Pendidikan Sekuler Melahirkan Generasi "Niradab"

 


Oleh Sumiyah Umi Hanifah

Pemerhati Kebijakan Publik dan Member AMK

Sebuah pepatah mengatakan, "Adab dahulu sebelum ilmu" yang artinya menuntut ilmu harus diawali dengan mengamalkan akhlak mulia, adab, dan etika terhadap guru, bukan sekadar mengejar ilmu semata.

Namun sayangnya, nasihat yang utama ini seolah tidak berlaku lagi. Banyaknya kasus pelecehan yang terjadi di dunia pendidikan kita, menggambarkan rusaknya moral/etika generasi saat ini.

Belum hilang dari ingatan kita, yakni kabar tak sedap dari dunia kampus yang menyeret belasan orang mahasiswa ke ranah hukum terkait dengan kasus pelecehan verbal. Menyusul kini kabar serupa tapi tak sama, yang dilakukan oleh para siswa SMA di Purwakarta. Mereka melakukan perbuatan "niradab" terhadap guru di ruang kelas. Dalam tayangan video yang beredar luas di media sosial (medsos), tampak para siswa mengejek dan melakukan gestur tubuh mengacungkan jari tengah kepada guru mereka. detikjabar.com, (Sabtu, 18/04/2026)

Perbuatan tidak terpuji para siswa SMA ini langsung menuai kecaman dari berbagai kalangan, karena dinilai merendahkan martabat serta wibawa seorang pendidik (guru). Yang mana keberadaan seorang guru seharusnya dihormati dan dimuliakan. Dalam kasus ini pihak sekolah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari kepada para pelaku. Menurut Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) sanksi yang jatuhkan tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. KDM memberikan usulan, agar bentuk hukuman lebih edukatif dan bisa berdampak langsung pada perubahan perilaku yang bersangkutan.

Banyaknya peristiwa pelecehan terhadap guru di lingkungan pendidikan, mencerminkan telah terjadi krisis moral pada generasi. Semua ini diakibatkan karena diterapkannya sistem sekuler-liberal yang mengabaikan adab/etika kepada guru. Para siswa tidak lagi memandang guru sebagai sosok mulia yang harus dijaga kewibawaannya. Padahal, seorang guru terkadang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan hartanya, demi kesuksesan anak didiknya.

 

Sistem sekuler bermakna memisahkan agama dari kehidupan. Ajaran agama tidak mendapatkan posisi yang utama bagi masyarakat, hanya sebagai aktivitas ritual yang diterapkan di dalam masjid-masjid saja. Adapun dalam kehidupan umum seperti di sekolah, tempat perbelanjaan, kantor-kantor, dll ajaran agama ditinggalkan. Norma agama dibuang jauh-jauh dari kehidupan. Generasi saat ini memilih gaya hidup ala Barat yang jauh dari nilai-nilai Islam. Sopan santun dan etika terhadap guru juga lambat laut tergerus oleh pemikiran liberal, yang mengadopsi paham kebebasan.

Tindakan pelecehan, kekerasan, serta perbuatan niradab terhadap guru yang makin marak akhir-akhir ini, dipengaruhi oleh pemikiran sekuler-liberal yang melegalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Gaya hidup remaja (Gen Z dan Gen Alpa) seringkali hanya mementingkan "viralitas" dan keren-kerenan, alias ingin tampak menonjol di hadapan teman-temannya, sehingga tidak lagi memikirkan martabat guru.

Para pakar menilai peristiwa melecehkan guru di sekolah menunjukkan bahwa wibawa guru (pendidik) mulai lemah di mata siswanya. Pertanyaannya, mengapa para siswa (pelaku) yang notabene berusia remaja itu berani melakukan tindakan demikian?

Apakah karena selama ini sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada pelaku terlalu ringan? atau karena posisi guru yang lemah. Tidak jarang ketika seorang guru menegur murid, maka sang guru tersebut justru yang akan diperkarakan. Sebagaimana kasus-kasus yang santer diberitakan di media sosial.

Seharusnya, kasus-kasus semacam ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah. Sebab, pihak pemerintah selama ini seringkali menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila", namun pada kenyataannya program tersebut masih "jauh panggang dari api", alias baru sekadar formalitas administratif di atas kertas. Program yang keluar dari sistem batil ini terbukti gagal dalam membentuk karakter generasi muda yang berkepribadian mulia. Alih-alih mewujudkan generasi emas, yang ada justru sebaliknya, sistem sekuler telah melahirkan generasi niradab.

