![]() |
| Yuli Mariyam (Pendidik Generasi Tangguh) |
Gaza makin membara. Setiap detik dentuman bom merobohkan bangunan, menyisakan tangis, ratapan dan tubuh yang tak lagi utuh untuk dikebumikan di tanah mulia. Para syuhada dan warga sipil dibuat ketakutan dan kelaparan dalam blokade dua tahun terakhir ini. Bagaikan iblis yang menyeringai, Netanyahu laknatullah telah memerintahkan pasukan kera untuk merebut kota Gaza dan mendesak penghuninya meninggalkan kota tersebut. Serangan demi serangan yang digencarkan dari pinggiran kota bagian utara Palestina itu di lakukan selama berminggu-minggu. Gayung bersambut, Instruksi Perdana Menteri Israel tersebut disambut baik oleh presiden Amerika Donald Trump sebagai pendukung setianya agar Israel segera mengambil alih Gaza (republikka.co.id)
Bagi manusia yang masih mengena artil kemanusiaan, Hal ini tentu membuat geram dan tidak mentolerir aksi biadab Zionis tersebut. Sebuah aksi kemanusiaan dilakukan untuk membuka blokade Gaza dan menyampaikan bantuan kemanusiaan terhadap warga Gaza. Aksi tersebut dilakukan oleh Global Sumud Flotilla dengan menggunakan 50 kapal dan menyertakan ratusan relawan dari 44 negara dunia. Meski pada tanggal 12 September 2025 Delegasi Indonesia menyatakan menarik diri dari perjalanan tersebut karena alasan teknis dan cuaca, namun dunia tidaklah buta, aksi Global Sumud telah mendapatkan perlakuan yang buruk dari militer zionis, apalagi mereka hanya membawa bantuan kemanusiaan tanpa disertai militer. Seperti diketahui, media memberitakan bahwa tanggal 9 September 2025 telah terjadi penembakan yang dilakukan oleh pesawat nirawak milik zionis kepada Family boat yang beranggotakan 6 orang dan berlayaran di lepas pantai Tunisia. Meski jelas penembakan, namun pemerintah Tunisia menyatakan bahwa itu murni karena kebakaran kapal semata.(Antaranews.co.id) bukti penguasa telah dibungkam.e
Bungkamnya kaum muslim dan penguasa Tirani
Dua miliar lebih kaum muslim seluruh dunia tak mampu melawan 7 juta pasukan kera Israel, sungguh tidaklah masuk di akal. Namun itulah yang terjadi pada dunia saat ini, negeri-negeri kaum muslim yang berbatasan langsung dengan Palestina tidak mampu menyuarakan kebenaran apalagi mengirim pasukan untuk membebaskan Palestina dari blokade yang terjadi 2 tahun terakhir. Penyebabnya hanyalah satu, umat belum menyadari bahwa kaum muslim sejatinya adalah satu tubuh, dalam aqidahnya ada aturan apabila muslim yang satu dalam kesulitan yang lain harus membantu dan menyelamatkan, namun kekuasaan tirani yang ada pada negeri-negeri muslim lebih memilih mendengar bisikan barat yang menyuarakan solusi dua negara pada konflik Palestina dan Israel. Mereka enggan membuka gerbang yang berbatasan langsung dengan Palestina untuk memberikan bantuan, akibat tekanan yang diberikan oleh Israel kepada mereka. Ketakutan akan kematian dan kehilangan kedudukan menjadikan mereka bagai hidup di ujung tanduk. Padahal militer negeri-negeri muslim tidaklah sedikit, alusista yang mereka miliki pun bukan kaleng-kaleng, dan mislim bukanlah umat yang takit akan kematian, kematian dalam peperangan diberikan kemulyaan yang tidak ada bandingnya dengan kematian yang lain. Jika militer muslim bersatu dan melawan Israel, tanah ribat itu akan bebas dari penjajahan.
Kesadaran Umat
Mengembalikan kesadaran di tengah lelapnya pemikiran umat saat ini adalah satu-satunya cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam proses dakwah beliau selama 13 tahun di Makkah. Beliau mentaskif para sahabat di rumah Arqom Bin Abi Arqom agar menjadi agen-agen perubahan di tengah kerusakan umat saat itu, penanaman aqidah yang diberikan oleh Rasulullah membawa perubahan pemikiran dalam diri umat, tentang pemahaman, tolak ukur dan qonaat dalam islam. Perubahan hakiki yang dimulai dari individu-individu muslim yang beriman dan beramar makruf mahi munkar, menyebar ke masyarakat hingga diterapkan dalam institusi negara Islam, tanpa kekerasan, tanpa pemaksaan, murni dari kesadaran umat. Aturan Islam menjaga nyawa dan harta manusia. Institusi islam akan menghukum mati bagi seseorang yang telah menghilangkan nyawa orang lain dengan senaja dan tanpa hak. Jika itu dilakukan oleh sebuah negara, maka negara Islam akan mengirim pasukan terbaik untuk jihad fii sabilillah dalam mempertahankan wilayah dan kemulyaan kaum muslim. Hal ini sudah terbaca dalam sejarah-sejarah kaum muslim. Bahkan palestina berulang kali dibebaskan dari penduduk kan Romawi dan Salibis.
Namun saat ini institusi islam itu belum ada, sejak ditumbangkan di Turky 101 tahun yang lalu oleh Mustofa Kemal At Tarturk. Sejak saat itu muslim tak lagi bersatu, tersekat nasional-nasional, terpisah dalam beberapa warna bendera. Maka kewajiban kaum muslim saat inilah untuk menyatukan pemahaman, pemikiran dan perasaan, agar senantiasa terikat dengan hukum syara' sehingga syariat bisa ditegakkan dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Daulah islam lah yang akan membebaskan Palestina dari penjajah Zionis laknatullah dan akan juga negri-negri muslim dari ketundukan kepada musuh-musuh islam, dari paham nasionalisme dan juga sekulerisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. Muslim akan kembali sejahtera dalam satu bendera Laa ilaaha illallah muhammadar rasulullah, yang dengannya kita hidup, dengannya kita mati dan dengannya pula kita dibangkitkan.
Wallahi A'lam bishowab.
