Agam – Data per 9 September dari Muhammadiyah Sumatera Barat (PWM Sumbar) menunjukkan 19.402 jiwa terdampak banjir bandang dan longsor di Kabupaten Agam, dengan 988 jiwa masih terkurung di wilayah yang tidak terjangkau kendaraan.
Kecamatan Palupuh, Malalak, Palembayan, Matur, dan Tanjung Raya menjadi titik kritis – sebagian jorong hanya bisa diakses berjalan kaki.
Wilayah paling sulit adalah Pagadih (Malalak Selatan) dan Jorong Lambah (IV Koto Palembayan), di mana cuaca buruk dan banjir susulan memperlambat evakuasi dan penyaluran bantuan.
Badan Penanggulangan Bencana Muhammadiyah (MDMC) PWM Sumbar bekerja sama dengan relawan dan aparat membangun akses darurat.
Ketua MDMC PWM Sumbar, Portito, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah membuka akses yang terputus dan mempercepat distribusi logistik. Tim MDMC bersama dan relawan dan aparat tengah membangun akses darurat untuk menembus jorong yang masih terisolasi.
“Kami mendahulukan daerah yang belum tersentuh bantuan. Pembukaan akses menjadi kunci agar logistik dan evakuasi bisa berjalan cepat,” ujar Portito.
Sementara itu, Ketua PWM Sumbar, Bakhtiar, memastikan bahwa Muhammadiyah akan terus hadir mendampingi masyarakat hingga kondisi pulih.
“Muhammadiyah berkomitmen berada di tengah masyarakat terdampak, mulai dari tanggap darurat hingga pemulihan,” tegas Bakhtiar.
Beberapa wilayah seperti Pagadih, Malalak Selatan, dan Jorong Lambah di IV Koto Palembayan menjadi titik akses paling berat. Kendala cuaca dan banjir susulan membuat evakuasi dan penyaluran bantuan berjalan lambat.
Upaya pembukaan jalan dan penyaluran bantuan terus dilakukan sepanjang hari. MDMC mengimbau warga untuk tetap waspada dan bersabar, sembari memastikan seluruh titik terisolir menjadi prioritas penanganan.

