Oleh Ranti Nuarita, S.Sos.
Aktivis Muslimah
Di tengah perhatian dunia yang terus berubah dari satu isu ke isu yang lain, penderitaan rakyat Palestina masih berlangsung tanpa kepastian akhir. Puluhan ribu nyawa telah melayang, sementara ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka. Kecaman internasional yang bermunculan kerap tenggelam di balik kepentingan politik global. Situasi ini menghadirkan ironi mendalam bagi kaum muslim Palestina, yang tetap bertahan di tengah berbagai krisis yang menimpa mereka. Bahkan pada saat yang sama seolah dibiarkan menghadapi semuanya sendirian di tengah kebungkaman dunia.
Mengutip Antaranews.com, Minggu (10/5/2026) Sumber medis setempat melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat agresi Zionis Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, sementara 172.535 lainnya mengalami luka-luka. Tidak hanya itu, lebih dari 300 jurnalis turut dibunuh secara sistematis agar dunia kehilangan akses terhadap fakta-fakta kejahatan yang berlangsung. Anak-anak kehilangan anggota tubuh bukan karena kecelakaan, melainkan akibat agresi militer yang terencana.
Sungguh, dehumanisasi yang dilakukan Zionis telah melampaui batas kemanusiaan. Bahkan jenazah kaum muslim Palestina pun dibongkar dari tanah mereka sendiri, dipindahkan, hingga dinistakan. Mereka yang hidup dibunuh, sedangkan yang telah wafat pun tidak dibiarkan beristirahat dengan tenang. Inilah genosida dalam bentuk paling nyata, paling brutal, sekaligus paling terdokumentasi dalam sejarah umat hari ini.
Masalah Palestina Bukan Sekadar Konflik Perebutan Tanah
Kaum muslim perlu menyadari bahwa pada hari ini berkembang begitu banyak analisis arus utama yang mereduksi persoalan Palestina sebatas konflik wilayah atau sengketa politik biasa. Padahal, cara pandang tersebut merupakan bentuk penyesatan yang nyata. Jika ditelaah lebih mendasar, akar persoalan Palestina sesungguhnya bersifat ideologis dan berkaitan erat dengan benturan peradaban. Yakni di mana entitas yang berdiri di atas akidah ekspansionis menduduki tanah kaum muslim dengan dukungan penuh kekuatan penjajahan Barat di belakangnya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa entitas Zionis tidak pernah benar-benar memedulikan gencatan senjata, sebab agenda mereka bukan perdamaian, melainkan genosida. Perampasan wilayah yang terus berlangsung, berbagai strategi kolonialisme modern, hingga pembunuhan jurnalis secara terencana merupakan manifestasi dari proyek besar penjajahan yang dibungkus dengan narasi pertahanan diri. Semua itu diperkuat oleh dukungan penuh Amerika Serikat melalui suplai persenjataan, hak veto, dan legitimasi diplomatik.
Tatanan Dunia yang Memang Dirancang untuk Menindas
Dehumanisasi yang dilakukan Israel terhadap Palestina hari ini bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Semua itu merupakan konsekuensi yang hampir pasti lahir dari sistem dan tatanan global dunia saat ini. Keberadaan PBB, Dewan Keamanan, mahkamah internasional, beserta seluruh perangkatnya tidak pernah benar-benar dirancang untuk melindungi kaum muslim.
Sistem global yang mendominasi dunia hari ini dibangun demi mempertahankan hegemoni Barat, yakni kapitalisme sekularisme. Kapitalisme membutuhkan pasar dan wilayah pengaruh, sedangkan Timur Tengah merupakan kawasan yang sangat strategis bagi kepentingannya. Sekularisme, dengan asas pemisahan agama dari kehidupan, didorong oleh liberalisme yang menjinakkan perlawanan umat menjadi sekadar wacana hak asasi manusia. Inilah bentuk penjajahan pemikiran yang dilakukan Barat, dengan disuntikkan ke tubuh umat Islam agar mereka kehilangan identitas perlawanan peradabannya.
