Hardiknas 2026: Ketika Pendidikan Tak Lagi Mencerdaskan

 


Oleh Amelia Ayu Permatasari S S.Psi

Aktivis Muslimah

 

Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan penuh seremoni—pidato, upacara, dan berbagai slogan optimistis tentang masa depan generasi bangsa. Namun, di balik perayaan itu, realitas dunia pendidikan justru menunjukkan wajah yang kian buram dan memprihatinkan. Hardiknas seolah berubah menjadi rutinitas simbolik, bukan momentum refleksi yang sungguh-sungguh menggugah perbaikan.

Fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang melibatkan pelajar dan mahasiswa terus meningkat, menandakan bahwa sekolah dan kampus tak lagi sepenuhnya menjadi ruang aman. Di sisi lain, praktik kecurangan seperti menyontek, penggunaan joki dalam ujian seperti UTBK, hingga budaya plagiat semakin mengakar di berbagai jenjang pendidikan. Ini bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi cerminan rapuhnya integritas.

Lebih mengkhawatirkan lagi, peredaran narkoba telah merambah kalangan pelajar dan mahasiswa. Generasi yang seharusnya menjadi harapan bangsa justru terjerat dalam lingkaran destruktif. Relasi antara murid dan guru pun mengalami degradasi. Kasus pelajar yang menghina guru, bahkan melaporkan hingga memenjarakan guru karena tindakan disipliner, menunjukkan runtuhnya wibawa pendidikan dan krisis adab yang serius.

Situasi ini semestinya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Hardiknas harus dimaknai sebagai momentum evaluasi total terhadap arah pendidikan nasional. Jika berbagai penyimpangan ini terus terjadi, maka ada yang keliru secara mendasar dalam sistem yang berjalan.

Salah satu persoalan krusial adalah kegagalan dalam implementasi arah dan peta jalan pendidikan. Alih-alih melahirkan insan intelektual yang beradab, sistem yang ada justru cenderung menghasilkan individu dengan kepribadian yang rapuh—terjebak dalam pola pikir sekuler, liberal, dan pragmatis. Pendidikan kehilangan ruhnya sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, dan tereduksi menjadi sekadar alat meraih kesuksesan material.

Lebih jauh, sistem pendidikan yang berkelindan dengan nilai-nilai kapitalistik mendorong lahirnya mentalitas instan. Kesuksesan diukur dari hasil, bukan proses. Tak heran jika sebagian pelajar memilih jalan pintas—mencontek, menggunakan joki, atau bahkan terlibat dalam aktivitas ilegal—demi mencapai tujuan. Dalam lanskap seperti ini, kejujuran dan kerja keras menjadi nilai yang kian terpinggirkan.

Di sisi lain, pendekatan hukum terhadap pelajar yang melakukan pelanggaran cenderung longgar. Banyak tindakan kriminal yang dipandang sebagai “kenakalan remaja” semata, sehingga tidak memberikan efek jera yang memadai. Kondisi ini berpotensi menormalisasi perilaku menyimpang dan memperlebar ruang pelanggaran.

Tak kalah penting, minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang kuat dalam sistem sekuler turut memperparah keadaan. Ketika kebebasan tidak diimbangi dengan landasan moral yang kokoh, maka yang muncul adalah krisis identitas dan mudahnya generasi muda terseret dalam arus kejahatan dan kemaksiatan.

Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki posisi yang sangat fundamental dan menjadi tanggung jawab negara untuk menjaminnya secara optimal. Sistem pendidikan yang berlandaskan akidah bertujuan membentuk insan kamil—manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bertakwa dan berintegritas. Dengan fondasi ini, kecurangan bukan hanya pelanggaran aturan, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai keimanan.

Pendidikan dalam Islam menitikberatkan pada pembentukan syakhsiyah islamiyah, yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap. Ilmu tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi terinternalisasi dalam perilaku. Inilah yang melahirkan pribadi yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab.

Selain itu, Islam juga menetapkan sistem sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan, tanpa mengabaikan aspek keadilan. Penegakan hukum yang konsisten diyakini mampu memberikan efek jera sekaligus menjaga tatanan masyarakat. Dalam suasana yang dibangun di atas ketakwaan, setiap individu terdorong untuk berlomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan demi kepentingan pribadi.

Lebih luas lagi, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga oleh sinergi antara keluarga, lingkungan, dan negara. Ketiganya harus berpijak pada nilai akidah dan syariat sebagai landasan bersama. Tanpa itu, pendidikan akan kehilangan arah dan gagal membentuk generasi yang tangguh.

Hardiknas 2026 seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk bertanya dengan jujur: apakah pendidikan kita masih mencerdaskan, atau justru kehilangan arah? Jika berbagai krisis ini terus dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas pendidikan, tetapi masa depan bangsa itu sendiri.

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,86,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,17,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,10,Jakarta Selatan,1,KAI,190,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,3,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,199,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,190,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,622,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,82,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,3,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,629,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Hardiknas 2026: Ketika Pendidikan Tak Lagi Mencerdaskan
Hardiknas 2026: Ketika Pendidikan Tak Lagi Mencerdaskan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEid21TwRGIIEVYG2PxsZtrXWf2pXEZMy-hTw3UO-y3jvKAQTaUHBvUDdQ2Z-hoh1G3djghodLqnK_7WlTASdgekf2Tzr4inqRCfWRaKNHwNkvE0C64yPisvKHaXx0vf7N786IusKCIGw_CB2BDQBG2dZtb2Btop1Xf_B174xpdNK3487_NT_jhESOtWUNaX/s320/WhatsApp%20Image%202026-04-29%20at%2009.46.07.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEid21TwRGIIEVYG2PxsZtrXWf2pXEZMy-hTw3UO-y3jvKAQTaUHBvUDdQ2Z-hoh1G3djghodLqnK_7WlTASdgekf2Tzr4inqRCfWRaKNHwNkvE0C64yPisvKHaXx0vf7N786IusKCIGw_CB2BDQBG2dZtb2Btop1Xf_B174xpdNK3487_NT_jhESOtWUNaX/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-04-29%20at%2009.46.07.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/05/hardiknas-2026-ketika-pendidikan-tak.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/05/hardiknas-2026-ketika-pendidikan-tak.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content