Oleh Ummu Hamizan
Aktivis Muslimah
Setiap kali kabut asap kembali menyelimuti permukiman, kekhawatiran terbesar bagi seorang ibu sering kali tertuju pada kondisi anak-anak. Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman bagi kesehatan keluarga. Balita, anak-anak, serta ibu hamil dan menyusui termasuk kelompok yang rentan mengalami dampak kesehatan akibat buruknya kualitas udara. Ketika asap datang, aktivitas keluarga ikut berubah dan ruang gerak anak pun semakin terbatas.
Dampaknya tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Di wilayah terdampak karhutla, perempuan dapat menghadapi beban yang berlapis. Ketika anak atau anggota keluarga jatuh sakit, ibu biasanya menjadi pihak yang paling banyak terlibat dalam perawatan. Pada saat yang sama, kelangkaan air bersih, terganggunya aktivitas harian, hingga berkurangnya sumber penghasilan membuat tanggung jawab tersebut semakin berat. Bencana lingkungan akhirnya memberikan tekanan langsung kepada kehidupan keluarga.
Dilansir dari antaranews.com, kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil perlu mewaspadai dampak kesehatan akibat paparan asap karhutla. Imbauan untuk menggunakan perlindungan pernapasan, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan menjaga kondisi kesehatan memang penting sebagai langkah menghadapi situasi darurat. Namun, perlindungan masyarakat seharusnya tidak berhenti pada upaya menghadapi dampak setelah bencana terjadi.
Karhutla yang berulang menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar dalam pengelolaan lahan dan lingkungan. Kebakaran tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan api yang harus dipadamkan. Pembukaan lahan dalam skala besar, lemahnya pengawasan, serta kebijakan pemanfaatan sumber daya yang mengabaikan keberlanjutan dapat memperbesar risiko kerusakan lingkungan. Ketika persoalan di bagian hulu tidak diselesaikan, masyarakat akan terus menghadapi dampak yang sama dari tahun ke tahun.
Dalam kondisi seperti ini, keluarga sering kali menjadi pihak yang menanggung konsekuensi paling nyata. Negara memberikan imbauan kesehatan ketika kualitas udara memburuk, sementara ibu harus memastikan anak tetap aman di rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menangani anggota keluarga yang sakit. Beban yang semestinya tidak ditanggung sendiri oleh keluarga akhirnya semakin besar, terutama bagi perempuan yang sejak awal memiliki banyak tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga.
Bagi seorang ibu, bencana yang berulang juga berarti kekhawatiran yang berulang. Kesehatan anak menjadi perhatian utama, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus berjalan. Ketika sumber penghidupan ikut terganggu, persoalannya menjadi semakin kompleks. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya berdampak pada alam, tetapi juga dapat memperlebar beban sosial dan ekonomi yang dirasakan keluarga.
Islam memandang perlindungan manusia dan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. Pengelolaan hutan dan sumber daya alam harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas serta keberlangsungan lingkungan. Kekayaan alam yang menjadi kebutuhan bersama tidak semestinya dikelola hanya berdasarkan kepentingan keuntungan, sementara masyarakat harus menanggung dampak kerusakannya.
Dalam sistem Islam, negara memiliki tanggung jawab sebagai pelindung dan pengurus rakyat. Ketika masyarakat menghadapi bencana, negara berkewajiban memastikan tersedianya layanan kesehatan, fasilitas medis yang layak, air bersih, serta bantuan bagi kelompok yang terdampak. Perlindungan tersebut penting agar keluarga, terutama perempuan dan anak-anak, tidak harus menghadapi seluruh beban bencana seorang diri.
Pencegahan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan lingkungan. Aktivitas yang menyebabkan kerusakan harus diawasi dan ditindak secara tegas sesuai ketentuan hukum. Pengelolaan lahan perlu diarahkan pada kemaslahatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem, bukan semata-mata mengejar keuntungan jangka pendek. Dengan pendekatan seperti ini, negara tidak hanya hadir ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi juga mencegah munculnya kerusakan sejak awal.
Pada akhirnya, karhutla bukan sekadar persoalan musim kemarau atau sulitnya memadamkan api. Di dalamnya terdapat persoalan tata kelola lingkungan, perlindungan masyarakat, kesehatan generasi, dan beban keluarga yang saling berkaitan. Seorang ibu dan anak-anak seharusnya tidak terus hidup dalam siklus yang sama setiap kali musim karhutla datang. Lingkungan yang aman dan sehat membutuhkan pengelolaan yang berpihak pada keselamatan manusia serta keberlanjutan kehidupan. Dalam kerangka inilah, penerapan sistem Islam menawarkan perspektif bahwa perlindungan rakyat dan alam merupakan tanggung jawab negara yang harus diwujudkan secara nyata.
Wallahu'alam bii shawwab