersikap dewasa sebelum waktunya, memaksa mereka memikirkan instrumen investasi, dana darurat, dan jaminan hari tua di usia yang masih sangat belia.

Ironisnya, di tengah ketidakpastian tersebut, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup konsumtif justru menunjukkan tren peningkatan. Bagi sebagian Gen Z, tindakan ini bukan sekadar gengsi, melainkan pelarian emosional darurat demi meredam stres kerja. Ditambah gempuran algoritma media sosial yang tanpa henti memamerkan kesuksesan semu orang lain, muncullah sindrom FOMO (Fear of Missing Out) dan perbandingan sosial yang tidak pernah berkesudahan. Akibatnya, lahirlah generasi pekerja keras yang terjebak dalam lingkaran kelam (money.kompas.com, Rabu, 12/8/2026).

Krisis berlapis ini tentu tidak muncul secara kebetulan, melainkan buah dari sistem sosial ekonomi yang gagal menjalankan fungsi proteksinya terhadap rakyat. Sistem kapitalis menempatkan negara sebatas sebagai regulator pasar, bukan sebagai penanggung jawab utama kesejahteraan. Sektor sektor vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar bebas, sehingga harganya melambung tinggi dan sulit dijangkau.

Sementara itu, kekayaan sumber daya alam yang seharusnya menjadi milik umum dan dikelola untuk kemakmuran rakyat justru jatuh ke tangan segelintir korporasi. Akibatnya, Gen Z dipaksa berjuang seorang diri di tengah lemahnya ekonomi tanpa jaring pengaman sosial yang memadai. Situasi ini kemudian diperparah oleh dominasi ideologi sekuler-liberal yang memisahkan agama dari ranah publik dan privat. Ketika standar halal dan haram diabaikan, kebahagiaan direduksi sebatas materi dan kepuasan indrawi semata. Budaya konsumtif dipuja, dan media sosial bertindak sebagai bahan bakar yang memelihara rasa kurang dalam diri setiap individu.

Menghadapi problem sistemik ini, solusi parsial seperti kelas literasi keuangan atau seminar motivasi semata tentu tidak memadai. Islam hadir sebagai sistem kehidupan yang komprehensif, menawarkan solusi mendasar yang tuntas dan menyeluruh. Solusi pertama terletak pada peran negara sebagai penanggung jawab utama kesejahteraan rakyat. Dalam sistem pemerintahan Islam, penguasa (Imam) memegang amanah besar untuk mengurus urusan umatnya. Hal ini ditegaskan secara langsung oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya;

“Imam adalah pengurus dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya” (HR. Bukhari).

Melalui pengelolaan Sumber Daya Alam yang sahih, di mana kepemilikan umum dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat, Baitul Mal akan memiliki pundi pundi yang cukup untuk membiayai pendidikan gratis berkualitas, layanan kesehatan paripurna, serta membuka lapangan kerja seluas luasnya. Dengan demikian, Gen Z tidak akan dibiarkan berjuang sendirian melawan ganasnya biaya hidup.

Solusi kedua, Islam secara tegas menutup pintu hedonisme dan melindungi generasi dari kerusakan moral. Negara menerapkan hukum syarak dalam seluruh lini kehidupan, termasuk menyaring informasi publik agar tidak mendominasi ruang gerak generasi dengan konten destruktif, pornografi, maupun gaya hidup bebas yang memicu konsumtiv. Allah swt. berfirman;

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (TQS Al Isra, ayat 26-27).

Sebagai gantinya, Islam menanamkan sifat qanaah (merasa cukup dengan rezeki yang halal), hidup bersahaja, serta membelanjakan harta pada pos pos yang mendatangkan ridha Allah. Healing yang hakiki bagi seorang Muslim bukanlah pelarian pada konsumsi material, melainkan ketenangan jiwa yang diraih melalui dzikrullah, amal saleh, dan interaksi di tengah komunitas yang senantiasa saling menguatkan dalam kebaikan.

Solusi ketiga, Islam membangun paradigma hidup yang lurus dan kokoh melalui pemahaman akidah yang benar. Manusia diciptakan bukan untuk mengalir begitu saja mengikuti arus zaman, melainkan mengemban misi agung ibadah. Allah swt. berfirman;

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (TQS Adz Dzariyat, ayat 56).

Dengan landasan akidah ini, aktivitas bekerja bernilai ibadah, proses belajar menjadi sarana pencerahan, dan dinamika perjuangan hidup diletakkan dalam kerangka meraih rida Ilahi. Rasulullah saw.bersabda;

“Sungguh menakjubkan perkara orang beriman. Semua urusannya adalah baik baginya” (HR. Muslim).

Berbekal visi akhirat ini, Gen Z tidak akan mudah goyah atau rapuh mentalnya di hadapan tekanan dunia, sebab mereka memahami bahwa setiap kesulitan di dunia adalah ujian bernilai pahala yang pasti ada batasnya.

Pada akhirnya, harus diakui bahwa Gen Z hari ini tidak rusak atas kehendak mereka sendiri; mereka adalah cermin dari kegagalan sistem yang berlaku dalam mengurus rakyatnya. Self reward konsumtif tidak akan pernah mampu menyembuhkan luka struktural yang menganga. Yang mutlak dibutuhkan saat ini adalah perubahan mendasar menuju tatanan kehidupan yang adil.

Islam telah menyediakan blueprint peradaban yang sempurna: negara yang hadir melindungi dan menyejahterakan, masyarakat yang peduli menjaga kontrol moral, serta individu-individu yang cerdas mengenali tujuan penciptaannya. Sudah saatnya kita berhenti menyadarkan solusi pada pendekatan menyalahkan korban (victim blaming), dan mulai serius membenahi akar masalah sistemik yang melahirkannya.

Wallahu a'lam bishawab.

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,96,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,2,Depok,1,Dharmasraya,43,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,256,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,215,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,207,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,816,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,4,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,5,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,658,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Beban Berlapis Generasi Z: Antara Tekanan Ekonomi dan Ilusi Hedonisme
Beban Berlapis Generasi Z: Antara Tekanan Ekonomi dan Ilusi Hedonisme
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5H1E9Au_gvrT6XTgGi4NhIeLmPVqvrk4b_vERjFn17s-9BROgSTKK5PDXv3WZqxe4Le9C-Sr982Bn_rOo0PHWx1r1_GOvpHXGINS9dFdf6YmKdU_dypyTWiVmDpaDDtxh9zzMl_GXYxYvjGEEAGLmEY5ECT_JStJnaHtJEneW1wKx1mWiqpUqUZ6duvkL/s320/WhatsApp%20Image%202026-08-21%20at%2009.10.26.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5H1E9Au_gvrT6XTgGi4NhIeLmPVqvrk4b_vERjFn17s-9BROgSTKK5PDXv3WZqxe4Le9C-Sr982Bn_rOo0PHWx1r1_GOvpHXGINS9dFdf6YmKdU_dypyTWiVmDpaDDtxh9zzMl_GXYxYvjGEEAGLmEY5ECT_JStJnaHtJEneW1wKx1mWiqpUqUZ6duvkL/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-08-21%20at%2009.10.26.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/08/beban-berlapis-generasi-z-antara.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/08/beban-berlapis-generasi-z-antara.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content