![]() |
| Oleh Rismawati Aisyacheng Pegiat Literasi |
Akhir-akhir ini banyak kejadian yang menyedihkan dari kalangan anak-anak generasi muda hari ini. Bagaimana tidak, kabar mengejutkan terus saja terjadi di berbagai daerah. Kabar itu tentang anak-anak yang kerap memilih bunuh diri karena pusing menghadapi permasalahan hidup. Nah, atas kejadian maraknya bunuh diri pada anak-anak atau remaja maka pemerintah mengambil langkah serius untuk menangani isu kesehatan mental pada anak-anak. Hal ini dilihat dari kabar adanya penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan menteri dan kepala lembaga di Jakarta.
Dilansir oleh hukumonline.com, (6/3/2026). Bahwa beberapa jajaran yang melakukan penandatanganan SKB tersebut meliputi Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Kemudian, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Selain itu, ada juga Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji, serta perwakilan Kepala Kepolisian RI (Kapolri).
Adapun Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin telah mengatakan bahwa konflik keluarga sebenarnya menjadi salah satu faktor utama yang memicu masalah kesehatan jiwa pada anak-anak generasi saat ini. Nah, berdasarkan data healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), tercatat empat faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup, yaitu konflik keluarga (24–46 persen), kemudian masalah psikologis (8–26 persen), dan perundungan (14–18 persen), serta tekanan akademik (7–16 persen). (kemenppa.go.ig, 6/3/2026)
Sungguh miris rasanya menyaksikan kejadian demi kejadian yang membuat banyak generasi muda hari ini menjadi rapuh dan lemah dalam menghadapi problem hidup yang sedang bertamu dalam kehidupannya. Selain karena adanya faktor-faktor yang telah di jelaskan dalam fakta yang mempengaruhi mereka untuk bunuh diri, penerapan sistem kapitalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan sehari-hari manusia sebenarnya menjadi sebab utama anak-anak generasi menjadi lemah dan mudah untuk memilih bunuh diri. Karena, adanya pemisahan agama dari kehidupan melahirkan pemahaman yang sekuler yang hanya memandang kehidupan ini hanya kenikmatan semata. Oleh karena itu, jika tidak mendapat kenikmatan atau kenyamanan dalam hidup maka meninggal dunia selamanya itulah seakan menjadi solusi yang tertanam dalam benak mereka. Sebab agama tidak lagi menjadi dasar pemikiran mereka sehingga rapuh dalam menjalani setiap problem yang mereka hadapi.
Selain itu, dasar dari pemikiran sekuler memang seolah mendidik generasi itu menjadi rapuh dan lemah. Bermula dari orang tua generasi yang juga telah di jauhkan dari nilai-nilai agama sehingga mereka tidak mampu menyalurkan nilai-nilai itu juga pada anak-anak mereka. Akibatnya, orang tua kadang kala hanya sibuk dengan aktivitas mencari nafkah tanpa memahami kondisi mental pada anak-anaknya yang mulai rapuh. Mereka merasa menjadi beban bagi orang tua, ada pula yang merasa hampa karena orang tua hanya kasi nafkah tapi tidak memberi kasi sayang, dan sayangnya orang tua yang salah memahami arti kasih sayang kepada anak-anak yang hanya sebatas memenuhi kebutuhan secara finansial mereka tidak menyadari bahwa kasi sayang seperti pelukan hangat dari mereka juga sangat di butuhkan dalam perkembangan anak-anak generasi selanjutnya.
Namun, semua itu tak terlepas dari tanggung jawab negara dalam memberikan pendidikan ilmu agama dalam diri para orang tua dan anak-anak generasi. Sayangnya, sistem kapitalis sekuler hari ini, tidak memberikan pendidikan Islam secara shohih dan rutin kepada semua calon ibu dan calon ayah sehingga mereka tidak punya bekal untuk mendidik diri mereka menjadi orang tua dan mendidik keturunan mereka sesuai dengan akidah dan syariat Islam.
