Esensi Shalat dan Penegakan Syariat

Oleh: Wida Widiawati 

Tanggal 16 Januari 2026 kemarin menjadi momen penting bagi seluruh kaum muslim, termasuk di Indonesia. Setiap daerah ikut menyambut atau memperingati peristiwa penting ini.

Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Isra Mi'raj ini merupakan peristiwa agung perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa (Isra), sedangkan Mi'raj berarti naik atau tangga, yang menggambarkan perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw. dari Masjidilaqsa melintasi lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.

Peristiwa agung ini terjadi sekitar tahun ke-10 kenabian, atau sekitar 620-621 Masehi. Momen ini dikenal sebagai 'Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan) karena Nabi Muhammad saw. menghadapi tekanan berat setelah wafatnya istri tercinta, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Isra Miraj menjadi penghiburan dari Allah Swt. serta persiapan mental dan spiritual bagi Nabi untuk menghadapi tantangan dakwah yang lebih besar.

Allah Swt. berfirman dalam Al -Qur'an surat Al-Isra ayat 1, yang secara eksplisit menjelaskan perjalanan Isra:

"Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

(Liputan6.com 10/01/26)

Turunnya Kewajiban Shalat 

Bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriah, momentum Isra Mi'raj ini menjadi sebuah refleksi keimanan bagi seluruh kaum muslim. Dimana kewajiban shalat lima waktu pun Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk umatnya.

Hal ini menandakan bahwa syariat shalat merupakan kewajiban bagi kaum muslim, sekaligus kewajiban terhadap syariat Islam lainnya dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang Allah Ridhai.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-'Ankabut Ayat 45 yang artinya :

"Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Shalat Jalan, Maksiat Jalan.

Shalat menjadi ibadah utama bagi kaum muslim, namun fakta saat ini banyak kaum muslim yang meninggalkan shalat. Ada juga yang rajin shalat, tapi tidak berkorelasi dengan perbuatannya.

Shalat yang seharusnya menjadi sarana mengingat Allah, mendekat kepada Allah, memohon ampunan kepada Allah menjadi hilang esensinya karena menganggap shalat hanya sebatas kewajiban dan ibadah ritual semata. Bukan sebagai perisai bagi kaum muslim agar tidak berlaku maksiat. 

Banyak kaum muslim yang sudah rajin melaksanakan shalat tapi masih menjadi pelaku riba. Setiap hari shalat tapi masih beraktivitas pacaran. Banyak para muslimah yang menutup aurat ketika shalat, tapi setelah shalat mereka bebas mengumbarnya lagi, bahkan tanpa rasa malu mereka berlenggak lenggok, berjoget-joget di sosial media, demi like yang tidak seberapa.

Belum lagi para oknum dengan gelar-gelar tertentu yang malah menjadi pelaku pelecehan seksual terhadap murid-muridnya, santri-santrinya atau jamaahnya.

Terlebih upaya moderisasi beragama semakin diaruskan di tengah masyarakat, salah satunya dengan mendukung dan berpartisipasi dalam segala bentuk perayaan agama selain Islam.

Shalat Bukan Sebatas Ibadah Ritual

Itu artinya kewajiban shalat tidak lagi dimaknai sebagai pencegah dari yang keji dan munkar, namun sebagai ibadah ritual biasa seperti pada umumnya agama lain beribadah.

Padahal lebih dari itu, ketika kita senantiasa merasakan ada Allah yang Maha Mengawasi, ada Allah yang Maha Melihat, tidak hanya saat kita shalat saja, atau tidak hanya saat kita berada di masjid saja, tetapi dimanapun kita berada selalu merasakan adanya pengawasan Allah.

Namun, nyatanya kehidupan saat ini, yang bersandar pada aturan yang memisahkan agama dari kehidupan, telah menelanjangi seluruh hukum syariat Islam. Banyak muslim yang berlaku maksiat. Yang halal jadi haram, yang haram malah di toleransi. Antara yang haq dan yang bathil dicampuradukkan.

