Oleh Nurenda
Aktivis Dakwah
Ayo
kita kembali ke sekolah
Berangkat
dari rumah baca basmalah
Agar
belajar berkah
Doa
ibu dan ayah
Belajar
kita akan jadi mudah
Hari
pertama masuk ke sekolah salam sapa guru, teman dengan ramah
Potongan
lirik diatas seharusnya terdengar riang gembira bergema dinyanyikan oleh para
siswa siswi tahun ajaran baru, faktanya memasuki tahun ajaran baru, sejumlah
Sekolah Dasar (SD) Negeri diberbagai wilayah Indonesia menghadapi tantangan
serius berupa mirisnya jumlah pendaftar. Fenomena ini melanda beberapa daerah
mulai dari Lampung, Banten hingga Jawa Timur dengan berbagai faktor penyebab
yang menyertainya. Beberapa SDN seperti diantaranya:
1.SDN
1 Gedung Meneng Lampung dilaporkan hanya menerima dua orang siswa baru.
2.SDN
Labuan 7 Pandeglang tahun ini, hanya ada tiga siswa baru, yakni dua laki-laki
dan satu perempuan yang mendaftar.
3.SDN Kamilanis 4 Blitar Krisis paling parah yang dialami oleh tiga SD Negeri di kabupaten Blitar, Jawa Timur, salah satunya adalah SDN Kamilanis 4, kecamatan Doko, yang tahun ini sama sekali tidak mendapatkan murid baru. Dilansir dari METROTV 17 July 2026 14:12
Krisis murid baru ini terjadi persis di sejumlah SD Negeri, mengapa demikian? Faktor yang mempengaruhinya adalah terdapatnya jumlah anak usia sekolah yang makin minim disekitarnya atau karena pertumbuhan penduduk menurun, generasi menua, dan tentu saja urbanisasi serta pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan pendidikan agama yaitu ibadah, mengaji dan tidak lupa akhlak. Orangtua memiliki ketakutan akan keselamatan anaknya karena kerusakan dan kenakalan remaja semakin banyak, tetapi solusi dari pemerintah yaitu regrouping beberapa SDN menjadi satu, tetapi hal ini juga sulit dilaksanakan karena jarak sekolah jadi jauh.
Tidak
bisa dipungkiri para orangtua lebih banyak memilih sekolah swasta karena
menawarkan fasilitas lebih lengkap, kurikulum yang lebih variatif, dan
pengawasan siswa yang lebih intensif. Selain itu, sekolah negeri kerap terkenda
oleh sistem zonasi yang ketat dan jumlah murid per kelas yang terlalu padat,
dengan beberapa alasan utama seperti fasilitas dan layanan yang lebih optimal,
perhatian Guru lebih fokus, kurikulum khusus dan ekstra kurikuler, kendala
sistem zonasi Negeri dan pembentukan karakter dan Agama.
Setelah menganalisa adanya perubahan struktur demografi (penduduk menua), terjadi karena program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran turun, kegagalan kebijakan ekonomi membuat biaya hidup tinggi dan kesejahteraan sulit diraih sehingga pasangan muda enggan punya anak. Urbanisasi marak karena kesenjangan pendapatan antara desa dan kota ini terjadi karena minimnya lapangan kerja, upah rendah dan fasilitas terbatas serta kota menjadi magnet utama karena menawarkan gaji yang lebih tinggi, ketersediaan pekerjaan disektor industri atau jasa serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang jauh lebih lengkap.
Sikap
para orang tua lebih memilih sekolah yang mengajarkan agama dibandingkan dengan
sekolah negeri menunjukkan besar kekhawatiran terhadap kerusakan generasi hari
ini akibat sistem sekuler liberal yang memproduksi berbagai kerusakan moral
hingga tindak kriminal dikalangan sekolah dan perubahan kurikulum yang terus
berulang terbukti tidak mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem
sekuler.
Dalil
Pendidikan dalam Islam jelas bersumber dari Al Qur'an dan Hadis yang selalu
menekankan pentingnya menuntut ilmu, membaca dan mengajarkannya untuk
pengembangan moral dan intelektual manusia.
Seperti halnya H.R Ibnu Majah: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim."
Dalam Al Qur'an surat Al-Alaq 1-5: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah Tuhanmu lah yang Maha Pemurah yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Dalam
surat tersebut menekankan pentingnya literasi, membaca dan proses belajar
mengajar sebagai Wahyu pertama yang diturunkan menunjukkan bahwa peradaban
Islam dibangun diatas fondasi pendidikan.
Dalam
sistem Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting
peradaban sehingga negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan
pemerataan pendidikan berkualitas serta gratis bagi seluruh rakyat. Dalam
sistem ini menggunakan institusi khilafah berkurikulum berbasis akidah. Islam
dalam mewujudkan output pendidikan yang berkepribadian Islam dan mahir dalam
IPTEK dalam hal ini negara harus menyediakan SDM Guru, infrastruktur, sarana,
dan prasarana dalam mendukung pendidikan yang berkualitas. Dalam kasus seperti
ini kesadaran masyarakat harus dinaikan dari level ingin menyelamatkan anak
dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran politik bahwa kerusakan yang ada adalah
kerusakan yang sitemik akibat penerapan sistem sekuler liberal, sehingga dakwah
politik yang harus dibangun oleh masyarakat bisa merubah sistem sekuler liberal
menjadi sistem Islam.
Wallahualam
bissawab
