Laporan: Asfar Tanjung
Padang – Sudah lebih dari satu bulan pasca banjir yang terjadi di beberapa daerah Sumatera Barat, namun masih menyisakan banyak masalah bagi masyarakat terdampak. Antara lain kerusakan rumah dan bangunan (bahkan ada yang hilang diterjang banjir), kerusakan harta benda, infrastruktur, serta fasilitas umum seperti jalan dan jembatan (beberapa bahkan tidak tersisa). Selain itu, sebagian masyarakat juga mengalami trauma akibat terjangan banjir yang meluluhlantakkan daerah mereka.
Bantuan dan pertolongan masih terus diharapkan masyarakat terdampak. Saat ini rasa peduli untuk saling membantu sanak keluarga yang ditimpa musibah terus terwujud, dengan bantuan yang mengalir untuk meringankan beban dan penderitaan mereka. Berbagai bentuk bantuan datang, seperti membersihkan rumah warga yang terkena lumpur, pemberian makanan, pakaian, peralatan pembersihan rumah, hingga pembangunan rumah hunian sementara (Huntara) bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan longsor.
Bantuan tersebut datang dari berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, swasta, hingga komunitas masyarakat di tanah air. Meskipun telah berdatangan sejak peristiwa banjir sebulan yang lalu, kebutuhan masyarakat terdampak masih belum terpenuhi dan terus diharapkan.
Pihak Polda Sumbar yang dikomandoi Kapolda Sumbar Irjen Pol Dr Gatot Tri Suryanta juga terus melakukan pembenahan dan pembersihan di lokasi banjir di beberapa kabupaten/kota di Sumbar. Kegiatan "Polri Peduli Masyarakat" masih berlangsung dan telah tercatat beberapa programnya.
KEGIATAN DI KECAMATAN PALEMBAYAN, KABUPATEN AGAM
Menurut data yang disampaikan Kapolda Sumbar, beberapa kegiatan sedang dilakukan, antara lain:
- Pembangunan jembatan darurat: Jembatan Salareh Aia yang melayani sekitar 284 KK (±1.136 jiwa) saat ini hanya dapat digunakan untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Aspirasi masyarakat untuk meningkatkan menjadi jembatan Bailey telah dicatat, guna mendukung akses pendidikan, distribusi hasil pertanian (sawit, jagung, padi), serta kelancaran aktivitas ekonomi warga.
- Trauma healing: Dilaksanakan oleh Bhayangkari Polda Sumbar untuk anak-anak terdampak banjir di Palembayan dan beberapa daerah lainnya. Kegiatan ini memberikan hiburan dan semangat kepada anak-anak serta keluarga terdampak.
- Kepedulian kemanusiaan: Kapolda menyampaikan rasa duka dan empati mendalam kepada keluarga korban bencana. Salah satu anak terdampak bernama Fathan, yang kehilangan anggota keluarga, kini menjadi anak asuh Polri sebagai wujud kehadiran negara. Ke depannya, Fathan akan dibina dan dipersiapkan untuk meraih masa depan yang lebih baik, termasuk apabila bercita-cita menjadi anggota Polri.
- Zikir dan doa bersama: Dilaksanakan dengan memotong 22 ekor kambing sebagai ikhtiar batin untuk menghibur dan menguatkan masyarakat sekaligus doa menyambut bulan Ramadhan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan dan simbol kebersamaan Polri dengan warga Palembayan di bulan Rajab.
Kapolda Sumbar menegaskan prinsip pengabdian kepada masyarakat: "Jika tidak bisa membantu banyak orang, bantulah beberapa orang. Jika tidak bisa membantu beberapa orang, bantulah satu orang. Dan jika tidak bisa membantu satu orang, jangan pernah menyulitkan orang." Prinsip ini menjadi pedoman seluruh jajaran dalam melayani masyarakat pascabencana.
Kapolda berkomitmen akan menghabiskan banyak waktu di Kabupaten Agam dan daerah lain di Sumbar selama fase pemulihan, guna memastikan percepatan pemulihan berjalan optimal dan dirasakan masyarakat. Sebagai bentuk komitmen tersebut, lebih dari 2.200 personel Polri di jajaran Polda Sumbar aktif memberikan bantuan, seperti tenaga untuk membersihkan area terkena lumpur, pemberian peralatan, sumur bor dan air bersih, makanan, serta kebutuhan lainnya agar masyarakat bisa pulih dan kembali beraktivitas mandiri.
Dalam pesannya kepada anggota Polri di lapangan, Kapolda Sumbar Irjen Pol Dr Gatot Tri Suryanta menegaskan bahwa Polri hadir tidak hanya saat bencana, tetapi terus mengawal pemulihan hingga masyarakat benar-benar bangkit. Seluruh rangkaian kegiatan merupakan wujud empati, pengabdian, dan kehadiran negara bagi masyarakat Palembayan, yang dijadikan sebagai amal ibadah untuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara dengan semangat patriot, jiwa sosial, dan tolong-menolong.