Oleh karena itu, sistem kapitalisme telah terbukti gagal dalam mengurusi urusan umat dalam hal mendidik generasi muda menjadi generasi yang cerdas, cemerlang dan bertakwa. Lalu bagaimana negeri ini menjadi baik jika generasinya menjadi lemah dan rapuh? Sementara mereka yang hari ini menjadi penguasa kelak akan berpulang ke pangkuan Ilahi. Lalu apakah generasi lemah dan rapuh yang akan menjadi penerusnya? Sementara menghadapi problem kehidupan mereka saja sendiri tak mampu.
Generasi Muda Ditangan Islam.
Jika kapitalisme gagal mendidik generasi karena memisahkan agama dari kehidupan mereka. Maka berbeda halnya dalam sistem Islam. Dalam sistem Islam, tidak perlu ada tanda tangan bersama para menteri dan pemangku jabatan lainnya untuk melindungi kejiwaan anak generasi muda. Tetapi Sistem Islam tidak akan menjauhkan agama dari kehidupan manusia. Justru negara dalam Sistem Islam akan menyediakan pendidikan Islam kepada para calon orang tua dan juga para generasi muda calon penerus negara untuk memiliki akidah yang benar dan memiliki nilai-nilai agama yang shohih untuk menjadi penopang hidup mereka dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan problem atau ujian dari Allah SWT.
Selain itu, negara memiliki tanggung jawab untuk memudahkan orang tua mendapatkan pekerjaan yang layak serta memahamkan pada mereka tentang tanggung jawab mereka sebagai orang tua yang harus mendidik anak-anaknya dan memberi kasi sayang yang penuh secara fisik bukan hanya sebatas memberikan atau memenuhi kebutuhan finansial semata. Dengan begitu tak ada lagi anak-anak yang akan merasa sendiri, terpuruk, karena jauh dari orang tua atau karena merasa hanya menjadi beban bagi orang tua mereka. Karena mereka telah di tanamkan ilmu agama tentang bagaimana menghadapi hidup dan orang tuanya pun telah negara hadirkan di sisinya dengan waktu yang cukup untuk menemani perjalanan hidup anak-anak mereka.
Selain itu, anak-anak memang sangat butuh ilmu agama dalam hal akidah yang kuat dan nilai-nilai agama yang shohih, makanya dalam surah Lukman Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Ùˆَاِ ذْ Ù‚َا Ù„َ Ù„ُÙ‚ْÙ…ٰÙ†ُ Ù„ِا بْÙ†ِÙ‡ٖ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ ÙŠَعِظُÙ‡ٗ ÙŠٰبُÙ†َÙŠَّ Ù„َا تُØ´ْرِÙƒْ بِا للّٰÙ‡ِ ۗ اِÙ†َّ الشِّرْÙƒَ Ù„َـظُÙ„ْÙ…ٌ عَظِÙŠْÙ…ٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman 31: Ayat 13). Nah, dari itulah negara harus memberi luang untuk para orang tua mendidik anak-anaknya. Dengan begitu insya Allah mental anak-anak bisa terjaga dengan akidah Islam yang kuat.
Selain itu, negara bertanggung jawab bukan hanya menyediakan pendidikan agama dan menanamkan nilai-nilai agama pada rakyatnya. Melainkan mereka punya tanggung jawab penuh dalam penyelesaian permasalahan rakyat termasuk pada pemenuhan kebutuhan ekonomi mereka. Agar mereka orang tua tak hanya sibuk dengan mencari nafkah atau khawatir tak mampu menafkahi anak-anaknya tetapi juga senantiasa hadir dalam menemani pertumbuhan generasi muda yang akan datang. Maka dari itu, umat butuh penerapan sistem Islam untuk menjadi perisai mereka dalam mendidik generasi menjadi generasi kuat bukan lemah dan menjadi generasi tangguh bukan rapuh. [Wallahualam bissawab]®
