Sekularisasi Pendidikan dan Lahirnya Generasi Pragmatis

 



Oleh Eviyanti

Pegiat Literasi

Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan seremonial dan slogan optimistis. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan kondisi yang makin buram dan memprihatinkan. Salah satunya yang dikutip oleh media online tvonenews.com, hari Rabu (22-0402026), dua pelaku kasus penganiayaan pelajar di Bantul berhasil ditangkap aparat kepolisian setelah melalui serangkaian penyelidikan. Korban, Ilham Dwi Saputra (16), meninggal dunia usai mengalami pengeroyokan brutal yang terjadi pada 14 April 2026 di wilayah Pandak. Berbagai fakta menguatkan hal ini. Kasus kekerasan di kalangan pelajar terus meningkat, hingga penyiraman air keras terhadap pelajar. Data juga menunjukkan ratusan kasus kekerasan terjadi hanya dalam hitungan bulan. Di sisi lain, praktik kecurangan akademik seperti joki UTBK, plagiarisme, hingga manipulasi dokumen menjadi fenomena yang nyaris dianggap biasa. Bahkan, pelajar yang terlibat narkoba dan tindakan kriminal makin bertambah. Ironisnya, wibawa guru pun kian merosot—tidak sedikit kasus siswa yang berani melawan bahkan mempidanakan guru.

Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis pendidikan, melainkan alarm keras atas kegagalan sistemik. Peringatan Hardiknas seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam bahwa arah pendidikan saat ini mengalami disorientasi. Sistem pendidikan yang diterapkan cenderung sekuler dan kapitalistik, yang memisahkan ilmu dari nilai-nilai agama. Akibatnya, lahirlah generasi yang krisis kepribadian: cenderung liberal, pragmatis, dan berorientasi materi. Kesuksesan diukur dari capaian duniawi semata, sehingga segala cara dihalalkan, termasuk kecurangan.

Lebih jauh, sistem ini juga gagal membentuk karakter. Pendidikan hanya berfokus pada aspek kognitif, mengabaikan pembentukan moral dan spiritual. Minimnya penanaman nilai agama yang shahih membuat pelajar kehilangan kompas kehidupan. Kebebasan tanpa batas yang diusung sistem sekuler justru membuka ruang bagi perilaku menyimpang. Ditambah lagi, lemahnya sanksi terhadap pelajar yang melakukan pelanggaran—dengan dalih masih di bawah umur—justru menormalisasi kriminalitas sebagai “kenakalan remaja”.

Dalam perspektif Islam, problem ini berakar pada kesalahan mendasar dalam menjadikan asas pendidikan. Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan pokok yang wajib dijamin oleh negara, bukan sekadar layanan administratif. Sistem pendidikan Islam berasaskan akidah, yang bertujuan membentuk insan kamil—manusia yang cerdas sekaligus bertakwa. Dengan asas ini, ilmu tidak hanya menjadi alat meraih materi, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Pendidikan Islam juga menitikberatkan pada pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam), yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap yang dilandasi akidah. Pelajar tidak hanya diajarkan apa yang benar, tetapi juga dibentuk untuk mencintai kebenaran dan menjauhi kebatilan. Dengan demikian, kecurangan, kekerasan, dan penyimpangan moral tidak akan tumbuh karena bertentangan dengan keimanan mereka.

Selain itu, Islam menetapkan sistem sanksi yang tegas dan adil. Sanksi ini bukan sekadar hukuman, tetapi juga sebagai pencegah (zawajir) dan penebus dosa (jawabir). Tidak ada toleransi terhadap kejahatan, meskipun pelakunya masih muda, karena setiap individu tetap memiliki tanggung jawab hukum sesuai syariat.

Negara dalam sistem Islam juga berperan aktif menciptakan lingkungan yang kondusif bagi ketakwaan. Media, kurikulum, hingga budaya masyarakat diarahkan untuk mendorong amar makruf nahi mungkar. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dibangun di atas fondasi akidah yang sama, sehingga pendidikan tidak berjalan parsial.

Dengan demikian, solusi atas krisis pendidikan hari ini tidak cukup dengan tambal sulam kebijakan. Diperlukan perubahan mendasar menuju sistem pendidikan Islam yang ideologis, yang mampu melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab. Tanpa itu, Hardiknas hanya akan menjadi ritual tahunan tanpa makna perubahan nyata.

Wallahualam bissawab

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,86,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,17,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,10,Jakarta Selatan,1,KAI,190,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,3,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,199,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,190,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,622,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,82,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,3,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,629,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Sekularisasi Pendidikan dan Lahirnya Generasi Pragmatis
Sekularisasi Pendidikan dan Lahirnya Generasi Pragmatis
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh77Lpa0dts9UwPLkAy5Y7u9ApCIKPi_dtAJebqK2wthsyXESOUKft_8z-6xYajAmqUGpa4DXXGfCWAN1hwBb8vjoTg2pGijBdJbS2M-Sn8NTgDpfckzpisnpA9LsD8FhO9NHa6l3SLJwn78G1wvFjRSNtQzG9qdPXVk2eXcrGyV6Wgu_ZfugRyeOv8PU-l/s320/EVI7.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh77Lpa0dts9UwPLkAy5Y7u9ApCIKPi_dtAJebqK2wthsyXESOUKft_8z-6xYajAmqUGpa4DXXGfCWAN1hwBb8vjoTg2pGijBdJbS2M-Sn8NTgDpfckzpisnpA9LsD8FhO9NHa6l3SLJwn78G1wvFjRSNtQzG9qdPXVk2eXcrGyV6Wgu_ZfugRyeOv8PU-l/s72-c/EVI7.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/05/sekularisasi-pendidikan-dan-lahirnya.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/05/sekularisasi-pendidikan-dan-lahirnya.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content