Fenomena Fatherless Semakin Populer, Alarm Keras Sistem Kapitalisme Sekuler

Oleh : Mira Ummu Tegar (Aktivis Muslimah Balikpapan)

Fenomena Fatherless atau ketiadaan figur ayah kini menjadi isu sosial yang kian mendapat perhatian di Indonesia. Kondisi ini bukan hanya tentang ketidakhadiran fisik seorang ayah karena meninggal atau tidak tinggal serumah. Tetapi juga tentang ayah yang ada secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional, spiritual dan keterlibatannya dalam pengasuhan anak.

Hal ini pun yang melatarbelakangi Pemerintah Kota Samarinda serukan gerakan yang mendorong peran ayah dalam mengambil rapor anak ke sekolah. Kebijakan ini mulai berlaku pada Desember 2025 dan menyasar seluruh ayah atau wali ayah yang memiliki anak usia sekolah, dari PAUD hingga pendidikan menengah. 

Sebagaimana Surat Edaran Wali Kota Samarinda Nomor 400.13/3911/100.19. Pemkot Samarinda mengajak para ayah untuk terlibat aktif dalam pendidikan anak melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR).

Pemerintah menilai kehadiran ayah dalam momen pengambilan rapor memiliki makna psikologis dan sosial yang besar bagi anak. Dalam banyak keluarga, urusan pendidikan masih sering dibebankan sepenuhnya kepada ibu. Padahal keterlibatan ayah terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar, kepercayaan diri, serta kedekatan emosional anak dengan orang tuanya.(tribunkaltim.co 17/12/2025).

Kebijakan Pemkot Samarinda mengajak para ayah untuk terlibat aktif dalam pendidikan anak melalui Gemar, patutlah diapresiasi. Apalagi fenomena yang disebut fatherless ini merupakan isu yang jarang sekali dibahas secara terbuka. Namun apakah ini cukup mampu mengatasi fenomena fatherless yang semakin akut di tengah kehidupan masyarakat saat ini?

Berdasarkan data nasional, sekitar 25.8 persen anak mengalami ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan sehari-hari. Data terbaru, 15.9 juta anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah secara fisik maupun emosional. Dari jumlah tersebut 4,4 juta anak hidup tanpa ayah, sementara 11.5 juta anak lainnya memiliki ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu membuat mereka nyaris tak terlibat dalam keseharian anak.

Kian maraknya fenomena fatherless sudah semestinya menjadi perhatian serius. Dampak fatherless sangat luas, meliputi masalah psikologi seperti kecemasan, depresi, kurang percaya diri, hingga kesulitan regulasi emosi dan membangun hubungan sehat serta perilaku beresiko (narkoba, kekerasan, dll). Selain itu kurangnya peranan bimbingan yang mempengaruhi perkembangan sosial, emosional dan akademik anak hingga dewasa, terutama dalam membentuk identitas diri. 

Demikianlah fatherless menjadikan pembentukan karakter anak pun tidak sempurna. Ada peran penting ayah yang semestinya hadir membersamai keseharian anak. Apalagi posisi ayah sebagai pemimpin, pendidikan dan pelindung keluarga.

Sejatinya kualitas generasi dipengaruhi banyak faktor yang mengiringi perjalanan hidup seorang anak. Oleh karena itu, pembentukan generasi berkualitas membutuhkan supporting sistem yang kuat dan berkualitas sepanjang hidup anak, termasuk ayah yang berkualitas. Mirisnya hari ini ayah juga menjadi korban sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan negeri ini sehingga perannya belum berkualitas.

Tidak bisa dipungkiri akibat dari sistem kapitalisme sekuler banyak dari para ayah tidak memahami arti dan tujuan hakiki dari sebuah pernikahan. Kapitalisme sekuler yang menjauhkan agama dari aturan kehidupan serta manjadikan materi sebagai landasan aktivitas pun berimbas kepada pemahaman para laki-laki, sehingga saat menikah hanya sebatas mewujudkan naluri nau/rasa cinta, sayang saja tanpa bekal ilmu yang mumpuni terkait pernikahan. 

Akhirnya ketika menyandang status suami atau ayah mereka tidak paham tujuan dan misi sebuah keluarga. Jika pun terpahamkan kemungkinan besar minim skill atau ilmu parenting. Sehingga tidak mampu memberikan pendidikan, bimbingan dan perlindungan yang optimal bagi keluarganya.

Sementara di sisi lain tekanan ekonomi begitu besar menghimpit para ayah. Lapangan pekerjaan sempit, gaji sedikit sementara kebutuhan hidup melangit membuat para ayah berupaya keras menafkahi keluarganya. Waktu ayah pun habis demi bekerja, tertinggal hanyalah lelah ketika sudah di rumah. Fisiknya hadir namun secara emosional hilang, tiada pendidikan tiada bimbingan, sosok kepemimpinannya pun meredup dalam keluarga. Miris, namun fenomena inlah yang saat ini populer.

Fenomena fatherless semakin populer mengisyaratkan betapa banyak kasus ini menimpa masyarakat, utamanya keluarga muslim. Fenomena ini bukan hanya masalah individu tetapi merupakan persoalan struktural. Ada sistem kehidupan berbasis kapitalisme sekuler yang menjadi biang persoalan. Tak hanya membuat fatherless tapi juga motherless.

