Penulis:Umi Rokayah
Rumah tangga seharusnya menjadi tempat pertama bagi seseorang untuk mendapatkan ketenangan, kasih sayang, dan perlindungan. Namun, kenyataan di tengah masyarakat menunjukkan bahwa kehidupan keluarga tidak selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan. Konflik antara suami dan istri, pertengkaran, hingga kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius.
Kehidupan rumah tangga yang harmonis tidak cukup dibangun hanya dengan rasa cinta. Pernikahan membutuhkan tanggung jawab, kesabaran, komunikasi yang baik, serta pemahaman terhadap hak dan kewajiban masing-masing. Bagi seorang muslim, seluruh perkara tersebut semestinya dikembalikan kepada tuntunan Islam.
Ketika pasangan suami istri menjadikan aturan Allah Swt. sebagai pedoman, kehidupan rumah tangga akan memiliki arah yang jelas. Mereka tidak hanya mengejar kebahagiaan sesaat, tetapi berusaha membangun keluarga yang penuh ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan.
Islam Mengajarkan Pergaulan yang Baik dalam Rumah Tangga
Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan antara suami dan istri. Salah satu prinsip yang sangat penting adalah mu’asyarah bil ma’ruf, yaitu memperlakukan pasangan dengan cara yang baik, patut, penuh penghormatan, dan sesuai dengan tuntunan syariat.
Allah Swt. berfirman:
«وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا»
«“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(QS An-Nisa’: 19)»
Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa hubungan suami istri tidak boleh dibangun berdasarkan keinginan untuk menang sendiri. Ketika muncul kekurangan atau sesuatu yang tidak disukai dari pasangan, seorang muslim diperintahkan untuk bersabar dan tetap memperlakukannya dengan baik.
Mu’asyarah bil ma’ruf dapat diwujudkan melalui perkataan yang lembut, sikap saling menghormati, memenuhi hak pasangan, memberikan nafkah, menjaga kehormatan keluarga, serta tidak melakukan tindakan yang menyakiti secara fisik maupun verbal.
Kehidupan rumah tangga tentu tidak akan selalu berjalan tanpa masalah. Setiap pasangan memiliki karakter, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan, apalagi melakukan kekerasan.
Justru ketika muncul persoalan, suami dan istri perlu mengedepankan komunikasi, kesabaran, dan penyelesaian yang bijaksana.
Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan
Rasulullah saw. adalah contoh terbaik dalam memperlakukan keluarga. Beliau tidak hanya mengajarkan kebaikan kepada umat melalui perkataan, tetapi juga memperlihatkannya melalui kehidupan sehari-hari.
Rasulullah saw. bersabda:
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي»
«“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”
(HR Ibnu Majah)»
Hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya terlihat dari bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain di luar rumah. Sikap seseorang terhadap keluarganya juga menjadi cerminan akhlaknya.
Rasulullah saw. memperlakukan istri-istrinya dengan penuh kasih sayang. Beliau berbicara dengan lembut, memperhatikan perasaan mereka, serta tidak menjadikan kekurangan mereka sebagai bahan untuk merendahkan.
Dalam kehidupan rumah tangga, Rasulullah saw. juga menunjukkan bahwa hubungan suami istri dapat diwarnai dengan canda, perhatian, dan kebersamaan. Beliau pernah berlomba lari dengan Aisyah r.a. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kasih sayang dalam rumah tangga dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana yang membuat pasangan merasa dihargai dan diperhatikan.
Keteladanan Rasulullah saw. memberikan gambaran bahwa kehidupan pernikahan bukan hanya tentang menjalankan kewajiban, tetapi juga tentang menciptakan suasana yang penuh kasih dan persahabatan.
Menjaga Lisan dan Perasaan Pasangan
Salah satu penyebab munculnya konflik dalam keluarga adalah buruknya komunikasi. Kata-kata yang kasar, hinaan, celaan, dan ucapan yang merendahkan dapat meninggalkan luka yang terkadang lebih dalam daripada luka fisik.
