Oleh Rukmini
Aktivis Muslimah
Lebih dari 100 tahun, umat Islam hidup seperti jasad tanpa kepala. Daulah diruntuhkan, lalu kita dibiarkan tercerai-berai, digiring masuk ke dalam kandang-kandang negara bangsa yang memenjarakan syariah. Sejak saat itu, darah umat murah, kehormatan diinjak, sumber daya dirampok, dan akidah digerus pelan-pelan. Semua ini bukan kebetulan. Ini konsekuensi logis dari satu kejahatan besar: hilangnya kepemimpinan Islam.
Di tengah puing kehinaan itu, umat sering berteriak “fardhu kifayah, fardhu kifayah”. Tapi jujur saja, banyak di antara kita yang bahkan tidak paham apa yang sedang diteriakkan. Fardhu kifayah telah direduksi menjadi jargon pengajian, stiker di kaos, dan status media sosial. Padahal ia adalah bom waktu syar’i. Jika sebagian umat tidak menunaikannya, maka seluruh umat menanggung dosanya. Kita sibuk merasa “sudah berdakwah”, padahal kewajiban paling besar belum disentuh sedikit pun.
Faktanya tidak bisa dibantah. Sejak 1924, tidak ada satu negara pun kaum Muslimin yang dipimpin seorang khalifah dan menerapkan syariah secara kaffah. Yang ada hanyalah rezim-rezim sekuler yang tunduk pada tuan di luar sana. Syariah dikurung di buku fikih, sementara hukum kufur berkuasa di parlemen dan pengadilan. Inilah wajah nyata umat tanpa Khilafah: lemah, terpecah, dan dipermainkan.
Lebih menyakitkan lagi, kebodohan kita terhadap makna fardhu kifayah. Banyak yang mengira cukup dengan membangun masjid, bagi-bagi sembako, atau ceramah mingguan. Seolah-olah fardhu kifayah itu amal sunah yang bisa digantikan dengan kegiatan sosial. Padahal yang dimaksud syariah adalah kewajiban kolektif untuk menegakkan institusi yang akan menerapkan syariah seluruhnya. Jika tidak ada yang bergerak ke arah itu, maka semua amal kita tidak akan menghentikan kehinaan ini. Kita sedang menambal atap yang bocor, sementara fondasi rumahnya sudah runtuh.
Maka luruskan. Fardhu kifayah menegakkan Daulah bukan cita-cita manis. Ia adalah kewajiban setara dengan menyelamatkan orang tenggelam. Jika engkau bisa berenang tapi memilih menonton dari tepi, maka darah orang itu ada di tanganmu. Begitu pula umat hari ini. Kita punya jumlah, punya ulama, punya intelektual, punya aktivis, punya mubalighah, punya media. Tapi semua potensi itu dibiarkan mati karena tidak diarahkan pada satu tujuan: mengembalikan kehidupan Islam.
Kenapa kita lalai? Karena dua racun telah merasuki otak umat. Pertama, sekularisme yang memisahkan Islam dari politik. Kita dicekoki bahwa agama urusannya hanya pahala-pahala pribadi, bukan mengatur negara. Kedua, ketiadaan kepemimpinan dakwah yang tegas. Umat digiring ke kerja-kerja seremonial tanpa arah, tanpa target, tanpa kompas syar’i. Akibatnya, kita berlari sangat cepat, tapi ke arah yang salah.
Islam tidak membiarkan kita bingung. Solusinya sudah diturunkan dengan jelas. Pertama, pahami dulu hakikatnya. Fardhu kifayah menegakkan Daulah artinya berjuang mewujudkan negara yang dipimpin khalifah, yang menerapkan seluruh hukum Allah di dalam negeri dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. Ini bukan khayalan. Ia punya syarat mutlak: kesadaran umat, adanya kelompok dakwah yang berjuang secara fikriyah dan siyasah tanpa kompromi dengan batil, adanya nushrah dari ahlul quwwah, dan terpenuhinya rukun negara dalam Islam. Tanpa empat syarat ini, jangan berharap Daulah akan turun dari langit.
Kedua, jangan berjuang buta. Harus ada peta jalan. Tahap pertama: bina kader. Cetak manusia-manusia yang akidahnya baja, tsaqafahnya dalam, dan wawasan politiknya tajam. Tahap kedua: turun ke umat. Bukan untuk minta donasi, tapi untuk menyadarkan dan menyatukan opini umum bahwa penegakan syariah adalah satu-satunya solusi. Tahap ketiga: jemput nushrah. Cari pihak yang punya kekuatan nyata dan serahkan kekuasaan kepadanya. Inilah jalan Rasulullah saw. Tidak ada jalan pintas, tidak ada jalan serampangan.
Ketiga, kuatkan dua pilar dakwah perubahan. Pilar pertama, At-Tsaqafah Al-Islamiyah. Sebarkan Islam sedalam-dalamnya sampai umat berpikir, menilai, dan merasakan dengan standar Islam. Pilar kedua, At-Tafa’ul Ma’al Ummah. Hadir di tengah umat, bawa problem mereka, dan bedah dengan solusi Islam tanpa kompromi. Jika hanya tsaqafah tanpa interaksi, kita jadi kutu buku. Jika hanya interaksi tanpa tsaqafah, kita jadi aktivis tanpa arah. Keduanya harus menyatu.
Keempat, tentukan agenda dan peran. Agenda kita satu: kembalikan Daulah. Dan di sini, mubalighah serta aktivis dakwah adalah kunci. Mubalighah adalah pabrik pejuang. Dari rahim dan pendidikannya lahir generasi yang tidak bisa dibeli oleh dunia. Aktivis dakwah adalah tombak yang menusuk kebatilan dan menyatukan umat. Tanpa mubalighah, tidak ada regenerasi. Tanpa aktivis, tidak ada gerakan. Keduanya tidak bisa saling menunggu. Harus bergerak bersama, sekarang.
Cukup sudah. Cukup kita pura-pura tidak tahu. Cukup kita menipu diri dengan amal-amal kecil sementara kewajiban besar kita kubur. Daulah tidak akan kembali karena doa tanpa kerja. Ia kembali karena ada umat yang bangkit menunaikan fardhu kifayah.
Jadi pilihannya sederhana: Mau jadi bagian dari orang yang menggugurkan dosa ini, atau mau dicatat sejarah sebagai generasi yang membiarkan umat Islam tanpa kepala selama berabad-abad? Jawabannya ada di langkah kita hari ini. Wallahu a’lam bish-shawab.
