Oleh Rani HS
Aktivis Muslimah
Bersatu kita teguh... Bercerai kita runtuh ...
Itulah peribahasa yang menggambarkan keadaan umat Islam saat ini. Masing-masing negeri Islam berjalan sendiri-sendiri ,tanpa adanya satu komando. Fakta yang terjadi di negara Timur-Tengah sedang berlangsung perang sengit antara AS (Amerika Serikat)-Israel melawan Iran. Walaupun Iran berperang sendiri tanpa adanya dukungan dari negeri-negeri Muslim, ia tampak gagah berani melawan kesombongan dan keangkuhan AS-Israel. (Mediaindonesia.com, 16/04/2026)
Di satu sisi Amerika Serikat tidak bisa memaksa negara sekutunya untuk ikut terlibat langsung perang dengan Iran. Hal ini disebabkan karena mereka tidak ingin mati konyol hanya untuk membela urusan konflik negara lain. Alih-alih negeri-negeri muslim mendukung Iran untuk melawan hegemoni barat, malah para penguasa muslim bersekutu dengan Amerika Serikat. Mereka hanya memikirkan kepentingan politik negeri nya masing-masing. Tanpa memikirkan kemaslahatan akhiratnya.
Walaupun Iran melawan AS-Israel tanpa bantuan dari luar, mereka bisa mengalahkan Amerika-Israel hanya dengan modal keberanian dan peralatan tempur yang dimiliki. Dan pada akhirnya AS-Israel harus menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang diajukan oleh Iran. Di antaranya ada 10 poin syarat gencatan senjata yang harus disepakati oleh AS- Israel. (Viva.co.id, 08/04/2026).
Ternyata AS dan Israel tak sekuat yang dibayangkan dunia sebagai negara adikuasa. Iran membuktikan keberanian melawan AS dengan membalas serangan Amerika. Tidak ada negara yang bersekutu secara permanen, kecuali ada kepentingan dibalik retorika. Pengkhianatan penguasa muslim melemahkan kesatuan umat. Sehingga umat Islam terpecah belah oleh nation state yang notabene warisan penjajah. Potensi kesatuan negeri muslim bisa menjadi kekuatan global baru.
Hal ini telah termaktub dalam ayat suci Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيعًا وَّلَا تَفَرَّقُوا ۖ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
Inti dari ayat ini mengandung 3 poin:
1. Diperintah untuk bersatu berpegang pada Al-Qur'an dan Islam, jangan terpecah belah.
2. Ingat nikmat Allah yang menyatukan hati manusia yang dulu bermusuhan, terutama kaum Aus dan Khazraj di Madinah.
3. Allah menyelamatkan manusia dari jurang neraka lewat Islam.
Ayat ini sering dipakai sebagai dasar pentingnya ukhuwah dan menghindari perpecahan.
Jadi membangun kesadaran umat bahwa kesatuan negeri muslim sangat urgen. Kesatuan negeri muslim yang diikat dalam institusi khilafah Islam akan mampu mengalahkan hegemoni negara adidaya kafir. Khilafah Islam yang akan membebaskan penderitaan negeri-negeri muslim yang terjajah. Khilafah Islam dengan dakwah dan jihad akan membawa rahmat bagi dunia.
Sudah saatnya umat Islam bersatu demi menciptakan kemaslahatan dunia dan akhirat. Serta mengakhiri perjalanan kelam umat muslim yang tertindas selama runtuhnya khilafah Islam di muka bumi. Dan sudah waktunya umat untuk kembali pada syariat Islam serta menerapkan sistem Islam keseluruhan penjuru dunia agar tercipta peradaban Islam yang gemilang.
Wallahualam bisswab
