Oleh Rani HS
Aktivis Muslimah
Genjarnya sekularisasi terhadap anak muda, baik di dunia nyata maupun digital, menyebabkan generasi kehilangan jati dirinya sebagai Muslim dan pelopor perubahan. Banyak tontonan yang tidak memberikan tuntutan pada generasi kita menjadi momok yang menakutkan saat ini. Anak muda sekarang lebih suka hal-hal yang bersifat hiburan, menghabiskan waktu dengan hal-hal yang unfaedah. Atau lebih menggandrui suatu acara atau kegiatan yang akan mendatangkan cuan/materi. Sehingga kebanyakan orang pada umumnya, baik yang muda maupun tua lebih suka mengejar duniawi. Sehingga lupa pada kehidupan setelah mati, mau dibawa kemana itu terserah nanti.
Ditambah kondisi kaum ibu yang tak kalah memprihatinkan, terlihat dari degradasi peran mereka sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik generasi, bahkan mereka menjadi korban sistem kapitalis. Ibu-ibu sekarang lebih suka bikin konten yang bisa mendatangkan cuan, atau membuat vlog buka open BO disitus pribadi maupun terang-terangan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menutupi kebutuhan hidup atau watak hedonis yang menjakit ibu-ibu muda saat ini. Penyebabnya antara lain, makin dimudahkannya fasilitas berbelanja yang hanya tinggal klik di handphone.
Digitalisasi berada dibawah hegemoni kapitalisme, yang tidak hanya bertujuan ekonomi tetapi juga menyebarkan ideologi batil, yang menjauhkan umat dari pemikiran Islam Ideologi. Negara sekuler memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial, sekaligus menjauhkan mereka dari pembekalan Islam kaffah. Akar persoalan terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara, sehingga peran agama dibatasi pada ranah privat.
Disinilah tugas kita sebagai pengemban dakwah Islam Ideologis untuk memahamkan umat, agar kembali pada pandangan hidup Islam kaffah yang diridai Allah SWT. Diperlukan keistiqamahan dari para pengemban dakwah untuk tetap menjalankan tugasnya, yaitu memberikan pelita dari kegelapan menuju cahaya. Generasi muda dan kaum ibu saat ini sedang berada pada fase kegelapan. Mereka membutuhkan pembinaan yang intensif agar bisa terlepas dari jeratan pemikiran yang sesat.
Di tengah penerapan kapitalisme, kehadiran jamaah dakwah Islam Ideologis menjadi sangat urgen untuk membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam. Di dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 104 :
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ ا ُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلىَ الْخَيْرِ وَ يَأْمُرُوْنَ بِِالْمَعْرُوْفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاُولٓئِِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
Artinya :
Hendaklah diantaramu ada segolongan orang yang menyeru pada kebajikan, menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Ayat ini menjadi landasan bagi kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan ke arah sistemik. Sebagaimana yang diteladankan Rasulullah saw. Jamaah dakwah ini membina umat, termasuk ibu dan generasi muda dengan Islam Ideologis. Menyiapkan mereka menjadi pelopor peradaban yang membela dan mengemban Islam kaffah.
Pembinaan (tastqif) ini adalah tahapan awal dalam metode dakwah Rasulullah di fase Makkah. Yang kemudian dilanjutkan berinteraksi dengan umat dan berakhir pada istilamul hukmi (penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan). Sudah tidak diragukan lagi, bagaimana keindahan, ketentraman dan kesejahteraan umat dalam naungan sistem Islam. Kondisi seperti itulah yang seharusnya menjadi acuan dan cita-cita kita sebagai pengembangan dakwah Islam kaffah, yang bertujuan untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam dalam naungan khilafah.
Wallahualam bissawab
