Wacana Tanam Pohon di Indonesia: Antara Romantisme Ekologis, Krisis Ideologi Pembangunan, dan Tuntutan Solusi Islam Kaffah

 

Oleh: Iit Supriatin, S.Pd., S.Ag., M.Pd.

Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, wacana tanam pohon kembali menguat di Indonesia. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, korporasi, hingga komunitas akar rumput berlomba-lomba mengampanyekan gerakan penghijauan sebagai solusi atas krisis lingkungan: perubahan iklim, banjir, longsor, kekeringan, dan kerusakan ekosistem. Spanduk, jargon, dan kampanye digital bertema “satu orang satu pohon” atau “hijaukan bumi” menjadi pemandangan yang jamak.


Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah gerakan tanam pohon ini lahir dari kesadaran ideologis yang utuh, atau sekadar romantisme ekologis yang bersifat tambal sulam? Apakah ia menyentuh akar persoalan kerusakan lingkungan, atau justru menjadi legitimasi bagi sistem pembangunan yang eksploitatif?


Artikel ini berupaya membaca wacana tanam pohon dari perspektif Islam ideologis, dengan pendekatan tafsir Al-Qur’an, analisis politik-ekonomi, serta menawarkan solusi Islam kaffah sebagai jalan keluar yang hakiki, bukan kosmetik.


*Fakta: Kerusakan Lingkungan dan Paradoks Tanam Pohon*


Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia. Alih fungsi hutan untuk kepentingan industri ekstraktif—pertambangan, perkebunan skala besar, properti, dan infrastruktur—terjadi secara sistematis dan masif. Ironisnya, di saat yang sama, negara juga gencar mengampanyekan penanaman pohon.


Paradoks ini melahirkan beberapa fakta penting:

1. Tanam pohon seringkali bersifat simbolik, sementara pembabatan hutan berlangsung struktural.

2. Korporasi perusak lingkungan kerap menggunakan program tanam pohon sebagai _greenwashing._

3. Negara mendorong partisipasi individu, namun abai mengontrol aktor utama perusakan lingkungan.

4. Pendekatan teknokratis mendominasi, tanpa kritik ideologis terhadap sistem ekonomi yang melatarbelakanginya.


Dengan kata lain, tanam pohon dijadikan narasi moral untuk menutupi kegagalan sistemik.


Analisis Ideologis: Akar Masalah Ada pada Paradigma Pembangunan


Islam memandang bahwa setiap kerusakan memiliki sebab ideologis, bukan sekadar teknis. Al-Qur’an menegaskan:


_“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…”_ (QS. ar-RÅ«m: 41)


Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan ekologis adalah konsekuensi dari sistem hidup manusia, bukan takdir alam semata.


Paradigma pembangunan modern yang dianut Indonesia berpijak pada:

1. Kapitalisme

2. Pertumbuhan ekonomi berbasis eksploitasi

3. Komodifikasi alam

4. Logika untung-rugi


Dalam paradigma ini, hutan bukan amanah, melainkan aset ekonomi. Pohon bukan makhluk Allah yang bertasbih, tetapi komoditas. Maka, tanam pohon dalam sistem ini tidak pernah dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ciptaan, melainkan untuk menstabilkan dampak buruk sistem itu sendiri.


*Tafsir Ideologis: Manusia sebagai Khalifah, Bukan Predator*


Islam meletakkan manusia sebagai khalifah, bukan penguasa absolut:


_“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”_ (QS. al-Baqarah: 30)


Konsep khalifah mengandung makna:

1. Amanah

2. Pengelolaan berbasis ketaatan

3. Tanggung jawab moral dan syar’i


Dalam tafsir ideologis, manusia tidak diberi hak mengeksploitasi alam tanpa batas. Alam bukan milik manusia, melainkan milik Allah:


_“Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi.”_ (QS. an-NÅ«r: 42)


Maka, kerusakan lingkungan sejatinya adalah pengkhianatan terhadap amanah kekhalifahan.


Dimensi Politik: Negara, Kekuasaan, dan Pengelolaan Lingkungan


Dalam Islam, negara (daulah) memiliki peran sentral dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Rasulullah ï·º bersabda:


_“Imam adalah pengurus dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)


Kerusakan lingkungan bukan sekadar kegagalan individu, melainkan kegagalan politik. Ketika negara:

1. Memberi konsesi tambang secara masif

2. Melegalkan perusakan hutan

3. Mengabaikan hak masyarakat adat

4. Menyerahkan sumber daya alam kepada korporasi


Maka tanam pohon hanyalah narasi pengalihan isu, bukan solusi.


