Bangkrutnya Sekolah Negeri: Saat Orangtua Lari dari Sistem Sekuler Liberal

 



Oleh Rukmini 

Aktivis Muslimah


Pagar sekolah terbuka lebar. Bangku kosong berjejer. Bel tanda masuk berbunyi, tapi tak ada suara anak berlarian. Pemandangan ini kini bukan hal aneh lagi. Di berbagai daerah, Sekolah Dasar Negeri yang dulu jadi kebanggaan kampung, hari ini sekarat. Calon murid baru nihil. Bahkan ada yang sama sekali tidak menerima pendaftar.  

Ironis, di satu sisi negara mengklaim pendidikan adalah prioritas. Di sisi lain, rakyat justru berbondong-bondong meninggalkan sekolah negeri dan memilih sekolah swasta berbasis agama. Ada apa sebenarnya? Apakah ini sekadar soal jumlah anak yang berkurang? Ataukah ini adalah sinyal keras bahwa masyarakat sudah tidak percaya lagi pada arah pendidikan yang digulirkan negara?  

Data di lapangan sangat memprihatinkan. Sejumlah SDN di berbagai wilayah melaporkan minimnya pendaftar murid baru. Parahnya, ada sekolah yang tahun ini sama sekali tidak kebagian murid. Ada dua penyebab utama:

Pertama, faktor demografi. Jumlah anak usia sekolah terus menyusut. Penyebabnya klasik: pertumbuhan penduduk melambat, struktur penduduk menua, dan urbanisasi besar-besaran dari desa ke kota. Kampung-kampung ditinggal generasi mudanya. Yang tersisa hanya orang tua dan sepi.  

Kedua, pergeseran orientasi orangtua. Masyarakat hari ini tidak lagi sekadar mencari ijazah. Mereka berburu sekolah yang bisa menjaga iman dan akhlak anak. Sekolah yang mengajarkan ibadah, mengaji, dan budi pekerti. Alasannya sederhana tapi menusuk: orangtua takut. Takut anaknya menjadi korban kerusakan moral dan kenakalan remaja yang hari ini merajalela. Tawuran, narkoba, pornografi, pergaulan bebas. Berita tentang anak sekolah jadi pelaku kriminal sudah jadi konsumsi harian. metrotvnews.com, Jum'at (17/07/2026)

Di tengah kepanikan itu, respon pemerintah hanya satu: regrouping. Menggabungkan beberapa SDN menjadi satu. Kedengarannya efisien. Tapi di lapangan justru menambah masalah baru. Jarak tempuh jadi jauh. Anak SD harus jalan berkilo-kilometer. Biaya transportasi naik. Risiko keselamatan juga naik. Solusi tambal sulam ini justru memperlihatkan kebuntuan berpikir.

Ini Bukan  Sekadar Krisis Murid  

Jika ditelusuri, krisis ini berakar dari tiga kegagalan besar sistem hari ini:

Pertama, kegagalan kebijakan kependudukan dan ekonomi. Program pembatasan kelahiran yang digencarkan bertahun-tahun berhasil menurunkan angka kelahiran. Tapi di sisi lain, kebijakan ekonomi yang gagal membuat biaya hidup mencekik. Kebutuhan dasar mahal, lapangan kerja sulit, masa depan tidak pasti. Hasilnya? Pasangan muda menunda nikah. Yang sudah nikah enggan punya anak. Lahirlah generasi yang menua sebelum sejahtera.  

Kedua, kegagalan pemerataan dan urbanisasi liar. Kesenjangan ekonomi desa-kota memaksa orang berbondong-bondong ke kota. Desa kosong. Sekolah di desa ikut mati. Ini bukan urbanisasi alami, tapi urbanisasi karena terpaksa.  

Ketiga, kegagalan sistem pendidikan sekuler liberal. Ini inti masalahnya. Sikap orangtua yang berbondong lari ke sekolah agama adalah bentuk protes diam-diam. Mereka muak. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sistem sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan kerusakan massal. Kurikulum diganti berkali-kali, anggaran pendidikan digelontorkan, tapi kenakalan remaja, tawuran, bullying, dan kriminalitas anak justru naik.  

Mengapa? Karena sistem ini gagal membentuk manusia. Ia hanya mencetak pekerja dan konsumen. Moral, akhlak, dan ruh agama dicampakkan dari ruang kelas. Yang diajarkan hanya angka dan peringkat. Wajar jika orangtua menarik anaknya. Mereka sadar, menyekolahkan anak di tempat yang tidak menjaga agamanya sama saja menjerumuskan anak ke jurang kerusakan.