Inilah watak asli sistem sekuler yang berasaskan paham liberal (paham kebebasan). Segala perbuatan tidak diukur sesuai standar halal haram, melainkan mengikuti hawa nafsu manusia.

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam, yang dibangun berlandaskan akidah Islam. Para pelajar dan mahasiswa akan dididik dengan kurikulum berbasis akidah Islam yang sesuai dengan syariat Islam, sehingga mereka memiliki kepribadian Islami, pola pikir dan pola sikap yang mulia. Mereka menempatkan adab terlebih dahulu sebelum mengejar ilmu.

Negara juga berkewajiban menyaring konten digital yang berpotensi merusak moral generasi, seperti: foto/tayangan yang menampilkan kekerasan, pelecehan, serta pembangkangan, dll. Sebab apa yang dilihat/ditonton oleh mereka yang lemah imannya, secara tidak langsung akan dianggap sebagai "tuntunan". Penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan, secara tidak langsung akan menjaga akidah umat tetap kokoh.

Selain itu, dalam sistem Islam para pelaku kejahatan dan semua perbuatan yang melanggar syariat Islam akan mendapatkan sanksi yang tegas dari khalifah (kepala negara). Kebijakan yang tegas ini dimaksudkan agar hukuman di tengah masyarakat berfungsi sebagai "jawabir" (penebus dosa bagi pelaku) dan "zawajir" (pencegah bagi orang lain agar tidak melakukan pelanggaran syariat yang serupa).

Hukum atau sanksi di dalam sistem Islam senantiasa mengutamakan asas keadilan dan sesuai dengan syariat Allah Swt, yakni berpedoman kepada kitabullah dan as-sunah.

Firman Allah,

"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (T.Q.S. An-Nisa: 65)

Islam memosisikan guru sebagai sosok yang mulia. Dalam sistem khilafah Islamiyah, para guru mendapatkan apresiasi serta penghargaan tinggi dari negara. Ini dibuktikan dengan pemberian gaji tinggi (penghidupan yang sangat layak) kepada para pendidik, sehingga wibawa mereka terjadi di mata murid dan masyarakat umum. Istilah "pahlawan tanpa tanda jasa" tidak berlaku di dalam negara yang menerapkan syariat Islam.

 

Dalam sistem Islam, para guru tidak dipusingkan dengan urusan mencari nafkah tambahan, sehingga mereka bisa fokus mendidik dan membina para siswa. Sebaliknya, para siswa yang dibina dengan kurikulum Islam akan mudah dibentuk menjadi insan mulia yang menguasai sains dan teknologi, serta berkepribadian mulia. Sebagaimana pada masa kekhalifahan Abbasiyah banyak muncul ilmuwan terkemuka di dunia, yang lahir dari sistem Islam.

Wallahualam bissawab.

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,86,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,17,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,10,Jakarta Selatan,1,KAI,190,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,3,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,199,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,190,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,622,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,82,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,3,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,629,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Pendidikan Sekuler Melahirkan Generasi "Niradab"
Pendidikan Sekuler Melahirkan Generasi "Niradab"
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd8C1V0w3yJFAEuG07T3bHDDilBldFKnd4eEnbbNg_hXupngOYt5ob6XQPd7S3GDYBlvtFSTEj_6VLWt3tLhg12gBcer4h-Ed92bnnUYrU2AB24WIuBfS2IeiZuUErKmfiMttG0KZH0TmnB4Odyj_mT_KkExoetKt8uDJ0QY9KQkc5ccfbFvBfQVfzI3kM/s320/MBA%20SUMIYAH-3.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd8C1V0w3yJFAEuG07T3bHDDilBldFKnd4eEnbbNg_hXupngOYt5ob6XQPd7S3GDYBlvtFSTEj_6VLWt3tLhg12gBcer4h-Ed92bnnUYrU2AB24WIuBfS2IeiZuUErKmfiMttG0KZH0TmnB4Odyj_mT_KkExoetKt8uDJ0QY9KQkc5ccfbFvBfQVfzI3kM/s72-c/MBA%20SUMIYAH-3.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/04/pendidikan-sekuler-melahirkan-generasi.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/04/pendidikan-sekuler-melahirkan-generasi.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content