Oleh Dra. Rahma
Praktisi Pendidikan
Hati luka itu manusiawi, sob. Tapi yang paling menentukan bukan lukanya, melainkan ke mana hati itu diarahkan. Ada orang yang makin dekat kepada Allah ketika terluka, ada pula yang justru terseret oleh amarh sendiri. Dalam Islam, sakit hati bukan alasan untuk keluar dari jalur syariat. Justru di situlah kualitas iman diuji. Sakit hati tanpa panduan syariat itu seperti kapal kehilangan kompas. Luka berubah jadi dendam, kecewa berubah jadi maksiat, dan masalah yang seharusnya bisa selesai malah melebar ke mana-mana.
Dalam keadaan terluka, setan paling mudah masuk. Dia membisikkan pembenaran, "Aku tersakiti, jadi aku bebas memilih pelarian." Padahal dalam Islam, rasa sakit tidak pernah membolehkan pelanggaran.
Allah SWT sudah mengingatkan, "Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil (QS al-Ma'idah [5]: 8). Artinya, luka tidak boleh menggugurkan ketakwaan. Kecewa tetap harus adil. Marah tetap harus terjaga. Terluka tetap harus berada dalam koridor halal dan haram. Ulama besar pun sudah menekankan hal ini.
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizham al-ljtima'i fil Islam menjelaskan, seluruh perbuatan manusia harus tunduk pada standar syariat, bukan standar perasaan Manusia boleh sedih, tapi tidak boleh menjadikan perasaan sebagai sumber hukum. Beliau menegaskan bahwa syariat adalah satu-satunya penentu benar-salah, bahkan di saat emosi sedang memuncak. Menurutnya, setiap tindakan dalam kondisi terluka tetap harus diukur melalui miqyas syar'i, bukan melalui rasa sakit atau pembenaran subjektif.
Kalau hati sedang enggak stabil, yang harus memimpin itu bukan emosi, tapi akal yang terikat dengan wahyu. Di situlah letak martabat seorang Muslim, taat ketika mudah itu biasa, tetapi taat ketika hati remuk, itu luar biasa. Inilah level sabar para salaf yang sering kita baca, tapi jarang kita tiru. Sakit hati tidak boleh membuat seseorang merusak dirinya, membalas dengan maksiat, membuka aib orang lain, atau menghancurkan masa depan hanya karena emosi sesaat. Syariat telah menutup semua jalan pelampiasan yang menyeret manusia ke dalam dosa. Membalas dosa dengan dosa itu bukan kemenangan, itu bunuh diri spiritual.
Islam juga menetapkan mekanisme penyelesaian masalah, seperti nasihat, mediasi, tabayyun (klarifikasi), tahkim (berhakim), semua dibuat rapi untuk menghindarkan manusia dari tindakan liar yang dipicu emosi. Syeikh Taqiyuddin dalam Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah menegaskan, seorang Muslim harus punya kontrol diri berbasis iman. Artinya, perasaan (termasuk sakit hati) harus tunduk pada hukum-hukum Allah, bukan sebaliknya.
Inilah pembeda utama antara manusia modern yang egosentris dengan Muslim berkepribadian Islam. Yang satu bereaksi mengikuti impuls, yang satu bereaksi mengikuti wahyu. Yang satu membalas untuk memuaskan emosi, yang satu memilih jalan yang mendatangkan ridha Allah.
Maka ketika seseorang tersakiti dalam rumah tangga, pertemanan, pekerjaan, atau kehidupan sosial, Islam tidak memerintahkannya "mengikuti kata hati." Islam memerintahkannya mengembalikan seluruh urusan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Luka itu boleh, tapi arahkan ia menuju kebaikan, bukan, kehancuran. Karena sejatinya, sabar bukan soal menahan rasa sakit, tapi menahan diri agar tidak melanggar syariat ketika sedang disakiti. Di momen seperti itulah derajat seseorang bisa terangkat. Luka bukan penghalang ketakwaan, justru bisa menjadi jalan menuju kedewasaan iman. Pada akhirnya, semua kembali pada satu pertanyaan, "Siapa yang memandu hati-mu saat terluka? Emosi atau syariat?"
.jpeg)