Oleh Alya Nur Amira Az-zahra
Aktivis Pelajar Insantama Malang
Dalam
kehidupan bermasyarakat citra sering kali dianggap aset terpenting dalam
kehidupan yang harus dijaga. Tidak sedikit orang yangberusaha menampilkan diri
sebagai sosok yang baik, benar, dan layak mendapat pujian. Namun, ketika
menjaga citra menjadi tujuan utam, ini yang membuatnya berbahaya, Karena
kebenaran kerap dikorbankan dalam hal ini. Demi mempertahankan nama baik sering
kali banyak masyarakat yang merusak nama orang lain dihadapan orang lain, dan
lebih parahnya lagi sebagian besar orang memilih untuk mentup nutupi fakta,
mengalihkan kesalahan ke orang lain, bahkan menyebarkan fitnah kepada pihak
lain demi menjaga citra dirinya. Hal ini mudah ditemukan di tengah masyarakat
saat ini karena adanya budaya yang menempatkan pengakuan social sebagai ukuran
keberhasilan. Penilaian manusia sealan akan menjadi sesuatu yang harus
dipertahankan dengan segala cara, tidak peduli dengan cara yang baik atau
buruk. Bahanya hal ini bisa mengakibatkan, rasa takut kehilanhan reputasi dan
keinginan untuk terus memperoleh validasi dapat mendorong seseorang melakukan
tindakan yang tidak jujur. Dalam kondisi ini, fitnah tidak lagi dipandang
sebagai perbuatan tercela, melainkan menjadi alat untuk melindungi citra diri.
Padahal,
citra yang dibangun atas dasar kebohongan tidak akan pernah bertahan lama.
Kebenaran mungkin dapat disembunyikan untuk sementara waktu, tetapi pada
kebenaran akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk terungkap. Oleh karena
itu, sudah sepatutnya kita menempatkan kejujuran di atas keinginan untuk dipuji dan diterima oleh
lingkungan sekitar. Sebab, menjaga nama baik tidak seharusnya dilakukan dengan
merusak nama baik orang lain.
Islam
juga sudah mengajarkan bahwasannya kebenaran harus disempatkan di atas
kepentingan pribadi maupun penilaian manusia. Sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan
ucapkanlah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70).
Ayat tersebut menegaskan
bahwa seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga kejujuran dalam setiap ucapan.
Oleh karena itu, menyebarkan fitnah demi mempertahankan citra atau memperoleh
simpati orang lain merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai
Islam. Seseorang mungkin dapat menjaga reputasinya di hadapan manusia, tetapi
ia tidak akan mampu menyembunyikan kebenaran dari Allah Swt. yang Maha
Mengetahui segala sesuatu.
Selain itu, Allah juga
memperingatkan agar tidak mengikuti prasangka dan tuduhan yang tidak memiliki
dasar yang jelas. Sebab, fitnah tidak hanya merugikan korban yang difitnah,
tetapi juga merusak pelaku yang sengaja menyebarkannya. Ketika validasi manusia
dijadikan tujuan utama, seseorang dapat kehilangan keberanian untuk mengakui
kesalahan dan memilih jalan yang tidak jujur demi mempertahankan pandangan baik
orang lain terhadap dirinya.
Pada akhirnya, yang
perlu kita jaga bukanlah citra di mata manusia, melainkan kejujuran di hadapan
Allah Swt. Sebab, tidak ada manfaatnya terlihat baik jika harus merusak nama
baik orang lain. Ketika kebenaran dikalahkan oleh keinginan untuk dipuji dan
divalidasi, fitnah akan terus menemukan tempatnya. Karena itu, sudah saatnya
kita menempatkan kebenaran di atas citra, serta menjadikan kejujuran sebagai
ukuran kehormatan yang sesungguhnya.
