Masalah Pelecehan Seksual, Akibat Sekulerarisasi Pendidikan




Oleh Dra. Rahma

Aktivis Muslimah 


Lembaga perguruan tinggi kembali diguncang kasus amoral yang memalukan. Yakni kasus pelecehan seksual verbal yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Para pelaku terbukti menggunakan grup WhatsApp sebagai wadah melakukan pelecehan itu. Kasus tersebut viral di media sosial yang kemudian memantik kecaman publik secara luas.

Terkait hal tersebut ada sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, kasus amoral ini telah menampar dunia pendidikan tinggi. Sebab kasus tersebut bukan terjadi di terminal atau pasar, tapi pada salah satu institusi akademik terkemuka di negeri ini. Padahal semestinya institusi akademik, apalagi fakultas hukum, harusnya menjadi lembaga yang paling konsen menjaga adab dan moral.

Hal yang membuat kasus ini makin mengejutkan, karena banyak dari 16 pelaku tersebut bukan mahasiswa biasa. Melainkan mereka adalah pimpinan organisasi kemahasiswaan, ketua angkatan, dan berbagai panitia di kegiatan kemahasiswaan di kampus. Fatalnya lagi yang menjadi korban bukan hanya mahasiswi namun juga dosen yang perempuan. Totalnya ada 27 orang korban yang terdiri dari 20 mahasiswi dan 7 orang dosen.

Kedua, kasus pelecehan seksual secara verbal di lingkungan perguruan tinggi sudah sangat mengkhawatirkan. Sebab kasus serupa tidak hanya terjadi di Ul, tapi juga diberitakan terjadi di berbagai kampus lain seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Bahkan di Universitas Padjadjaran Bandung diberitakan ada oknum dosen yang melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswinya.

Hampir bersamaan waktunya dengan kasus di Ul, viral juga video mahasiswa ITB yang menyanyikan lagu dengan lirik bernuansa pelecehan seksual terhadap perempuan. Sebelumnya di ITB juga terjadi kasus penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Al) untuk memanipulasi foto mahasiswi menjadi konten pornografi. Kasus yang kemudian berujung pada sanksi akademik bagi pelakunya.

Hal serupa juga diberitakan terjadi di IPB, meskipun tidak terekspos secara luas. Berbagai kasus pelecehan seksual ini mengindikasikan adanya fenomena gunung es. Ada kemungkinan sebenarnya kasus serupa terjadi di banyak perguruan tinggi. Hanya saja tidak dilaporkan karena korban merasa takut, malu, atau tidak percaya pada sistem penanganan yang ada.

Ketiga, dampak pelecehan seksual verbal terhadap korban tidak dapat dianggap remeh. Menurut berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa korban pelecehan akan mengalami gangguan psikologis secara serius. Seperti kecemasan, trauma, dan penurunan harga diri. Selain itu, juga berdampak terhadap akademik secara signifikan. Mulai dari menurunnya konsentrasi belajar hingga keinginan untuk menarik diri dari lingkungan kampus. Pada jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

Apabila dicermati, terdapat beberapa pola umum dari kasus-kasus tersebut. Di antaranya adalah adanya tren perkembangan perilaku pelecehan dalam budaya kampus. Baik melalui candaan, tradisi organisasi, maupun interaksi informal. Pelecehan telah bergeser ke ranah digital yang membuatnya lebih sulit diawasi. Pelecehan juga mengindikasikan lemahnya internalisasi nilai moral dalam diri mahasiswa. Sehingga batas antara yang pantas dan tidak pantas menjadi kabur.

Keempat, fenomena pelecehan ini juga tidak dapat dipisahkan dari proses sekularisasi pendidikan. Yang mana nilai-nilai agama (Islam) dipisahkan dari proses pembelajaran. Akibatnya, mahasiswa dapat menjadi cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam pengendalian diri dan etika sosial. Menarik apa yang dikemukakan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani terkait pandangan Islam terhadap pendidikan (Muqaddimah ad-Dustur, Beirut: Dar al-Ummah 2009, hlm. 182).

Menurut An-Nabhani konsep sistem pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari Islam sebagai ideologi (mabda) yang melahirkan sistem kehidupan menyeluruh. Pendidikan dalam perspektifnya bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sarana pembentukan kepribadian Islam (asy-syakhshiyyah al-islamiyyah). Yakni menyatukan pembentukan pola pikir ('aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) berdasarkan akidah Islam.

An-Nabhani menolak sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan sains sebagai pusat orientasi nilai. Menurutnya, sistem seperti itu akan melahirkan generasi yang cerdas secara teknis tetapi kehilangan arah moral dan ideologis. Karenanya sudah semestinya sistem pendidikan Islam ini menjadi rujukan sistem pendidikan di negeri ini yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Sebuah sistem pendidikan yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan visi peradaban. Wallahu a'lam bi ash-shawâb.

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,86,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,17,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,10,Jakarta Selatan,1,KAI,190,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,3,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,199,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,190,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,622,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,82,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,3,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,629,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Masalah Pelecehan Seksual, Akibat Sekulerarisasi Pendidikan
Masalah Pelecehan Seksual, Akibat Sekulerarisasi Pendidikan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0yGWhXbPMJVb1NHsHAo14pKorCzkuGSoSJ5Q4LlAykMxp8aTzF-xo9sld171lpoZCyFIe9S2H7Wf47PkG1YOsitiBifMdj_30BykkFPvHw6GLIyIuTpc7Onq7iGFcexcPPYh94DvSLrednTg2Li0kZFTiL2miy190Yis72OgxlFi1YIUWG8AmOGZBrrlr/s320/WhatsApp%20Image%202026-05-03%20at%2008.33.16.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0yGWhXbPMJVb1NHsHAo14pKorCzkuGSoSJ5Q4LlAykMxp8aTzF-xo9sld171lpoZCyFIe9S2H7Wf47PkG1YOsitiBifMdj_30BykkFPvHw6GLIyIuTpc7Onq7iGFcexcPPYh94DvSLrednTg2Li0kZFTiL2miy190Yis72OgxlFi1YIUWG8AmOGZBrrlr/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-05-03%20at%2008.33.16.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/05/masalah-pelecehan-seksual-akibat.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/05/masalah-pelecehan-seksual-akibat.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content