Mega Korupsi dan Krisis Tata Kelola dalam Kapitalisme

 


Oleh Amelia Ayu Permatasari S S.Psi

Aktivis Muslimah

Publik kembali dikejutkan oleh temuan mencengangkan dalam penggeledahan Cafede’Clan Signature di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, pada 8 Juli 2026, serta rumah milik seorang pejabat penegak hukum. Dari lokasi tersebut ditemukan tumpukan uang dan emas dalam jumlah besar yang diduga berkaitan dengan perkara korupsi. Peristiwa ini menambah panjang daftar skandal yang melibatkan aparat dan pejabat negara.

Sebelumnya, masyarakat juga dibuat geram oleh terungkapnya dugaan korupsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus tersebut menyeret Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), dua wakil kepala badan, dan puluhan nama lainnya. Program yang seharusnya menyentuh kebutuhan dasar rakyat justru tercoreng oleh praktik penyalahgunaan anggaran.

Rangkaian kasus ini menunjukkan bahwa korupsi di lembaga negara bukan lagi sekadar penyimpangan individu. Ia telah berulang kali terjadi pada berbagai sektor dan tingkatan kekuasaan. Ketika pola yang sama terus muncul, persoalannya tidak bisa hanya dijelaskan sebagai kesalahan oknum, melainkan mengindikasikan adanya krisis tata kelola yang bersifat sistemik.

Fakta bahwa pejabat yang telah menyaksikan banyak penangkapan koruptor masih berani melakukan praktik serupa menunjukkan adanya kegagalan dalam menciptakan efek jera. Penegakan hukum yang sering dianggap lamban, kompromistis, atau tidak konsisten membuat korupsi tetap menjadi pilihan yang dianggap menguntungkan. Akibatnya, praktik korupsi perlahan berubah dari penyimpangan menjadi budaya yang menyusup dalam birokrasi dan politik.

Di sisi lain, akar persoalan tidak dapat dilepaskan dari paradigma kehidupan yang dominan saat ini, yaitu kapitalisme sekuler. Dalam sistem ini, ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh akumulasi materi dan kekuasaan. Jabatan dipandang sebagai sarana memperoleh keuntungan ekonomi dan akses proyek, bukan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan masyarakat. Ketika standar halal-haram serta syariat Islam tidak dijadikan landasan hukum dan perundang-undangan, maka pengawasan moral kehilangan pijakan yang kokoh.

Sistem politik demokrasi yang berbiaya tinggi turut memperburuk keadaan. Kontestasi politik membutuhkan dana besar, sementara jabatan yang diperoleh kemudian dipandang sebagai sarana mengembalikan modal politik. Dalam situasi seperti ini, korupsi mudah dinormalisasi dengan berbagai bentuk, mulai dari pengaturan proyek hingga penyalahgunaan anggaran publik.

Karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak cukup berupa pergantian pejabat atau pengetatan administrasi semata. Yang lebih mendasar adalah perubahan paradigma. Orientasi hidup yang berpusat pada materi harus diganti dengan paradigma Islam yang menempatkan seluruh aktivitas sebagai jalan meraih ridha Allah. Seorang pejabat yang meyakini bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah akan memiliki benteng moral yang lebih kuat daripada sekadar takut pada pengawasan manusia.

Islam juga memandang jabatan sebagai amanah, bukan alat memperkaya diri. Rasulullah ﷺ memperingatkan keras penyalahgunaan harta publik, dan syariat Islam menetapkan sanksi tegas terhadap pengkhianatan amanah serta perampasan hak rakyat. Ketegasan hukum ini bukan semata untuk menghukum, tetapi untuk menjaga kehormatan negara dan melindungi kekayaan umat.

Lebih jauh, Islam menawarkan sistem yang menyeluruh. Pendidikan Islam membentuk kepribadian yang takut kepada Allah dan jujur dalam amanah. Sistem ekonomi Islam menutup peluang penumpukan kekayaan secara zalim melalui pengawasan terhadap harta publik dan pengelolaan kepemilikan negara yang jelas. Sistem politik Islam dalam institusi Khilafah dirancang agar penguasa terikat pada syariat, diawasi oleh masyarakat, dan tidak memiliki ruang bebas untuk memperjualbelikan kebijakan demi kepentingan pribadi.

Korupsi yang terus berulang seharusnya menjadi peringatan bahwa persoalan bangsa ini bukan sekadar kurangnya operasi penindakan. Selama tata kelola dibangun di atas paradigma kapitalisme sekuler yang menuhankan materi dan membuka jalan bagi politik berbiaya mahal, maka skandal demi skandal akan terus bermunculan. Sudah saatnya bangsa ini meninjau kembali fondasi sistem yang melahirkan krisis tersebut dan mempertimbangkan tata kelola yang berlandaskan syariat Islam sebagai jalan menuju pemerintahan yang amanah dan bersih.

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,92,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,2,Depok,1,Dharmasraya,31,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,239,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,214,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,203,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,755,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,4,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,5,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,658,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Mega Korupsi dan Krisis Tata Kelola dalam Kapitalisme
Mega Korupsi dan Krisis Tata Kelola dalam Kapitalisme
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvT9g2vMAqHvGgK591lZdGXfoCPAl-5LHeuUow0vDBJcP1UqB3BXe4RQGYdzi1ykYalGif75A1Xo5YHQTt1Tmq_gzTB2wvX-BUW_Iql9Xy66_DDnITZdAnaFCC7Jn7AVf5gsE3rS_0vgljld5f3zOe2jV9NesjSlNxDZc13syNEObmpKHwTFm0XuY6q4TE/s320/WhatsApp%20Image%202026-07-11%20at%2006.41.20.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvT9g2vMAqHvGgK591lZdGXfoCPAl-5LHeuUow0vDBJcP1UqB3BXe4RQGYdzi1ykYalGif75A1Xo5YHQTt1Tmq_gzTB2wvX-BUW_Iql9Xy66_DDnITZdAnaFCC7Jn7AVf5gsE3rS_0vgljld5f3zOe2jV9NesjSlNxDZc13syNEObmpKHwTFm0XuY6q4TE/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-07-11%20at%2006.41.20.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/07/mega-korupsi-dan-krisis-tata-kelola.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/07/mega-korupsi-dan-krisis-tata-kelola.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content