Oleh Aizarafafa
Penggiat Literasi
Belum reda kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh 16 mahasiswa FHUI, warganet di X dihebohkan dengan potongan video himpunan mahasiswa ITB. Sekelompok mahasiswa bernyanyi dan berdansa diiringi lagu berjudul “Erika”. Lirik lagu dibuat oleh Orkes Semi Dangdut Himpunan Mahasiswa Tambang ITB tahun 2020 ini menuai kecaman keras. Liriknya dinilai vulgar mengobjektifikasi perempuan. Dan mungkin masih banyak kasus yang sama di kampus-kampus lain yang belum terungkap.
Fenomena ini bukan sekadar hiburan yang kebablasan, tetapi cerminan krisis adab. Ketika perempuan dijadikan objek, ketika batas-batas dilanggar, maka yang hilang bukan hanya rasa hormat, tetapi juga rasa aman.
Allah Swt. telah memberi peringatan yang jelas: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” QS. An-Nur: 30
“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” QS. An-Nur: 31
Menundukkan pandangan bukan hanya soal mata, tetapi juga menjaga hati, pikiran, dan perilaku. Ketika ini diabaikan, maka pelecehan baik dalam bentuk kata, candaan, maupun tindakan akan dianggap biasa.
Pola pikir membentuk pola sikap. Dalam Islam, syakhsiah lahir dari cara pandang yang benar, lalu tampak dalam perilaku yang menjaga batas dan kehormatan. Ketika pola pikir dibangun di atas iman dan adab, maka sikap pun akan mencerminkan kemuliaan. Dan ini bukan hanya tanggung jawab individu. Negara ini memiliki kewajiban untuk menjamin keamanan dan kehormatan setiap warga.
Sistem yang baik dan tegas, perlindungan yang nyata, serta penegakan hukum yang adil adalah bagian dari amanah yang tidak boleh diabaikan. Sudah saatnya dunia pendidikan kembali pada tujuan sejatinya; membentuk manusia yang berilmu sekaligus beradab. Karena tanpa adab, ilmu justru bisa melukai.