Oleh Dian Oktaviani
Aktivis Muslimah
Masih banyak diantara umat Islam yang menganggap perlombaan ibadah hanya saat bulan Ramadan saja. Padahal hidup di dunia ini seluruh waktunya adalah perlombaan, karena Allah hendak menguji amal siapa yang terbaik diantara hamba-Nya. Dunia ini adalah negeri ujian (Darul Bala'), sementara akhirat adalah tempat pembalasan (Darul Jaza').
Meski Ramadan telah usai, ketakwaan tentu harus terus disemai karena tujuan puasa di bulan Ramadan adalah untuk melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa yang akan terus mengisi kehidupan umat sepanjang zaman.
Ada 3 macam kelompok manusia :
Pertama: Kelompok Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadan sama saja. Ada dan tidaknya Ramadan tidak berdampak pada manusia dalam kelompok ini dan mengabaikan ketaatan kepada Allah SWT. Dan mereka termasuk golongan orang-orang yang celaka dan disebut oleh Allah sebagai kelompok binatang ternak, seperti yang di jelaskan dalam QS. Al - A'raf : 179.
Kedua: Kelompok Muslim yang sebelumnya Ramadan jauh dari Allah SWT dan sering mengabaikan ibadah, ketika Ramadan datang mereka bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kelompok ini disebut hamba Ramadan.
Ketiga: Kelompok Muslim yang sebelum Ramadan memang sudah dekat dengan Allah SWT. Saat datang maupun Ramadan usai mereka bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan orang-orang yang beruntung, seperti firman Allah dalam QS. Al-Anfal :29 yang isinya "Wahai orang-orang yang beriman jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan Furqan (kemampuan membedakan antara yang halal dan yang bathil) kepada kalian, menghapus segala kesalahan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah memiliki karunia yang besar".
Tanda Kesuksesan Ramadan
Seorang Muslim yang bertahan dalam ketakwaan usai Ramadan menunjukkan bahwa amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadan diterima. Jika sebaliknya, jika ketakwaan memudar itu tanda amal-amalnya selama bulan Ramadan tertolak.
"Kembali berpuasa (yakni puasa sunnah pada bulan syawal) setelah menunaikan puasa Ramadhan itu diterima oleh Allah SWT (Imam Ibnu Rajab Al-Hambali).
Merawat Ketakwaan
Ada sejumlah langkah yang harus dilakukan:
Pertama: Menjadikan rida Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya.
Kedua: Mewujudkan rasa takut hanya kepada Allah SWT dengan memiliki rasa takut kepada Allah SWT maka seorang Muslim akan terjaga dari perbuatan maksiat.
Ketiga: Menerima Islam secara Kaffah dan tidak memilah-milah aturan Allah SWT. Ia akan selalu berusaha khusyuk dalam beribadah, sekaligus berusaha sungguh-sungguh menjalankan hukum-hukum Islam.
Keempat: Tidak menunda-menunda pengerjaan amal shalih terutama amal-amal yang wajib.
Kelima : Memberikan Al-Walaa' (loyalitas) hanya kepada Allah dan Rasul-Nya serta Al-Bara'a (berlepas diri) dari orang-orang kafir.
Semoga Allah SWT mengokohkan keimanan dan ketakwaan kita usai Ramadan. Semoga Allah SWT pun mengokohkan diri kita dalam perjuangan menegakkan syariah Islam secara kaffah.