Mengubah Sistem, Bukan Sekadar Memindahkan Sekolah  

Masalah ini tidak akan selesai dengan regrouping atau ganti kurikulum lagi. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemik. Dan Islam punya jawabannya:

Pertama, negara wajib menjamin pendidikan sebagai kebutuhan dasar. Dalam Islam, pendidikan bukan komoditas. Ia adalah pilar peradaban dan tanggung jawab negara. Khilafah sebagai institusi pelaksana syariat wajib menjamin ketersediaan pendidikan berkualitas, gratis, dan merata untuk seluruh rakyat tanpa diskriminasi. Tidak ada lagi sekolah yang kekurangan guru, kekurangan buku, atau kekurangan gedung. Semua dibiayai dari baitul mal. Karena mencerdaskan umat adalah kewajiban penguasa.

Kedua, kurikulum harus dibangun di atas akidah Islam. Tujuan pendidikan dalam Islam jelas: mencetak manusia berkepribadian Islam, bertakwa, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan sekadar mengejar ranking dunia.  

Maka, seluruh mata pelajaran akan dipandu oleh akidah. IPTEK diajarkan setinggi-tingginya, tapi tidak diceraikan dari nilai. Anak diajarkan fisika agar bertasbih pada kebesaran Allah. Diajarkan sejarah agar mengambil ibrah. Diajarkan ekonomi agar tidak zalim. Negara juga wajib menyediakan SDM guru yang berkompeten, infrastruktur lengkap, laboratorium, dan sarana penunjang lain agar output-nya bukan hanya pintar, tapi juga shalih.

Ketiga, membangun kesadaran politik umat. Lebih dari itu, umat harus dinaikkan kesadarannya. Jangan berhenti di level "menyelamatkan anak saya saja". Harus naik ke level "menyelamatkan sistem".  

Umat perlu disadarkan bahwa kerusakan moral hari ini bukan karena anaknya nakal atau gurunya malas. Tapi karena sistem sekuler liberal yang sengaja memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang menjadikan materi sebagai tuhan dan kebebasan tanpa batas sebagai berhala.  

Karena itu, dakwah politik menjadi sangat penting. Dakwah yang tidak hanya menyentuh individu, tapi menyasar pemikiran dan perasaan masyarakat. Dakwah yang mengajak umat berpikir: selama sistemnya rusak, maka apapun yang kita lakukan hanya akan jadi pemadam kebakaran.  

Dari kesadaran inilah akan lahir gerakan. Gerakan masyarakat untuk menuntut perubahan. Gerakan untuk mencampakkan sistem sekuler liberal dan menggantinya dengan sistem Islam secara kaffah. Hanya dengan itu, sekolah akan kembali jadi tempat yang aman, guru dihormati, murid berakhlak, dan orangtua tidak perlu lagi ketakutan.

Krisis murid di SDN adalah tamparan. Ia membuktikan bahwa rakyat sudah tidak percaya. Mereka memilih menyelamatkan anaknya sendiri-sendiri. Tapi solusi parsial tidak akan pernah cukup. Menambal sekolah yang kosong atau menambah jam pelajaran agama di sekolah sekuler tidak akan mengubah apa-apa.  

Selama sistemnya masih sekuler, maka kerusakan akan terus berulang. Satu-satunya jalan adalah kembali pada Islam. Menjadikan akidah sebagai dasar pendidikan, negara sebagai penjamin, dan dakwah sebagai penggerak perubahan. Karena mendidik anak bukan hanya soal mengisi kepalanya dengan ilmu. Tapi juga menjaga jiwanya dengan iman. Dan itu hanya bisa terwujud jika sistemnya Islam. Wallahu a'lam bish-shawab.

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,92,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,2,Depok,1,Dharmasraya,31,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,239,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,214,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,203,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,755,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,4,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,5,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,658,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Bangkrutnya Sekolah Negeri: Saat Orangtua Lari dari Sistem Sekuler Liberal
Bangkrutnya Sekolah Negeri: Saat Orangtua Lari dari Sistem Sekuler Liberal
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW5xEf4EZ55g-AhhheqKea-XYR8lPnM3h6hZmZ9LgMFH0nDe0JmL60phVOqEXO4pIjARGeT0FqS5z7rATMWP716acTfkO24hx3k5exAkWVH8H3qDpW9upzfkwrbMlM35IFX9spvZVZTcbANCe6ZNIgWt4ooQc_xbPANdlH61O2wj3lPVJExzRzzWHlTvN2/s320/WhatsApp%20Image%202026-07-23%20at%2011.48.32.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW5xEf4EZ55g-AhhheqKea-XYR8lPnM3h6hZmZ9LgMFH0nDe0JmL60phVOqEXO4pIjARGeT0FqS5z7rATMWP716acTfkO24hx3k5exAkWVH8H3qDpW9upzfkwrbMlM35IFX9spvZVZTcbANCe6ZNIgWt4ooQc_xbPANdlH61O2wj3lPVJExzRzzWHlTvN2/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-07-23%20at%2011.48.32.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/07/bangkrutnya-sekolah-negeri-saat.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/07/bangkrutnya-sekolah-negeri-saat.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content