Oleh Nurlaelasari
Pendidik Generasi
Wajah yang dulu bersinar terang
Kini redup kehilangan gemilang
Seakan ada kisah yang terpendam
Menjadi luka yang kian mendalam
Langkah kecil kehilangan pegangan
Menapaki hari dalam kecemasan
Seolah terjebak dalam ketidakamanan
Menyimpan luka tanpa ungkapan
Tangis lirih tak selalu terdengar
Meski hati terus bergetar
Mencari kasih dan perlindungan
Di tengah dunia yang penuh ancaman
Bait-bait lagu di atas menggambarkan kondisi
anak-anak di zaman sekarang yang penuh ancaman. Masa anak-anak seharusnya
menjadi masa yang penuh kebahagiaan. Pada fase inilah mereka belajar mengenal
dunia, menumbuhkan mimpi, serta membangun harapan untuk masa depan. Namun,
tidak semua anak berkesempatan menikmati masa kecil yang indah. Di balik senyum
yang tampak di wajah mereka, ada sebagian anak yang harus berhadapan dengan
kekerasan, penelantaran, dan berbagai ancaman yang mengganggu tumbuh kembang
mereka.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Humas Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 18 Mei 2026. Dalam laporan periode Januari hingga April 2026, KPAI menerima 426 pengaduan yang berkaitan dengan perlindungan anak. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekerasan terhadap anak masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi bangsa ini. Dikutip dari kpai.go.id, Senin (18/5/2026)
Kasus yang dilaporkan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga mencakup kekerasan psikis, pengasuhan yang bermasalah, kejahatan seksual terhadap anak, serta berbagai ancaman yang muncul melalui ruang digital. Fakta ini menunjukkan bahwa bahaya dapat datang dari berbagai arah. Anak-anak tidak hanya menghadapi ancaman di luar rumah, tetapi juga di lingkungan, yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka.
Situasi ini tentu menimbulkan keprihatinan yang mendalam. Anak yang seharusnya tumbuh dalam suasana penuh kasih sayang, justru harus berhadapan dengan ketakutan dan tekanan yang tidak seharusnya mereka rasakan. Padahal, setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, belajar, dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan nyaman.
Dampak dari kekerasan terhadap anak tidak dapat dianggap sepele. Banyak korban yang mengalami trauma berkepanjangan, kehilangan rasa percaya diri, serta mengalami gangguan emosional yang memengaruhi kehidupan mereka di masa depan. Luka fisik mungkin dapat sembuh dalam waktu tertentu, tetapi luka batin sering kali membekas lebih lama.
Tidak hanya itu, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekerasan berisiko mengalami hambatan dalam pendidikan dan perkembangan kepribadiannya. Mereka dapat kehilangan semangat belajar, kesulitan membangun hubungan sosial, bahkan berpotensi mengulangi pola perilaku yang pernah mereka alami. Jika kondisi ini terus terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan seorang anak, tetapi juga kualitas generasi yang akan datang.
Persoalan ini tentu tidak muncul tanpa sebab. Salah satu faktor yang perlu dicermati adalah semakin memudarnya nilai-nilai agama dalam kehidupan. Ketika manusia menjauh dari tuntunan agama, standar benar dan salah sering kali ditentukan oleh kepentingan pribadi semata. Akibatnya, rasa tanggung jawab terhadap amanah yang dimiliki menjadi semakin lemah.
Tidak sedikit orang tua yang terjebak dalam kesibukan dan berbagai tuntutan hidup, sehingga kurang memberikan perhatian kepada anak-anak mereka. Ada pula yang lebih fokus mengejar kebutuhan duniawi hingga melupakan tanggung jawab mendidik dan membimbing anak. Padahal, anak membutuhkan kehadiran orang tua, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan materi.
Keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak. Dari keluargalah anak mengenal kasih sayang, adab, tanggung jawab, serta nilai-nilai kehidupan. Apa yang dilihat dan dirasakan oleh anak dalam keluarga akan menjadi fondasi yang membentuk kepribadiannya di masa depan. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan perlindungan dan pendidikan yang terbaik bagi anak.
Selain faktor keluarga, derasnya arus informasi di era digital juga menjadi tantangan tersendiri. Berbagai konten negatif dapat diakses dengan mudah tanpa batas. Jika tidak dibekali dengan pemahaman yang benar dan pengawasan yang memadai, anak-anak akan sangat rentan terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merusak moral dan perilaku mereka.
Islam memberikan perhatian yang besar terhadap perlindungan anak. Dalam Islam, anak dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai pelengkap keluarga, melainkan karunia yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.
Allah Swt. berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu..." (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa menjaga keluarga merupakan kewajiban setiap muslim. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga mencakup pendidikan, pembinaan akhlak, serta perlindungan dari berbagai hal yang dapat membahayakan kehidupan mereka.
Islam mengajarkan agar orang tua membangun hubungan yang penuh kasih sayang dengan anak-anaknya. Anak perlu dididik dengan kelembutan, diberikan teladan yang baik, serta diarahkan kepada nilai-nilai yang benar. Ketika keluarga dibangun di atas fondasi keimanan, akan tumbuh suasana yang penuh cinta, ketenangan, dan tanggung jawab.
Di samping itu, Islam juga menanamkan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap muslim diperintahkan untuk saling menasihati dalam kebaikan dan peduli terhadap kondisi sesama. Dengan adanya kepedulian tersebut, perlindungan terhadap anak tidak hanya menjadi tugas keluarga, tetapi juga menjadi perhatian bersama.
Pada akhirnya, perlindungan anak bukan sekadar persoalan hukum atau kebijakan semata. Perlindungan anak adalah tanggung jawab moral yang harus diwujudkan melalui keluarga yang kuat, lingkungan yang peduli, dan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai kebaikan. Ketika anak-anak mendapatkan haknya untuk tumbuh dalam keamanan dan kasih sayang, mereka akan berkembang menjadi generasi yang mampu membawa kebaikan bagi masyarakat dan bangsa.
Jeritan anak-anak yang menjadi korban kekerasan tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa perhatian. Setiap tangisan mereka adalah pengingat bahwa masih ada amanah yang harus dijaga dengan lebih baik. Sudah saatnya keluarga dan masyarakat kembali menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam mendidik serta melindungi generasi. Sebab, ketika anak-anak tumbuh dalam keimanan, kasih sayang, dan keamanan, harapan akan masa depan yang lebih baik akan selalu ada. Anak dalam bahaya, Islam membawa cahaya.
Wallahualam bishawab