Standar perbuatan dan tingkah laku tidak lagi terikat syariat. Yang penting bisa terkenal, bisa meraup kekayaan dengan cara instan. Entah itu dengan joget-joget, ikut-ikutan trend viral. Parahnya korupsi dana haji, membabat hutan demi meraup materi sebanyak-banyaknya, apapun dilakukan.

Sogok menyogok sudah menjadi kebiasaan, praktik penipuan mau online ataupun offline kian marak dan semakin meresahkan. Masyarakat tidak pernah mendapatkan keadilan, sedangkan para pejabat selalu terdepan menikmati keringat rakyat lewat pajak. Soal hukum bisa di otak-atik sesuai kebutuhan.

Kenyataan pahit, ketika kita hidup di sistem kapitalis sekuler. Tidak ada keadilan, hukum-hukum Islam semakin terpinggirkan, kemaksiatan merajalela, musibah tak lagi dianggap sebagai peringatan, kedudukan akan jabatan yang semakin melenakan, kehidupan yang semakin menghimpit.

Nyata sekali terasa akibat tidak diterapkannya syariat Islam secara total di dalam kehidupan, syariat shalat hanya sebatas ritual semata, tidak berpengaruh pada kehidupan yang seharusnya mampu menjadikan pribadi yang takut terhadap Rabbnya. 

Takut bermaksiat sekecil apapun kepada Rabbnya. Kehadiran negara sebagai penopang aqidah umat pun seharusnya berperan penting untuk selalu menanamkan rasa takut terhadap Penciptanya, yaitu Allah Swt..

"Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung dan takut gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang yang fajir (pendosa) memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di depan hidungnya, lalu ia berbuat demikian (mengusirnya dengan tangan)." (HR. Bukhari)

Mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar itu tidak bisa otomatis, tapi harus diupayakan dengan senantiasa menghadirkan ruh idrak sillah billah (kesadaran diri akan kehadiran Allah) pada setiap individu muslim dalam menjalani kehidupan serta membekali diri dengan tsaqafah Islam agar tahu batasan dan rambu-rambu di dalam Islam mana yang boleh dan tidak boleh.

Serta pentingnya keberadaan sebuah institusi yang menerapkan aturan Allah secara menyeluruh. Sehingga shalat bisa ditegakkan dalam kehidupan, sebagai esensi dari syariat pencegah dari perbuatan keji dan mungkar.


Wallahua'lam bisshawab.

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,74,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,139,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,193,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,169,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,502,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,1,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,84,Polresta Padang,1,Polri,78,Pontianak,1,Puisi,19,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,1,Smartphone,2,Solok,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,529,Tanah Datar,2,Tanggerang,1,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,10,
ltr
item
Media Sumbar: Esensi Shalat dan Penegakan Syariat
Esensi Shalat dan Penegakan Syariat
Oleh: Wida Widiawati
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOVaa-3uz6G6QGO5-ceVW8flhcL5gbm51Ud4ch5zbnjt8vMCYuRJn8Dnb_sHBlB0kGUJZVANn7wruyfGlAN8RF05CYyXJHjQAkS4z2_32qBeAYZDe0rBLMj71DimDsZ_QDcjsy0-kzDkebwTfxYdf1idJZynvw9Bmwr6uGf-V-iIZbs2e3Mbydj0DRa0FL/s320/1000668499.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOVaa-3uz6G6QGO5-ceVW8flhcL5gbm51Ud4ch5zbnjt8vMCYuRJn8Dnb_sHBlB0kGUJZVANn7wruyfGlAN8RF05CYyXJHjQAkS4z2_32qBeAYZDe0rBLMj71DimDsZ_QDcjsy0-kzDkebwTfxYdf1idJZynvw9Bmwr6uGf-V-iIZbs2e3Mbydj0DRa0FL/s72-c/1000668499.jpg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/01/esensi-shalat-dan-penegakan-syariat.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/01/esensi-shalat-dan-penegakan-syariat.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content