Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Pemerhati Generasi
Pernah nggak sih, pas lagi asyik scrolling atau pas lagi pusing ngerjain tugas, tiba-tiba muncul pertanyaan di kepala, "Sebenarnya, buat apa sih kita sekolah?". Apalagi di zaman serba digital sekarang, rasanya semua jawaban sudah ada di genggaman. Mau cari jawaban PR? Ada internet. Nggak paham rumus? Tinggal cari tutorial. Perlu bantuan nyusun tugas? Ada AI yang siap sedia. Kalau semua bisa dicari sendiri, apakah sekolah masih relevan buat kita?.
Banyak dari kita yang tanpa sadar terjebak dalam rutinitas, datang pagi, duduk manis di kelas, ngerjain tugas, ujian, lalu pulang. Akhirnya, sekolah cuma dipandang sempit sebagai tempat berburu nilai, ranking, dan ijazah demi masa depan dunia kerja. Sayang banget, kan?
Sekolah Bukan Sekadar "Tempat Download"
Kalau tujuannya cuma pindahin informasi dari guru ke murid, mungkin internet memang pemenangnya. Google lebih cepat dan AI lebih praktis dalam mengolah data. Tapi ingat, teman-teman, manusia nggak cuma butuh data untuk hidup. Kita butuh arah, dan arah itu nggak bisa lahir dari sekadar data mesin.
Sekolah seharusnya bukan tempat "download ilmu". Di sekolah, kita belajar hal-hal yang nggak tertulis di rapor yaitu tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, hingga cara sabar menghadapi berbagai karakter orang. Ilmu sejati itu bukan cuma apa yang memenuhi kepala, tapi apa yang membentuk hati dan perilaku kita.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa ilmu yang berkah adalah ilmu yang membimbing kita makin dekat kepada Allah, bukan yang membuat kita sombong. Allah pun berfirman: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (TQS. Az-Zumar: 9).
Orang berilmu bukan cuma yang hafalannya banyak, tapi yang punya komitmen untuk selalu memilih jalan yang benar.
AI Memberi Jawaban, Guru Menunjukkan Jalan
Teknologi memang canggih, tapi mesin tidak punya jiwa. AI bisa kasih jawaban, tapi ia nggak bisa kasih teladan. Internet punya tutorial, tapi nggak punya ketulusan untuk mendidik. Di sinilah peran guru nggak akan pernah tergantikan. Guru adalah penjaga hati yang membantu kita tumbuh menjadi manusia yang siap menghadapi hidup.
Dalam Islam, adab itu lebih utama daripada ilmu. Abdullah ibn al-Mubarak pernah berkata, “Kami belajar adab tiga puluh tahun, lalu belajar ilmu dua puluh tahun”. Pintar saja nggak cukup kalau nggak punya hati dan akhlak. Di era AI ini, kita justru makin butuh bimbingan guru agar kepintaran kita nggak membuat kita tersesat atau salah jalan.
Ijazah Bisa Dicetak, Karakter Harus Ditempa
Teman-teman, jangan anggap sekolah cuma jalur formal menuju ijazah. Karakter jauh lebih penting daripada selembar kertas. Pendidikan sejati itu membentuk manusia yang punya misi hidup mencari berkah, bukan sekadar menyiapkan pekerja yang cari nafkah.
Menuntut ilmu itu adalah ibadah. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Jadi, kalau ditanya lagi "Buat apa sekolah?" jawabannya jelas adalah kita sekolah untuk belajar menjadi manusia seutuhnya. Kita sekolah untuk mencari cahaya ilmu dan membangun karakter yang kuat agar bisa menjadi agen perubahan yang bermanfaat bagi umat.
Yuk, luruskan niat lagi. Tetap semangat sekolah, tetap semangat belajar. Tanpa tapi, tanpa nanti. Gas!
.jpeg)