Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S. T
Aktivis Muslimah
Pernahkah merenungkan apa yang sedang terjadi di bumi syam hari ini? Sementara perhatian dunia dialihkan oleh janji-janji kosong komite internasional dan drama meja perundingan, sebuah skenario besar bin mengerikan sedang berjalan di depan mata. Ambisi mewujudkan "Israel Raya" (The Greater Israel).
Ini bukan teori konspirasi melainkan proyek penjajahan berdarah yang bergerak sistematis untuk menghancurkan Gaza, mencaplok Tepi Barat, dan merebut Al-Aqsa dari tangan umat Islam.
Tiga fakta pahit yang tidak boleh diabaikan.
Mari membuka mata lebar-lebar terhadap realitas di lapangan:
1. Gencatan Senjata Hanya Ilusi
Entitas zionis terus saja membombardir Gaza tanpa peduli pada seruan damai internasional. Bahkan sehari setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan, rudal-rudal mereka tetap menyalak, merenggut nyawa warga sipil. Mereka secara masif membangun pos-pos militer baru di dalam Gaza—sebuah bukti nyata bahwa mereka berniat menjajah wilayah itu secara permanen.
2. Di Tepi Barat, ribuan unit permukiman ilegal Yahudi terus dibangun dan diperluas. Skenario besarnya sangat licik untuk menguasai dan merampas hingga 70% wilayah tanah Palestina. Warga lokal diusir, rumah mereka dirobohkan, dan tanahnya diserahkan kepada para pemukim zionis.
3. Penodaan Terbuka terhadap Al-Aqsa
Suatu hal yang paling menyakitkan bagi dada setiap muslim, bendera zionis kini dengan congkak dikibarkan di kompleks Masjid Al-Aqsa. Ini bukan sekadar aksi provokasi biasa, namun simbol deklarasi bahwa mereka merasa telah mengalahkan umat Islam dan siap merebut hak urus kiblat pertama dari tangan kaum muslimin.
Mengapa Penderitaan Ini Tak Kunjung Usai?
Semua kebiadaban, genosida, dan hilangnya lebih dari 9.500 nyawa warga Palestina yang tak berdosa adalah bukti nyata bahwa entitas zionis yaitu sumber kerusakan terbesar di muka bumi saat ini. Namun, mengapa mereka bisa seberani itu?
Pertama, karena mereka disokong penuh oleh negara adidaya seperti Amerika Serikat. AS tidak hanya menyuplai senjata, tetapi juga menjalankan peran diplomatik yang sangat manipulatif.
Mereka terus menjajakan ilusi "Solusi Dua Negara" (Two-State Solution). Celakanya, penguasa negeri-negeri muslim ikut bersekongkol dan menyambut solusi cacat ini, padahal itu sama saja dengan melegitimasi keberadaan penjajah di atas tanah kharaj milik umat Islam.
Kedua, karena pengkhianatan penguasa muslim dan sekat nasionalisme. Mengapa jutaan tentara di negeri-negeri muslim di sekeliling Palestina hanya menjadi penonton? Mengapa tank-tank mereka berkarat di barak sementara bayi-bayi di Gaza hancur tertimpa reruntuhan? Karena para penguasa mereka terbelenggu oleh sekat nasionalisme. Mereka merasa urusan Palestina bukanlah urusan mereka, selama perbatasan negara masing-masing aman.
Saatnya Bergerak dengan Cara Islam!
Ambisi "Israel Raya" tidak akan bisa dihentikan hanya dengan retorika kutukan, bantuan kemanusiaan, atau doa di atas sajadah semata. Kebatilan yang terorganisir dengan kekuatan militer harus dilawan dengan kekuatan militer yang jauh lebih besar dan bersatu.
Islam telah memberikan institusi nyata untuk mewujudkan persatuan tersebut yaitu:
1. Menghapus Sekat Nasionalisme
Kepemimpinan Islam akan melebur dinding-dinding pembatas artifisial yang selama ini memecah belah negeri-negeri muslim. Ketika umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan yang hakiki, pengkhianatan para penguasa sekuler yang hari ini menjadi antek barat bisa dihentikan seketika.
2. Mengirimkan Tentara untuk Jihad Pembebasan
Di bawah sistem Islam, seorang Khalifah tidak akan mengirimkan nota protes atau kecaman tak berguna ke PBB. Sebagai pemimpin tertinggi umat, Khalifah memegang tanggung jawab syar'i untuk memobilisasi institusi militer dan mengirimkan pasukan kaum muslimin untuk memerangi entitas zionis serta mengirimkan Tentara untuk Jihad Pembebasan
Di bawah sistem Islam, seorang Khalifah tidak akan mengirimkan nota protes atau kecaman tak berguna ke PBB. Sebagai pemimpin tertinggi umat, Khalifah memegang tanggung jawab syar'i untuk memobilisasi institusi militer dan mengirimkan pasukan kaum muslimin untuk memerangi entitas zionis serta mengirimkan tentara untuk jihad pembebasan
Di bawah sistem Islam, seorang Khalifah tidak akan mengirimkan nota protes atau kecaman tak berguna ke PBB. Sebagai pemimpin tertinggi umat, Khalifah memegang tanggung jawab syar'i untuk memobilisasi institusi militer dan mengirimkan pasukan kaum muslimin untuk memerangi entitas zionis serta membebaskan tanah Palestina secara total.
3. Menjadikan Perjuangan Ini Prioritas Utama
Oleh karena itu, perjuangan untuk menegakkan kembali sistem Islam tidak boleh dianggap sebagai agenda sampingan. Ini adalah prioritas utama dan urgen bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Daulah Islam adalah satu-satunya perisai yang akan mengembalikan izzah (kemuliaan) Islam dan melindungi darah kaum muslimin.
Sampai kapan kita mau terus menyaksikan saudara kita dizalimi sementara kita hanya bisa mengelus dada? Pilihan ada di tangan kita hari ini, terus percaya pada dongeng perdamaian kapitalisme global yang terbukti gagal, atau kembali pada syariat Allah dengan memperjuangkan institusi yang mampu menyatukan kekuatan umat.
Sudah saatnya kita membuka pemikiran, merapatkan barisan, dan menyuarakan solusi hakiki ini. Karena Palestina tidak butuh air mata kita; Palestina butuh kepemimpinan dan pasukan kaum muslimin yang bergerak di bawah panji Islam yang berdaulat.
Wallahu a’lam bi ash-shawaab.
.jpeg)