Lebih dari 50 negeri muslim menyaksikan genosida ini, tetapi respons yang muncul hanya sebatas kecaman terhadap Zionis. Mengapa demikian? Sebab, para penguasanya merupakan produk sekularisme yang memutus pemahaman tentang ukhuwah Islamiah. Tidak berhenti di situ, sekularisme juga didukung ide nasionalisme, warisan kolonialisme Eropa yang dipaksakan ke dunia Islam hingga memecah umat menjadi negara-negara bangsa yang saling terpisah, bahkan saling bersaing. Ikatan negara akhirnya menggantikan ikatan akidah, sementara kepentingan nasional mengalahkan kewajiban syariat.
Saatnya Umat Islam Bangkit
Rasulullah saw. bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggotanya sakit, seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis Rasulullah saw. tersebut menegaskan satu kesimpulan yang tidak terbantahkan, bahwa diam terhadap genosida Gaza bukanlah sikap netral, melainkan pengkhianatan terhadap akidah. Islam tidak memandang pembebasan Palestina hanya sebagai isu kemanusiaan, tetapi sebagai kewajiban syar'i berupa jihad fi sabilillah untuk membebaskan tanah kaum muslim yang hari ini diduduki secara zalim oleh Zionis penjajah.
Bahkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa menegaskan bahwa ketika musuh menyerang kaum muslim, maka membela diri menjadi kewajiban bagi penduduk yang diserang, dan kaum muslim lainnya wajib membantu saudara-saudaranya.
Solusi Masalah Palestina
Berbagai solusi parsial telah berulang kali terbukti gagal menyelesaikan persoalan Palestina. Mulai dari Perjanjian Oslo, resolusi PBB, gencatan senjata, hingga bantuan kemanusiaan yang terus diblokade sampai hari ini. Satu-satunya solusi yang belum diwujudkan ialah kepemimpinan Islam yang bersatu di bawah satu institusi yang memiliki otoritas syari, kekuatan militer, dan legitimasi umat, yakni negara yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh.
Negara yang menerapkan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan bukan sekadar romantisme sejarah masa lalu. Ia merupakan kewajiban syar'i yang ditegaskan oleh ijmak ulama. Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyah bersama para fuqaha lintas mazhab menjelaskan bahwa negara yang menerapkan sistem Islam merupakan instrumen pelaksanaan syariat secara kafah sekaligus tameng perlindungan umat.
Dalam konteks Palestina, negara yang menerapkan sistem Islam memiliki tiga fungsi strategis yang tidak tergantikan. Pertama, memobilisasi kekuatan militer dari seluruh dunia Islam untuk melakukan jihad pembebasan, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh negara-negara bangsa yang terfragmentasi saat ini. Kedua, memutus seluruh bentuk normalisasi dengan entitas Zionis sekaligus menghapus legitimasi politiknya. Ketiga, mengembalikan tanah Palestina kepada pemilik sahnya, yakni kaum muslim, serta meriayah rakyat Palestina dengan sistem yang menjamin kehidupan yang mulia.
Agenda utama umat Islam hari ini adalah persoalan strategis umat, bukan sekadar pemilu, reformasi birokrasi, ataupun demonstrasi yang berhenti tanpa tindak lanjut. Agenda utamanya ialah menegakkan kembali negara yang menerapkan sistem Islam sebagai institusi pemersatu umat, yang mampu mengubah posisi umat dari objek penderita menjadi subjek sejarah.
Peradaban Islam tidak akan bangkit hanya melalui konferensi, pernyataan solidaritas, ataupun hashtag semata. Kebangkitan itu hanya akan terwujud ketika umat kembali memahami bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang sempurna, syariat merupakan solusi, dan persatuan di bawah kepemimpinan Islam yang sahih adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kehinaan ini.
Sungguh, atas janji juga pertolongan Allah SWT. Palestina akan bebas, maka pertanyaannya apakah kita akan menjadi bagian dari generasi yang membebaskannya, atau justru generasi yang hanya meratapi ketidakberdayaannya?
Wallahualam bissawab.
