Oleh Jeina Fatira
Pelajar
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi
sorotan. Dalam aksi demonstrasi di Surabaya pada 27 Juni 2026, mahasiswa yang
tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus tidak hanya meminta evaluasi terhadap
program MBG, tetapi juga menuntut perbaikan kondisi ekonomi yang semakin berat.
Mereka mengaitkan MBG dengan kenaikan harga BBM Pertamax, meningkatnya biaya
hidup, serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia,
Ardi Prayitno, menjelaskan bahwa mahasiswa tidak melihat MBG sebagai program
yang berdiri sendiri. Menurutnya, MBG dianggap bagian dari keseluruhan
kebijakan pemerintah. Ketika harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat melemah,
dan kondisi ekonomi tidak membaik, maka program sosial seperti MBG pun ikut
menjadi sasaran kritik. Di atas kertas, MBG memang merupakan program yang baik.
Namun, ketika ekonomi rakyat sedang goyah, manfaat program tersebut dinilai
tidak cukup untuk menjawab persoalan yang lebih mendasar.
Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan tidak cukup
diselesaikan dengan menghadirkan satu program bantuan. Akar masalahnya terletak
pada sistem ekonomi yang masih bergantung pada utang, pajak, dan kebijakan yang
sering kali membebani rakyat. Akibatnya, negara kesulitan memenuhi kebutuhan
masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Berbeda
dengan sistem Islam. Islam memiliki solusi yang bersifat ideologis dan
menyentuh akar persoalan. Dalam Islam, negara adalah pengurus dan pelayan
rakyat yang wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu,
termasuk pangan dan pendidikan. Pembiayaan negara tidak bergantung pada utang,
melainkan berasal dari pengelolaan kepemilikan umum seperti sumber daya alam,
harta fai, kharaj, jizyah, serta zakat yang dikhususkan bagi golongan yang
berhak menerimanya.
Dengan pengelolaan yang sesuai syariat, negara
memiliki sumber pemasukan yang kuat sehingga mampu menjamin kesejahteraan
rakyat tanpa membebani mereka dengan berbagai kebijakan yang memberatkan.
Inilah solusi Islam yang tidak hanya mengatasi dampak, tetapi juga
menyelesaikan akar persoalan secara menyeluruh.
Maka,
sudah seharusnya kita kembali pada aturan Islam. Aturan hakiki yang berasal dari Sang
Pencipta manusia, Allah Swt. Wallahu'alam
bissawab.