Islam menolak negara menjadi fasilitator kapitalisme. Negara dalam Islam wajib:

1. Mengelola sumber daya alam sebagai kepemilikan umum

2. Melarang privatisasi sumber daya strategis

3. Menjaga keberlanjutan lingkungan sebagai kewajiban syar’i


Kritik terhadap Wacana Tanam Pohon Sekuler


Wacana tanam pohon dalam sistem sekuler memiliki kelemahan mendasar:

1. Reduksi masalah

Kerusakan sistemik direduksi menjadi masalah perilaku individu.

2. Depolitisasi lingkungan.

Akar politik dan ekonomi disembunyikan.

3. Netralisasi ideologi

Alam diperlakukan netral, padahal kebijakan pembangunan sarat kepentingan.

4. Absennya konsep dosa dan amanah

Lingkungan dipisahkan dari pertanggungjawaban akhirat.


Islam menolak pendekatan ini. Dalam Islam, menjaga alam adalah ibadah dan merusaknya adalah dosa besar.


Solusi Islam Kaffah: Dari Tanam Pohon Menuju Sistem Hidup Islami


Islam tidak menolak tanam pohon. Bahkan, Rasulullah ï·º bersabda:


_“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan oleh manusia, hewan, atau burung, kecuali itu menjadi sedekah baginya.”_ (HR. Muslim)


Namun, Islam menempatkan tanam pohon dalam kerangka sistemik, bukan simbolik.


1. Reformasi Paradigma

Tanam pohon harus berangkat dari:

(1) Tauhid

(2) Amanah

(3) Akhirat sebagai orientasi


2. Negara sebagai Penjaga Lingkungan

Negara Islam:

(1) Menghentikan eksploitasi sumber daya berlebihan

(2) Mengelola hutan sebagai milik umum

(3) Memberi sanksi tegas perusak lingkungan


3. Pendidikan Ideologis

Lingkungan diajarkan sebagai:

(1) Ayat kauniyah

(2) Media tafakkur

(3) Amanah kekhalifahan


4. Ekonomi Non-Eksploitatif

Islam melarang:

(1) Kapitalisasi alam

(2) Monopoli sumber daya

(3) Produksi destruktif


Penutup

Wacana tanam pohon di Indonesia tidak boleh berhenti pada romantisme ekologis. Selama sistem pembangunan masih kapitalistik, tanam pohon hanya akan menjadi lipstik hijau bagi kerusakan yang terus berlangsung.


Islam hadir bukan sekadar menawarkan solusi teknis, tetapi solusi ideologis dan sistemik. Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah, politik, dan peradaban. Tanam pohon dalam Islam bukan simbol, melainkan ekspresi ketaatan kepada Allah dan perlawanan terhadap sistem perusak.


Sudah saatnya umat Islam tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam kembali ideologi Islam dalam pengelolaan bumi.

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,74,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,139,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,193,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,169,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,502,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,1,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,84,Polresta Padang,1,Polri,78,Pontianak,1,Puisi,19,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,1,Smartphone,2,Solok,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,529,Tanah Datar,2,Tanggerang,1,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,10,
ltr
item
Media Sumbar: Wacana Tanam Pohon di Indonesia: Antara Romantisme Ekologis, Krisis Ideologi Pembangunan, dan Tuntutan Solusi Islam Kaffah
Wacana Tanam Pohon di Indonesia: Antara Romantisme Ekologis, Krisis Ideologi Pembangunan, dan Tuntutan Solusi Islam Kaffah
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbSAd-Mc7wrPvo1EZKyh8lm0ZKUbriHL7NdXwQ6nU28xNEAb3gu5y83MRtlf8Yl5uHWDNa9s6O12bZNpcRyi7XauHr8szc-ZnVEYMuCu2xHGGUM2kB6sQFMGthiKCkaWhYIJ_fLRksZaFKgYbhNjVXSapj22VeDNuF8D-A40M8R9Ts3MNSF6mAXVv0pQuC/s320/1000652610.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbSAd-Mc7wrPvo1EZKyh8lm0ZKUbriHL7NdXwQ6nU28xNEAb3gu5y83MRtlf8Yl5uHWDNa9s6O12bZNpcRyi7XauHr8szc-ZnVEYMuCu2xHGGUM2kB6sQFMGthiKCkaWhYIJ_fLRksZaFKgYbhNjVXSapj22VeDNuF8D-A40M8R9Ts3MNSF6mAXVv0pQuC/s72-c/1000652610.jpg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/01/wacana-tanam-pohon-di-indonesia-antara.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/01/wacana-tanam-pohon-di-indonesia-antara.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content