Oleh Heni Ummu Faiz
Ibu Pemerhati Umat
“Dan sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (TQS. Al-Hajj: 40)
Ayat ini menjadi penguat bagi penduduk Palestina untuk tetap bertahan di bumi para nabi, meski derita belum juga reda. Rumah tinggal rata dengan tanah, sekolah luluh lantak, orang tua gugur di depan mata. Bagi anak-anak, itu bukan sekadar kabar duka. Itu neraka yang nyata. Ironisnya, kekejaman justru makin menjadi, sementara sorotan dunia tersedot ke gegap gempita Piala Dunia. Seolah mata global sengaja dipalingkan dari Gaza.
Berbagai media melaporkan fenomena yang mengiris hati: banyak anak Gaza mengalami guncangan jiwa berat hingga tak sanggup lagi berbicara. Dunia psikologi menyebutnya mutisme traumatis. Ini bukti konkret bahwa perang tidak hanya merenggut nyawa dan melukai tubuh, tetapi juga meremukkan mental generasi Palestina. Di bawah bayang-bayang ledakan, kehilangan keluarga, dan ancaman maut yang tak putus, sebagian anak bahkan tak mampu lagi mengutarakan takut dan sedihnya lewat kata.
Realitas ini menegaskan bahwa luka Gaza tak berhenti pada angka korban dan puing bangunan. Ada kerusakan psikis yang akan mereka pikul seumur hidup. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam dekapan aman dan kasih sayang justru dipaksa melewati masa kecil yang penuh teror, kehilangan, dan trauma yang mengakar.
Enam bulan berlalu sejak gencatan senjata diumumkan. Namun rentetan kekerasan tak kunjung reda. Komisioner Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menyatakan serangan Israel masih terjadi berulang. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 846 jiwa, termasuk perempuan dan anak, kembali gugur pasca-gencatan senjata.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 20.000 anak Gaza dilaporkan tewas akibat agresi Israel, dan lebih dari 41.000 lainnya luka-luka. Total korban meninggal telah menembus 72.000 jiwa, mayoritas warga sipil, dengan korban luka melampaui 172.000 orang (detikNews.com, 30-6-2026).
Genosida Senyap yang Menggerus Kemanusiaan
Anak-anak Gaza yang kehilangan suara adalah bukti paling kasatmata dari dahsyatnya agresi militer Israel. Ini bukan “konflik biasa”. Ketika seorang anak kehilangan bahasa, sesungguhnya kemanusiaannya sedang dicabut. Dunia menyebutnya krisis kemanusiaan, tetapi serangan, blokade, dan penghancuran tetap berlangsung. Tubuh mereka dibunuh, jiwanya dilumpuhkan.
Kondisi ini semestinya menggugah kepedulian kaum muslimin. Bukan malah bungkam atau sekadar mengecam tanpa daya. Bahkan PBB pun terlihat lumpuh menghadapi entitas Zionis yang tanpa malu merampas tanah para nabi.
Bukan pula hanya dengan terapi penyembuhan trauma tapi akar masalah harus dihilangkan.
Penjajahan ini bukan hanya soal meratakan infrastruktur. Ini tentang menghancurkan masa depan sebuah generasi. Israel paham betul: anak Palestina tak boleh punya hari esok untuk menjaga dan memimpin tanah airnya.
Karena itu, sebagai saudara seiman, kita wajib bersuara dan membongkar kebenaran derita mereka. Diam bukan pilihan. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang di pagi hari tidak peduli urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Hudzaifah bin Al-Yaman dan Abu Dzar Al-Ghifari)
Butuh Langkah Politik Nyata, Bukan Sekadar Kecaman
Menghentikan penjajahan butuh kekuatan politik setingkat negara, bukan hanya pernyataan sikap. Sayangnya, negeri-negeri muslim hari ini terbelenggu sekat nasionalisme. Umat butuh dorongan politik untuk bersatu. Dan persatuan itu meniscayakan adanya institusi. Sejarah mencatat, Khilafah pernah menyatukan potensi umat: militer, ekonomi, hingga diplomasi. Dengan satu komando, pembelaan terhadap Palestina bukan lagi angan.
Membangun Kesadaran Politik Umat
Pembebasan Palestina tidak akan jatuh dari langit. Ia menuntut kerja politik untuk menyadarkan umat bahwa nasib Al-Aqsha adalah nasib kita bersama. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta, kasih sayang, dan empati mereka bagaikan satu tubuh.” Membiarkan Palestina terjajah berarti membiarkan tubuh kita sendiri terluka. Maka, membangun kesadaran akan pentingnya persatuan di bawah kepemimpinan Islam adalah pintu awal agar derita anak Gaza benar-benar usai.
Khatimah: Jangan Biarkan Gaza Selamanya Bisu
Sejuta anak trauma. Ribuan kehilangan suara. Ini bukan statistik. Ini sirine darurat.
Jika dunia hanya sanggup mengirim selimut dan biskuit sementara bom terus dijatuhkan, berarti kita sedang melanggengkan penderitaan. Anak Gaza butuh lebih dari donasi. Mereka butuh masa depan. Dan masa depan itu hanya hadir saat Palestina merdeka. Pembebas hakiki atas Palestina adalah hadirnya institusi pemersatu umat: Khilafah.
Masalahnya bukan minim air mata untuk Gaza, melainkan absennya kekuatan politik untuk membebaskannya. Saatnya umat berpikir besar: bersatu, bangkit, dan wujudkan kembali perisai hakiki yang mampu menghentikan segala bentuk penjajahan.
Sebab diam kita hari ini, adalah luka mereka esok hari.
Wallahualam bissawab.