Dalam perspektif Islam, ayah memegang tanggung jawab besar sebagai pemimpin keluarga sekaligus pendidikan utama yang menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual. Islam sebagai ideologi yang rahmatan lil 'alamiin berperan penuh dalam rangka melejitkan peran para ayah. 

Sistem Islam senantiasa terdepan dalam membangun ketahanan keluarga dengan strategi utamanya melejitkan peran ayah serta menjaga peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga. Sebagaimana firman-Nya, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (Q$. An-nisa ayat 34).

Selain melejitkan peran ayah, negara Islam (khilafah) akan menguatkan peran para ibu selaku sahabat dan mitra ayah dalam mendidik generasi dan mengatur keluarga. Peran ibu sebagai pengelola dan pendidikan utama dalam keluarga ditegaskan dalam hadits Rosulullah Saw, "seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka." (HR. Bukhari - Muslim),

Sebuah keluarga dikatakan mempunyai ketahanan, tatkala seorang ayah yang merupakan kepala keluarga dan penanggung jawab utama keluarga mampu memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Kebutuhan di sini mencakup naluri, fisik, dan akal.

Terpenuhinya seluruh kebutuhan tersebut membawa pada suasana kehidupan keluarga yang harmonis, tenang, dan tentram. Benar di tangan para ibulah letak kunci ketahanan keluarga. Namun di tangan para ayah lah terletak pintu gerbang menuju tercapainya ketahanan tersebut.

Semua hal tersebut tentunya ditopang dengan supporting sistem Islam. Syara' menuntut wajibnya penafkahan bagi ayah, maka negara dalam Islam bertanggung jawab untuk menyediakan lapangan pekerjaan sehingga seorang ayah mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Dalam Islam kebutuhan pokok komunal masyarakat yakni kesehatan, pendidikan dan keamanan dijamin pemenuhannya oleh negara secara langsung gratis dan berkualitas. Sehingga ayah tak perlu lagi memikirkan biaya hidup terkait kebutuhan komunal tersebut, yang notabene sangatlah mahal di sistem kapitalisme sekuler saat ini.

Dari sini peran ayah akan maksimal dalam memimpin, membimbing dan memberi pendidikan bagi keluarganya. Peran ibu pun akan fokus pada fitrahnya sebagai ummu rabiatul bait dan madrasah ula bagi anak-anaknya. Tidak akan ada ibu yang bekerja keluar rumah demi membantu nafkah keluarga atau menjadi tulang punggung keluarga, yang ada hanya ibu/wanita yang bekerja karena keahliannya/profesionalitasnya demi kemanfaatan ilmunya.

Sementara bagi anak yang ketidakhadiran sosok ayah karena meninggal atau tidak serumah maka Islam menetapkan bagi walinya untuk mengantikan peran tersebut baik untuk sementara atau selamanya. Hal ini tergambar jelas pada sejarah perjalanan hidup Rosulullah Saw yang merupakan yatim piatu, yang kemudian peran tersebut digantikan kakek dan kemudian paman beliau.

Demikian Islam menjadikan kualitas generasi tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, ayah dan ibu. Namun juga disertai dengan supporting sistem, termasuk peran masyarakat dan negara dengan segala kebijakannya dalam berbagai bidang.

Hal ini terbukti dalam sekian abad tegaknya Islam dimuka bumi, telah banyak melahirkan tokoh-tokoh besar yang keteladanan dan keilmuannya hingga saat ini masih terus berkontribusi dalam kehidupan dunia. Sungguh ketika Islam diterapkan secara Kaffah dalam bingkai khilafah Islamiyyah maka keniscayaan terbentuknya generasi pelopor perubahan, penerus risalah Islam. Wallahu a'lam bishowab.

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,70,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,1,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,1,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,2,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,7,Jakarta Selatan,1,KAI,123,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,187,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,158,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,445,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,2,Pariaman,5,Pasaman,1,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,72,Polresta Padang,1,Polri,73,Pontianak,1,Puisi,18,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,2,Semarang,1,Sijunjung,1,Smartphone,2,Solok,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,503,Tanah Datar,2,Tanggerang,1,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,104,UNAND,20,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,10,
ltr
item
Media Sumbar: Fenomena Fatherless Semakin Populer, Alarm Keras Sistem Kapitalisme Sekuler
Fenomena Fatherless Semakin Populer, Alarm Keras Sistem Kapitalisme Sekuler
Oleh : Mira Ummu Tegar (Aktivis Muslimah Balikpapan)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOvpBs2oXfbYnRZDHJCTiJiXJ9996s0TTAsptMyBcegBwJB-HQkgaJ8Qok8QI_Ax2EPxCs9T1GXZJKCV5fIwDyn0k_fUaMFwzvN6qYsin61Szff35uy6-MbEoJcBUhAlc3xF85i8ye0GX5ayaPJqrGPwrW571sOfeymAdCKJfnVLiY2rHjnGH8L4bLqDCP/s320/1000644765.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOvpBs2oXfbYnRZDHJCTiJiXJ9996s0TTAsptMyBcegBwJB-HQkgaJ8Qok8QI_Ax2EPxCs9T1GXZJKCV5fIwDyn0k_fUaMFwzvN6qYsin61Szff35uy6-MbEoJcBUhAlc3xF85i8ye0GX5ayaPJqrGPwrW571sOfeymAdCKJfnVLiY2rHjnGH8L4bLqDCP/s72-c/1000644765.jpg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/01/fenomena-fatherless-semakin-populer.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/01/fenomena-fatherless-semakin-populer.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content