![]() |
| Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera) |
"...Engkau terbebas dari segala kekurangan, seakan-akan engkau diciptakan sebagaimana engkau kehendaki..." Sya'ir pujian Hassan bin Tsabit kepada Nabi Muhammad.
Menurut Habib Abdurrahman bin Kamel Assegaf, M. Pd. I., yang menukil Kitab al-Ishobah fii attami as-Shohabah karya Ibnu Hajar al-Atsqolani, mengakui pujian kepada nabi adalah sesuatu yang benar bahkan bentuk pemuliaan kepada beliau sebagaimana Allah sendiri juga memuji Beliau yang mulia dengan kemuliaan akhlaknya. Tidak hendak menunjuk kelompok tertentu yang berusaha membatasi sedemikian adanya dalam pemuliaan nabi melalui puji-pujian, sosok tersohor di zaman dulu, Umar bin Khatab yang menjabat sebagai Amir al-mu'minin pernah akhirnya tersadarkan olehnya sosok yang hidup dalam usia separuh dalam masa jahiliyah yaitu enam puluh tahun dan separuh lagi dalam masa ketercerahan Islam, sosok itu Hassan bin Tsabit, ditotal umur lebih tua dari Nabi (120 tahun).
Secara klasifakasi umum fase reputasi sebagai sahabat Nabi, sosok Hassan bin Tsabit dalam tiga poin, beliau adalah penyair/sastrawan di zaman jahiliyah, beliau adalah penyair/sastrawan Nabi di masa kenabian Islam, dan penyair/sastrawan negeri Yaman.
Dikisahkan dalam hadits Sahih Bukhori dan Muslim (Muttafaqun 'alaih) bahwa suatu kesempatan Sahabat mulia Hassan bin Tsabit naik ke suatu tempat di dalam masjid Nabi Muhammad dan membuat syairnya berisi puji-pujian terhadap Nabi disaksikan beberapa sahabat. Kemudian Umar bin Khattab masuk namun tidak senang bahkan dalam suatu riwayat mengatakan beliau menatap tajam kepada Hassan bin Tsabit. Riwayat lain bahkan mengatakan, Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata yang artinya, "engkau berani wahai Hassan membuat sya'ir di masjid Nabi Muhammad!" Hassan bin Tsabit mengatakan, "dulu saya mengubah sya'ir pujian kepada nabi Muhammad di dalam masjidnya dan di saat itu dan di dalam masjid tersebut ada orang yang lebih baik darimu yaitu Nabi Muhammad!"
Dikatakan bahwa Rasul ada pada saat Sahabat Hassan memuji beliau, beliau ada di dalam masjid dan Nabi tidak marah. Hassan bin Tsabit melanjutkan, "Kalau tidak percaya, tanya Abu Hurairah (Abdurrahman)" Hassan mengatakan, wahai Abu Hurairah engkau saksi mata saat aku memuji Nabi Muhammad, apa jawab Nabi Muhammad? Maka dijawab oleh Abu Hurairah, "benar saya mendengar Nabi "Shallahu 'alaihi wa Sallam!" ketika mendengar puji-pujian yang dikeluarkan oleh Hassan bin Tsabit kepadanya, nabi mengatakan, "ya Allah, bantulah dia, kuatkanlah dia, Hassan bin Tsabit yang telah memuji diriku dengan disusul oleh malaikat Jibril selalu bersamanya. Maka Sayidina Umar tersadar bahwa selama ini beliau tidak mengetahui. Maka waktu beberapa hari kemudian Sayyidina Umar bin Khattab memerintahkan untuk membuat mimbar khusus kemudian dimasukkan ke dalam masjid nabawi kemudian dipanggil lah Hassan bin Tsabit, "wahai Hassan bin Tsabit, sekarang di atas mimbar ini berdirilah engkau dan pujilah Nabi Muhammad!" Kemudian beliau pun melakukannya.
Hikmahnya, memuji makhluk yang dimuliakan Allah yaitu Nabi Muhammad sebagaimana dipelopori oleh sahabat Hassan bin Tsabit sang sastrawan tidak ada salahnya. Bahkan sebagaimana diungkap kisah singkat di atas, terdapat kemuliaan bagi yang memuji Nabi Muhammad didoakan kebaikan oleh para malaikat. Habib tersebut di atas juga mengungkapkan bahwa Imam Nawawi mengatakan kalau ada orang memuji Nabi Muhammad dengan sya'ir-sya'ir pujian kepada Nabi Muhammad, maka orang itu didoakan kebaikan kepadanya. Bukan hanya manusia yang mendoakan kepadanya, tanpa pengetahuan kita ada malaikat mendoakannya, karena Nabi mengatakan "Malaikat Jibril bersamamu di saat kau memujiku."
Contoh Pujian tersebut seperti ungkapan bawah Nabi Muhammad adalah nabi yang paling tampan melebihi Yusuf bahkan Adam namun dalam lantunan sya'ir yang disusun oleh Sahabat Hassan bin Tsabit tentu lebih selamat dan lebih mendekati sunnah. Menghidupkan Sunnah dari sosok mulia ini tampak dalam kebijaksanaan dalam menghadapi pemimpin dan menyampaikan kebenaran, selain itu, suatu cara hidup yang jarang dijalankan oleh Muslim namun beliau mengambilnya adalah menghadapi pluratisa agama yang sungguh paripurna. Beliau menikahi Ahli Kitab yang tidak lain adalah adik dari Istri Rasul Mariah ak-Qibtiyah bernama Sirrin. Artinya Rasul dengan Hassan bin Tsabit adalah keluarga meski bukan Ahli Bait sebagaimana dengan Ali bin Abi Thalib. Di luar semua, bagian terakhir ini terlampau dilarang dan haram bahkan di negara ini dipersepsi sebagai perzinahan sehingga sulit dan terdapat tantangan hebat meski di tengah turunnya angka pernikahan di kalangan anak muda, sungguh disayangkan!
Bagaimanapun, mencintai Rasul selain senantiasa dimohonkan juga merupakan suatu kewajiban setelah mencintai Allah, bahkan melebihi orang tua, maka mengungkapkannya tentu adalah suatu kebaikan juga, sebagai terdapat perintah juga untuk mengungkapkan (menyatakan) nikmat yang dikaruniakan (Q. S. adl-Dluha: 11) demikian kiranya alasan dadiiliyyah mengapa banyak istighatsah, shalawat jamah berisi pujian kepada Nabi sedemikian megah, besar atau "kubro" sebagai pengungkapan rasa syukur, kagum dan kebahagian yang terlimpahkan dan bukan bentuk kesombongan. "Wallahu a'lam!"
