Oleh : Mutiara Dwi Persada (Aktivis Dakwah Kampus)
Generasi Z tumbuh di tengah perubahan dunia yang sangat cepat. Namun, di balik kemudahan teknologi dan akses informasi yang besar, banyak dari mereka menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Berbagai survei menunjukkan bahwa Gen Z menjadi salah satu generasi yang banyak mengalami kecemasan terhadap masa depan dan persoalan kesehatan mental.
Penyebabnya pun beragam. Tekanan sosial dari media sosial, tuntutan pencapaian, perbandingan kehidupan dengan orang lain, ketidakpastian karier, hingga kekhawatiran terhadap masa depan menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis generasi muda hari ini.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi persoalan global. Banyak anak muda merasa ragu terhadap masa depan karena menghadapi kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penuh ketidakpastian. Akibatnya, sebagian Gen Z menjadi lebih kritis dan skeptis terhadap sistem yang berjalan.
Namun, dari kondisi tersebut juga muncul gelombang kesadaran baru. Kecemasan yang dialami sebagian anak muda mulai berubah menjadi dorongan untuk mempertanyakan realitas dan mencari perubahan. Hal ini menjadi peluang bagi Gen Z untuk bangkit dan melakukan resistensi terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Krisis Jati Diri di Tengah Peradaban Sekuler-Kapitalis
Berbagai kecemasan yang dialami Gen Z tidak dapat dilepaskan dari krisis multidimensi yang terjadi hari ini. Persoalan ekonomi, sosial, pendidikan, hingga budaya saling berkaitan dan menciptakan tekanan besar bagi generasi muda.
Di tengah sistem kehidupan sekuler-kapitalis, manusia sering diarahkan untuk mengejar kesuksesan berdasarkan ukuran materi, popularitas, dan pencapaian duniawi. Akibatnya, banyak pemuda mengalami tekanan karena nilai diri mereka sering dikaitkan dengan standar keberhasilan yang sempit.
Potensi besar pemuda sebagai generasi penerus juga dapat melemah ketika lingkungan sosial justru membentuk mereka jauh dari tujuan hidup yang hakiki. Arus hiburan, budaya konsumtif, serta gaya hidup yang tidak berlandaskan nilai agama dapat membuat generasi muda kehilangan arah dan jati diri.
Selain itu, negara yang seharusnya hadir memberikan perlindungan dan pelayanan bagi generasi muda sering kali belum mampu menyelesaikan akar persoalan yang ada. Bahkan, Gen Z tidak jarang mendapatkan stigma sebagai generasi yang lemah, padahal mereka tumbuh dalam kondisi zaman yang penuh tantangan.
Namun, di balik kecemasan tersebut terdapat potensi besar. Sikap kritis dan keinginan mencari perubahan dapat menjadi awal kebangkitan generasi muda. Jika diarahkan dengan pemahaman yang benar, energi perubahan Gen Z dapat menjadi kekuatan besar bagi perbaikan masyarakat.
Membangun Generasi dengan Islam
Islam memandang pemuda sebagai bagian penting dalam perubahan peradaban. Krisis yang melanda manusia membutuhkan solusi yang menyentuh akar persoalan, bukan hanya memperbaiki dampak permukaan.
Islam hadir sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan dan membawa rahmat bagi seluruh manusia. Allah SWT berfirman:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan akan menghadirkan arah hidup yang jelas, karena manusia tidak hanya dinilai dari pencapaian materi, tetapi dari ketaatan kepada Allah dan kebermanfaatannya bagi sesama.
Dalam sejarah Islam, generasi muda memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Mereka tumbuh dengan kepribadian Islam yang kuat, memiliki ilmu, serta menguasai berbagai bidang keilmuan. Pemuda tidak hanya menjadi objek perubahan, tetapi menjadi penggerak perubahan.
Islam juga menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam mengurus rakyat. Negara hadir untuk menjamin kebutuhan masyarakat, memberikan pendidikan, menjaga keamanan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi berkualitas.
Dalam pandangan sebagian umat Islam, penerapan Islam secara menyeluruh melalui institusi negara Islam (Khilafah) menjadi jalan untuk menghadirkan sistem yang berlandaskan aturan Allah dan menjadikan kemaslahatan umat sebagai tujuan utama.
Karena itu, Gen Z perlu diarahkan agar tidak berhenti pada rasa cemas dan kritik semata, tetapi mampu membangun kesadaran dan mengambil peran dalam perubahan. Dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, generasi muda dapat memiliki visi besar untuk membangun masa depan yang lebih baik. Masa depan emas bukan hanya impian, tetapi dapat diwujudkan melalui generasi yang memiliki ilmu, keimanan, kepedulian terhadap umat, dan semangat perjuangan.
Wallahu'alam bishowab