Oleh karena itu, pasangan suami istri hendaknya berhati-hati dalam berbicara. Ketika sedang marah, sebaiknya seseorang tidak terburu-buru mengeluarkan kata-kata yang dapat disesali kemudian.
Rasulullah saw. mengajarkan agar seorang mukmin tidak hanya melihat kekurangan pasangannya. Beliau bersabda:
«“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, ia akan menyukai perangai lainnya.”
(HR Muslim)»
Hadis ini mengajarkan sikap objektif dalam melihat pasangan. Tidak ada manusia yang sempurna. Suami memiliki kekurangan, demikian pula istri. Karena itu, kehidupan rumah tangga membutuhkan kemampuan untuk menerima kekurangan sekaligus menghargai kelebihan pasangan.
Rumah Tangga Bukan Tempat untuk Melampiaskan Emosi
Perselisihan dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Namun, konflik tidak boleh menjadi pembenaran untuk melakukan kekerasan.
Suami tidak boleh menjadikan posisi sebagai kepala keluarga untuk bertindak sewenang-wenang. Begitu pula istri tidak seharusnya menyakiti suami melalui perkataan maupun tindakan.
Keduanya memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehormatan dan ketenteraman rumah tangga.
Ketika kemarahan muncul, pasangan hendaknya berusaha menenangkan diri sebelum mengambil keputusan. Permasalahan dibicarakan dengan kepala dingin. Jika persoalan semakin berat dan sulit diselesaikan, maka diperlukan pihak yang bijaksana dan dapat dipercaya untuk membantu mencari jalan keluar.
Menjaga keutuhan keluarga bukan berarti membiarkan kezaliman berlangsung. Setiap bentuk kekerasan harus dihentikan dan persoalan harus diselesaikan dengan cara yang benar dan aman.
Membangun Keluarga dengan Kasih Sayang
Keluarga yang bahagia tidak terbentuk dalam satu malam. Ia dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Mengucapkan terima kasih kepada pasangan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, membantu pekerjaan rumah, memberikan perhatian kepada anak, mendengarkan keluhan pasangan, dan menyediakan waktu untuk keluarga merupakan bentuk sederhana dari kasih sayang.
Suami dan istri hendaknya memahami bahwa mereka bukanlah dua orang yang sedang berkompetisi untuk menentukan siapa yang paling benar. Mereka adalah pasangan yang memiliki tujuan bersama, yaitu membangun kehidupan keluarga yang diridai Allah Swt.
Karena itu, ketika salah satu melakukan kesalahan, yang lain hendaknya membantu memperbaiki, bukan mempermalukan. Ketika salah satu sedang lemah, yang lain memberikan dukungan. Ketika menghadapi kesulitan, keduanya saling menguatkan.
Penutup
Kehidupan rumah tangga membutuhkan lebih dari sekadar cinta. Diperlukan ilmu, kesabaran, tanggung jawab, komunikasi yang sehat, dan ketundukan kepada aturan Allah Swt.
Mu’asyarah bil ma’ruf menjadi salah satu prinsip penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis. Suami memperlakukan istri dengan penuh penghormatan dan kasih sayang, sementara istri juga menjaga kehormatan serta memperlakukan suami dengan baik.
Rasulullah saw. telah memberikan contoh nyata bagaimana membangun hubungan keluarga yang diliputi kelembutan, perhatian, dan kasih sayang. Keteladanan beliau hendaknya menjadi inspirasi bagi setiap keluarga muslim.
Semoga rumah-rumah kaum muslimin menjadi tempat tumbuhnya cinta, ketenangan, pendidikan bagi anak-anak, serta tempat kembali yang menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi seluruh anggota keluarga.
Dengan menjadikan syariat sebagai pedoman dan Rasulullah saw. sebagai teladan, semoga setiap keluarga mampu membangun kehidupan yang harmonis, penuh keberkahan, dan senantiasa berada dalam rida Allah Swt.
Wallahu a’lam bish-shawab.
