Bernapas dalam Asap

 


Oleh Yeni Suryani

Aktivis Muslimah

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang setiap tahun. Pembukaan lahan secara masif menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Namun, respons pemerintah selama ini masih cenderung berfokus pada pemadaman di hilir, tanpa menyelesaikan persoalan utama di hulu yang menjadi pemicu terjadinya kebakaran

Dilansir media online  Mongbay. Com pada hari Selasa (18/8/2026).Kebakaran hutan dari tahun ke tahun terus menjadi persoalan serius. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan mencatat sebanyak 512 kejadian karhutla dengan luas mencapai 1.345,62 hektare. Sepanjang Januari hingga Juli, Banjarbaru menjadi wilayah dengan kejadian tertinggi, yakni 62 kejadian kebakaran yang menghanguskan 392,62 hektare.

Lahan gambut pada dasarnya memiliki karakteristik yang membuatnya rentan terbakar ketika mengalami pengeringan dan pembukaan lahan. Beberapa kasus pembakaran lahan bahkan telah berujung pada penangkapan pelaku di lapangan. Namun, persoalan tidak berhenti pada pelaku yang berada di lapangan. Masyarakat juga patut bertanya: siapa yang berada di balik kepentingan pembukaan lahan tersebut?

Karhutla bukan sekadar persoalan api yang muncul dan kemudian dipadamkan. Di baliknya terdapat persoalan tata kelola lahan, kepentingan ekonomi, serta eksploitasi sumber daya alam. Ketika keuntungan menjadi orientasi utama, kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan berisiko dikorbankan. Hak masyarakat atas lingkungan yang aman dan sehat pun dapat terpinggirkan.

Allah Swt telah mengingatkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Perbuatan manusia memiliki konsekuensi yang pada akhirnya kembali dirasakan oleh manusia itu sendiri.

Karhutla hanya menyisakan penderitaan dan udara yang menyesakkan. Bukan hanya pepohonan yang hilang yang sejatinya memiliki peran penting bagi ekosistem dan tata air tetapi juga habitat satwa yang ikut rusak. Berbagai satwa kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan. Sebagian menjadi korban kebakaran, sementara sebagian lainnya terpaksa berpindah untuk mencari tempat berlindung.

Korban terbesar tentu saja adalah manusia, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak. Balita, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, hingga lansia merupakan kelompok yang rentan terhadap paparan asap. Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dampaknya juga dirasakan oleh para petugas pemadam kebakaran, warga, dan relawan yang berada di garis depan penanganan karhutla. Mereka harus bekerja dalam kondisi lingkungan yang penuh asap demi memadamkan api dan melindungi masyarakat.

Dampak karhutla bahkan dapat melampaui batas wilayah. Asap yang terbawa angin berpotensi mengganggu kualitas udara di wilayah lain, termasuk negara-negara tetangga. Artinya, persoalan karhutla bukan hanya menjadi masalah lokal, tetapi dapat berkembang menjadi persoalan regional yang merugikan banyak pihak.

Jika pembukaan lahan secara masif dan praktik eksploitasi yang merusak ekosistem terus berlangsung, karhutla berpotensi terus berulang. Dalam pandangan kritis terhadap sistem kapitalisme, orientasi pada keuntungan ekonomi dan kepentingan korporasi dapat mendorong eksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan masyarakat. Pada akhirnya, generasi mendatanglah yang harus menanggung dampaknya.

Islam Menjaga Lingkungan dan Rakyat

Islam memandang bahwa negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan dan kemaslahatan rakyat. Negara tidak boleh membiarkan aktivitas ekonomi yang menimbulkan kemudaratan bagi masyarakat dan merusak lingkungan.

Karena itu, pemerintah harus melakukan pencegahan sejak dari akar persoalan, bukan hanya bertindak ketika kebakaran telah terjadi. Pengawasan terhadap pengelolaan hutan dan lahan harus diperketat. Aktivitas yang terbukti merusak lingkungan harus ditindak tegas, sementara pelaku yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat harus mendapatkan sanksi yang sesuai.

Lebih dari itu, negara perlu memastikan bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak hanya berorientasi pada keuntungan segelintir pihak, tetapi benar-benar diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat dan keberlangsungan lingkungan.

Sebab, menjaga hutan bukan hanya tentang menyelamatkan pohon. Menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan manusia, satwa, sumber air, udara, dan masa depan generasi yang akan datang.

Jangan sampai generasi hari ini hanya mewariskan kekayaan yang telah dieksploitasi, tetapi meninggalkan generasi berikutnya dengan udara yang harus mereka hirup dalam asap. Wallahu alam bissawab

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,99,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,2,Depok,1,Dharmasraya,43,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,4,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,269,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,216,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,212,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,850,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,4,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,5,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,670,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,106,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Bernapas dalam Asap
Bernapas dalam Asap
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpjLzbFo3yNDiJYNBjSJUtmIWJrzx8Irh5KFhDB6YBQlbJvmhOkJwcJJqdbk12mSfmQ2SKPqO_vFrf5lLWPoQUdmxwPmCATiwslvtFbq9V3yW7wzjLgWXyIMNMJxQjNINQELBtLJZRfTNRv8N7Kp1R9PXwbxCsgEJseYS_dYnKG5vWQsxCmspbBMQMDCYf/s320/YENI%20SURYANI.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpjLzbFo3yNDiJYNBjSJUtmIWJrzx8Irh5KFhDB6YBQlbJvmhOkJwcJJqdbk12mSfmQ2SKPqO_vFrf5lLWPoQUdmxwPmCATiwslvtFbq9V3yW7wzjLgWXyIMNMJxQjNINQELBtLJZRfTNRv8N7Kp1R9PXwbxCsgEJseYS_dYnKG5vWQsxCmspbBMQMDCYf/s72-c/YENI%20SURYANI.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/09/bernapas-dalam-asap.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/09/bernapas-dalam-asap.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content