Oleh Rukmini
Pegiat Literasi
Peringatan kemerdekaan selalu diisi narasi tentang “bonus demografi” dan “generasi emas”. Namun, di lapangan kita justru melihat generasi yang seharusnya menjadi tumpuan peradaban itu sedang terhimpit. Terhimpit biaya hidup, terhimpit budaya, dan yang paling berbahaya: terhimpit kekosongan arah.
Inilah potret Gen Z hari ini. Lahir di tengah banjir informasi, tapi tumbuh dalam sistem yang menindas. Bukan karena mereka malas. Bukan karena mereka lemah. Tapi karena sistem hari ini memang dirancang untuk membuat mereka lelah, kosong, dan terus bergantung pada konsumsi.
Terhimpit Ekonomi, Ketagihan Konsumsi
Data menunjukkan realitas yang pahit. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Rasa cemas menjadi teman sehari-hari. Cemas tidak bisa membeli rumah, cemas PHK, cemas tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar di masa depan.
Ironisnya, di tengah ketidakamanan itu, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus naik. Bukan karena berlebih, tapi karena dianggap kebutuhan emosional. Logikanya sederhana: “Saya sudah bekerja keras, saya berhak membahagiakan diri”. Padahal setiap kali mencoba melarikan diri dari tekanan melalui konsumsi, tekanan baru justru muncul: tagihan kartu kredit, cicilan, dan rasa bersalah. money.kompas.com, Minggu (03/05/2026)
Gen Z hari ini terjebak dalam lingkaran. Bekerja untuk membayar kebutuhan, lalu berutang untuk membayar kelelahan bekerja. Inilah wajah generasi yang dijepit.
Ketika Sistem Menindas dan Budaya Merusak
Keterjepitan ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari tiga kekuatan besar yang bekerja bersamaan untuk melumpuhkan generasi.
Kekuatan pertama datang dari sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ini menciptakan struktur yang timpang. Biaya hidup naik setiap tahun: pangan, pendidikan, kesehatan, tempat tinggal. Sementara itu upah dan gaji stagnan. Kesenjangan ini memaksa Gen Z bekerja lebih lama dengan hasil yang tidak bertambah. Negara juga melepaskan tanggung jawabnya. Kebutuhan dasar tidak lagi dijamin sebagai hak, melainkan diserahkan kepada pasar. Pendidikan mahal, kesehatan komersil, lapangan kerja diperebutkan. Akibatnya, generasi muda dibiarkan berjuang sendiri. Ketika jatuh, mereka disalahkan. Padahal sistemnya memang tidak memberi ruang untuk berdiri.
Kekuatan kedua adalah budaya sekuler-liberal yang merajalela. Ketika tekanan datang, sistem tidak menawarkan solusi, melainkan pelarian. Narasi self-reward, healing, dan hedonisme dipromosikan sebagai jawaban atas stres. “Hidup cuma sekali, nikmati saja” menjadi mantra. Media sosial menjadi mesin pendorong. Algoritma terus menjejali feed dengan gaya hidup glamor, barang branded, dan standar bahagia semu. Lahirlah FOMO dan belanja impulsif. Gen Z tidak lagi membeli karena butuh, tapi karena ingin diakui. Kebahagiaan diukur dari jumlah likes, bukan ketenangan jiwa.
Kekuatan ketiga adalah krisis tujuan hidup yang paling mendasar. Karena agama disingkirkan dari ruang publik, pertanyaan “untuk apa saya hidup” tidak pernah dijawab. Tanpa kompas, maka tolok ukur sukses pun bergeser. Sukses diartikan sebagai materi, viral, dan kenikmatan sesaat. Rida Allah, kemuliaan, dan pengabdian pada umat tidak lagi menjadi orientasi. Ketika tujuan hidup hanya sebatas dunia, maka sedikit guncangan ekonomi akan membuat jiwa merasa hampa. Inilah sebabnya banyak Gen Z yang secara materi “cukup” tapi tetap merasa kosong dan depresi.
Membebaskan Generasi Dengan Syariah Kaffah
Masalah sistemik tidak akan selesai dengan solusi tambal-sulam. Selama sistemnya masih kapitalisme sekuler, maka Gen Z akan terus diproduksi dalam keadaan terhimpit. Solusi tuntas hanya ada ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam institusi negara, yaitu sistem Islam.
Sistem Islam akan hadir sebagai pengurus urusan rakyat, bukan sebagai regulator yang lepas tangan. Kewajiban pertama negara adalah menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyat. Sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan adalah hak yang wajib dipenuhi negara, bukan komoditas yang diperjualbelikan.
Jaminan ini dimulai dari pengelolaan sumber daya alam. Dalam Islam, SDA yang melimpah seperti minyak, gas, tambang, hutan, dan laut adalah milik umum. Negara haram menyerahkannya kepada swasta atau asing. Hasilnya wajib dikelola oleh Baitul Mal dan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk subsidi, infrastruktur, dan layanan publik gratis. Dengan begitu beban hidup Gen Z akan dipangkas secara signifikan.
Di sisi ketenagakerjaan, sistem Islam berkewajiban membuka lapangan kerja seluas-luasnya melalui penguatan sektor riil: pertanian, industri, dan perdagangan yang halal. Setiap laki-laki yang mampu bekerja akan dipastikan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan upah yang adil. Dengan demikian tidak ada lagi narasi “berjuang sendiri”. Negara hadir menjamin, sehingga Gen Z bisa fokus membangun, bukan sekadar bertahan hidup.
Selain menjamin ekonomi, sistem Islam juga akan menutup rapat pintu-pintu yang merusak generasi. Gaya hidup hedonis tidak akan mendapat tempat karena negara akan mengontrol media dan informasi. Konten yang menyebarkan sekularisme, materialisme, pornoaksi, dan konsumerisme akan dihentikan. Sebagai gantinya, media diarahkan untuk edukasi, mencerdaskan, dan meningkatkan ketakwaan umat. Negara wajib menjaga akal dan akhlak rakyat, bukan hanya menjaga iklim investasi.
Yang paling fundamental adalah membangun kembali paradigma hidup. Sistem Islam akan menanamkan melalui pendidikan dan sistem sosial bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Firman Allah: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Dengan akidah yang kokoh, Gen Z akan memiliki visi besar. Mereka tidak akan mengejar kenikmatan sesaat, tetapi kemuliaan dunia akhirat. Mereka akan dilahirkan sebagai generasi pembangun peradaban, bukan generasi konsumen. Mereka akan memahami bahwa kebahagiaan hakiki bukan pada barang, tetapi pada ketaatan. Ketika tujuan hidup jelas, maka tekanan dunia tidak akan mematahkan. Ketika akhlak dijaga, maka hedonisme tidak akan memiliki ruang untuk tumbuh.
Gen Z tidak gagal. Yang gagal adalah sistem yang menjepit mereka. Kapitalisme membuat miskin, sekularisme membuat rusak, dan kekosongan akidah membuat tersesat.
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan korban dan mulai membongkar sistem. Sudah saatnya kita menawarkan solusi hakiki: kembali kepada Islam secara kaffah. Hanya dengan itu Gen Z dapat dibebaskan dari kemiskinan, dijaga dari kerusakan budaya, dan diarahkan kepada kemuliaan.
Karena generasi yang kuat hanya lahir dari sistem yang memuliakan. Dan sistem yang memuliakan hanyalah sistem yang berasal dari Sang Pencipta manusia.
Wallahu a’lam bish-shawab.
